Arsip Kategori: Spektrum

Momentum Polri Lebih Dekat dengan Rakyat

PAMEKASAN HEBAT – Pada tanggal 1 Juli 2020 ini, Polri memperingati Hari Bhayangkara Ke-74. Hari Bhayangkara, sebenarnya bukan merupakan Hari Ulang Tahun (HUT) atau terbentuknya Polri. Akan tetapi merupakan hari Kepolisian Nasional yang merujuk pada turunnya Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1946.

Peraturan ini menyatukan kepolisian yang semula terpisah sebagai kepolisian daerah, menjadi satu kesatuan nasional dan bertanggung jawab secara langsung pada pimpinan tertinggi negara, yakni Presiden. Nama Bhayangkara sendiri sebenarnya merupakan istilah yang digunakan Patih Gadjah Mada dari Majapahit untuk menamai pasukan keamanan yang ditugaskan menjaga raja dan kerajaan kala itu. Lanjutkan membaca Momentum Polri Lebih Dekat dengan Rakyat

Bencana Melahirkan Optimisme

Bupati Pamekasan bersama salah seorang tokoh ulama Pamekasan dalam sebuah kesempatan.

Oleh: Baddrut Taman
PAMEKASAN HEBAT – Ramadhan tahun ini, sungguh berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Umat Islam Indonesia, bahkan muslim di seluruh dunia, menjalankan ibadah puasa ditengah pandemi global, penyebaran Coronavirus disease (COVID-19). Karena itulah, wujud kegembiraan menyambut Ramadhan tahun sebelumnya, seperti tarawih di masjid dan langgar, tadarrus maupun musik patrol keliling, tidak lagi terjadi pada Ramadhan kali ini.

Hal itu, bukan karena kita meragukan ketetapan taqdir Alla, karena kecepatan penularan COVID-19 ini dapat menimpa siapa saja dan kapan saja. Akan tetapi, kiat sedang menghindari taqdir Allah yang satu, pergi pada taqdir Allah yang lainnya, seperti dilakukan Amirul Mukminin Sayidina Umar Bin Khattab, ketika memutuskan menghindari Kota Syam yang sedang dilanda wabah penyakit.

Lalu, apakah hikmah yang bisa kita ambil dari mewabahnya COVID-19 disaat kita menjalankan ibadah puasa ini?. Adalah Imam Syafi’i yang pernah mengomentari surat Al Ashr, dengan sangat optimis Imam Syafi’i berkata; Seandainya tidak ada Alquran, lalu hanya ada Surat Al Ashr, maka itu sudah cukup. Sebabnya, Surat Al Ashr mengajarkan tentang tiga hal yang demikian urgen dalam kehidupan setiap muslim. Ketiganya adalah iman, amal saleh dan saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran. Surat Al Ashr ini merupakan spirit penting, dimana keimanan kita pada kadar tertentu harus diiringi dengan pesan-pesan untuk menegakkan kebenaran dan kesabaran.

Sabar dan berkata benar adalah dua hal esensi ketika sebuah wabah penyakit melanda. Ketika Nabi Ayub dilanda penyakit, beliau tak hanya sabar ketika diuji beragam cobaan, tapi juga harus berkata benar kepada istrinya, satu-satunya pendampingnya yang masih ada saat itu. Musibah Corona ini mirip dengan apa yang dialami Nabi Ayub, yaitu sebuah musibah yang tidak hanya berupa penyakit namun juga keterpurukan ekonomi dan hilangnya sebuah sejarah keluarga. Ayub tak hanya sakit, tapi beliau juga diuji kemerosotan ekonomi berupa hilangnya harta-hartanya dan wafatnya putra-putranya. Di akhir perjalanan sakit beliau ada ujian dari istrinya berupa keputusasaan sang istri atas penyakit Nabi Ayub.

Namun, apakah Ayub luluh. Ternyata tidak, Ayub mampu menjalani ujian pahit itu dengan sangat baik. Di kemudian hari, kesabarannya menjadi pepatah tentang keteladanan kesabaran berupa kalimat “kesabarannya seperti kesabarannya Ayub”.

Setelah kesulitan maka datanglah kemudahan. Setelah musibah yang menjemukan, apa yang didapat Ayub. Ternyata Tuhan membalasnya dengan kebaikan berlipat. Quran Surat Shad ayat 41-44 melukiskan bagaimana Tuhan membalas kesabaran Ayub dengan obat, harta dan keluarga yang lebih banyak serta insyafnya sang istri.

Bencana memang harus melahirkan optimisme dan semangat untuk menasihati dalam kebenaran. Wabah COVID-19 ini juga memiliki korelasi dengan situasi kita hari ini. Di tengah beragam persoalan yang muncul sejak masalah ritual sampai ekonomi, kita memang harus terus berkata benar. Bukankah kita dihadapkan saat ini pada kondisi nyinyir sebagian kecil masyarakat kita terhadap anjuran MUI dan Pemerintah dalam soal ibadah. Bukankah kita menjumpai bertebarannya hoaks tentang corona, dimana kita harus menyampaikan kebenaran sebenar-benarnya, sejauh yang kita pahami. Beragam hoaks yang menjangkiti masyarakat kita akhirnya pada tataran tertentu melahirkan satu sikap kritis agar kita mau aktif dalam menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Optimisme itu perlu dibangun dengan satu sikap positif thinking. seorang muslim yang berpengetahuan, pasti punya pikiran positif atas segala musibah. Karena ujian berupa penyakit tak hanya menimpa muslim saja, tapi juga semua manusia bahkan sekelas nabi seperti Ayub. Faktanya, manusia memang tidak ada yang hidupnya senang terus atau susah terus. kebahagiaan dan derita datang silih berganti. Maka, dengan cara berpikir yang sederhana, kita hanya menyajikan satu hal saja dalam benak kita. Corona suatu saat akan berlalu seperti halnya bencana bencana lainnya.

Betapa pentingnya kita bersabar dalam kurun musibah ini. Bersabar dan berkata benar pada dasarnya merupakan salah satu kunci untuk mendatangkan kebahagiaan. Imam Ghazali berkata dalam salah satu Bab dalam Ihya’ Ulumuddinnya, bahwa kebahagiaan akan diraih sempurna jika seseorang bisa mengendalikan dirinya sendiri, dan kesengsaraan akan terjadi ketika seseorang dikuasai nafsunya sendiri. Bersabar dan berkata benar adalah kunci untuk mengekang hawa nafsu. Ramadhan adalah momentum dimana kesabaran dan kebenaran itu dipertunjukkan dalam panggung ritualisme kita.

Dibalik semua musibah, Tuhan telah menyiapkan banyak skenario kebaikan, yang bahkan mungkin akal kita tak bisa menjangkaunya. Banyak hikmah yang akan didapat seorang muslim manakala dia mau bermuhasabah atas pandemic global ini. Seorang muslim pasti akan menyadari bahwa beginilah takdir Allah berlaku, jika Yang Maha Besar berkehendak. Seorang muslim yang baik pasti akan berfikir bahwa musibah global ini akan menunjukkan, bahwa ada orang yang bersyukur dan bersabar, pun sebaliknya, ada orang yang yang kurang bersyukur dan tidak sabar atas musibah yang diberikan Allah.

Muslim yang cermat juga akan melihat dengan hati bersih, bahwa dunia adalah miniatur akhiratnya kelak. Kebahagiaan dan kesengsaraan hidup yang dialaminya, adalah sesuatu yang akan dia alami dalam perjalanan Barzakhnya dan perjalanan akhiratnya. Pelajaran hidup itu bisa menjelaskan, bahwa terkadang kelezatan hidup menjadi relative, ketika melihat bagaimana negeri-negeri yang indah secara duniawi, makmur secara materi, bahagia secara relasi sosial, tiba-tiba berubah drastis setelah corona melanda. Lihatlah Italia, Swiss, Jerman, Perancis dan negeri-negeri eksotik lainnya. Mereka tak ubahnya sebuah negara biasa saja ketika musibah ini datang.

Kekayaan negeri-negeri itu tak ada artinya di hadapan virus-virus nakal yang ukurannya super kecil. Emas-emas yang mereka miliki tak ada gunanya kala mereka sakit. Teknologi kesehatan mereka, bahkan masih membutuhkan waktu untuk menemukan formulasi vaksin yang tepat, sementara korban terus berjatuhan dan resesi di depan mata. Sungguh benar firman Allah dalam Surat Al Ashr (Demi waktu, Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran).

Dalam Alquran, Ramadhan tersambung dengan kata Syahr (bulan), menjadi “Syahru Romadhon” (Bulan Ramadhan). Tahukah kita bahwa Syahr itu terkait dengan kata Masyhur (populer). Syahr (bulan) menjadi Masyhur (terkenal/populer) karena dulu orang Arab ketika melihat hilal awal Ramadhan lalu mengumumkannya, Sehingga kabar awal Ramadhan menjadi masyhur atau populer. Begitupun kita hari ini, interupsi corona tak boleh mengalahkan kemasyhuran Ramadhan. Ramadhan harus terus hadir dengan segala kebaikannya namun dengan tetap berhati-hati dan cermat atas penyebaran COVID-19. (PAMEKASAN HEBAT)

Kepemimpinan Inovatif di Era Disruptif

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi dosen tamu di UGM Yogyakarta.

PAMEKASAN HEBAT – Kepemimpinan Inovatif di Era Disruptif adalah tema materi yang disampaikan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi narasumber atau dosen tamu di FISIPOL UGM pada acara kuliah umum yang digelar pada 16 Mei 2019 pada mata kuliah “Kepemimpinan Sektor Publik” yang diampu oleh dosen H Suharyanto dengan tema materi yang disampaikan “Kepemimpinan dan Inovasi Pelayanan Publik”.

Ada dua istilah penting yang menjadi fokus bahasan Baddrut Tamam pada kuliah umum tersebut, yakni “inovatif” dan “disruptif”. Istilah disruptif dan inovatif (disruptive innovation) ini pertama kali dicetuskan oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review (1995). Menurut catatan wikipedia, artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan.

Dalam konteks ini, Inovasi disruptif (disruptive innovation) merupakan inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama. Dengan demikian, titik tekan pada dua kata tersebut, disruptif dan inovatif gampangnya adalah pada inovasi dan kemampuan merespon perubahan secara cepat dan tidak menentu, menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Di lingkup kepemimpinan institusi pemerintah, hal penting yang perlu dilakukan adalah pentingnya membentuk paradigma baru dalam pengelolaan pemerintahan, yakni paradigma dalam mengelola pemerintahan. “Birokrasi yang kaku dan terlalu formal terlalu menguntungkan pada regulasi yang top down, sudah waktunya kita ubah,” kata Baddrut, seperti yang disampaikan kepada media.

Ia menilai sejak dulu birokrasi lebih dekat dengan kesan negatif, seperti lambat dalam pelayanan, tidak kreatif dan anti inovasi. Kini, paradigma tersebut sudah tidak relevan lagi, sehingga harus menerapkan cara berpikir dan bertindak yang lebih tepat, dan ia mencontohkan seperti yang sudah banyak dilakukan oleh sejumlah organisasi swasta.

Bertindak cepat ini, hanya berpotensi dilakukan oleh badan ramping, yang dalam konteks pemerintahan ia istilahkan dengan postur birokrasi. “Postur birokrasi tidak boleh lagi gemuk, tambun dan lamban. Tetapi harus ramping, efesien dan gesit. Dalam istilah konsep kebijakan publik, muncul yang namanya ‘new public management‘,” sambung pria yang akrab disapa Ra Badrut.

Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya yang juga perlu dipahami oleh para pemimpin dan pengelola manajemen organisasi adalah tantangan kepemimpinan di era disruptif. “Prinsipnya ada banyak gaya kepemimpinan yang bisa diterapkan di era disrupsi seperti saat ini, di antaranya harus memiliki terobosan, memberikan kesempatan dan kebebasan bagi tim,” bebernya.

Bahkan dalam kesempatan itu, Badrut Tamam juga menyampaikan beberapa capaian inovasi yang dilakukan selama beberapa bulan memimpin Pamekasan. Di antaranya kesuksesannya merealisasikan Mal Pelayanan Publik (MPP), pelayanan aplikasi berbasis online, branding batik hingga program bursa inovasi desa.

Tiga Hal Penting
Terkait pola kepemimpinan inovatif di era disruptif ini, Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Dr KH Abdul Wahid Maktub dalam sebuah orasi ilmiah dalam seminar kebangsaan yang dilaksanakan oleh Ikatan Alumni BSI yang didukung oleh Bidang Kemahasiswaan BSI, belum lama ini mengemukakan, ada tiga poin utama untuk dapat menghadapi perubahan serta mampu bertahan di era yang serba penuh ketidak pastian ini.

Ketiga hal tersebut adalah iteration, innovation, dan disruption. Iteration dimaksudkan melakukan hal yang sama tetapi dilakukan dengan maksimal sehingga menghasilkan hasil yang baik. Selanjutnya, innovation adalah dengan melakukan perubahan serta menemukan hal yang baru, dan ketiga disruptif, yakni masyarakat harus men-disruptif diri sendiri dengan perkembangan era saat ini, sehingga mampu melakukan perubahan.

“Jika mahasiswa tidak men-disruptif dirinya sendiri dengan perubahan era saat ini, dengan mengubah diri menjadi lebih baik dan berinovasi – maka, kesempatan ini dapat menjadi hadiah bagi orang lain,” papar Maktub kata itu.

Ketiga kunci ini, lanjut Maktub, harus berimbang dengan sikap responsif dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Selain itu juga harus memiliki kesiapan yang matang.

“Kesiapan yang paling utama adalah dengan memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang mampu menuntun kita untuk melakukan perubahan dan berinovasi. Diimbangi dengan kejelasan tujuan, tangkas dan cepat. Selain itu, juga harus memiliki self control seperti tidak malas, dispilin, berprestasi, saling menghormati serta mampu memimpin diri sendiri apabila ingin bertahan di era disruptif,” katanya, menambahkan.

Dalam konteks lokal Pamekasan, konsep kepemimpinan inovatif-disruptif (disruptive innovation) ini bisa dilihat misalnya dari terobosan yang telah dilakukan selama ini. Antara lain pada branding batik tulis di kendaraan dinas milik Pemkab Pamekasan.

Baddrut, selaku bupati, berupaya bergerak di luar jalur kotak (out of the box), bahkan kendaraan dinas hanya sebatas penunjang kegiatan aparatur sipil negara (ASN) dalam menjalankan tugas dan rutinitas organisasi, menjadi sesuai yang bernilai ekonomis, yakni media promosi usaha perajin batik tulis masyarakat. Sebuah upaya dan terobosan yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Demikian juga dengan keberadaan “Mall Pelayanan Publik”.

Anggaran untuk membuat program kegiatan, cenderung menjadi kendala. Tapi Bupati Baddrut Tamam mampu menyiasati itu semua, dengan sistem kerja sama dan sama kerja antarberbagai organisasi perangat daerah. “Jika hasilnya belum maksimal itu wajar, wong kita membuat ‘Mall Pelayanan Publik’ ini tanpa anggaran,” katanya dalam sebuah kesempatan. (PAMEKASAN HEBAT)

Tulisan ini telah ditayangkan di penawarta.com, dan disarikan dari kuliyah umum Bupati Pamekasan Baddrut Tamam di kampus UGM, 16 Mei 2019.

Mempelajari Penerapan STEAM di Korea Selatan

Kegiatan belajar guru utusan Indonesia di Seoul National University dengan dosen pengampu Prof. Jeong Jae Yoen, pada 30 April 2019. Kepala MTsN 3 Pamekasan Muhammad Holis merupakan salah satu peserta dari kegiatan ini.

PAMEKASAN HEBAT – STEAM merupakan singkatan dari (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics), yakni pola pendidikan teringratif yang diterapkan di Korea Selatan.

Pola pendidikan ini sebenarnya diawali dari sebuah pemikiran mengefektifkan keberadaan pendidikan bagi anak-anak di korea yang awalnya hanya datang ke sekolah dengan duduk, membaca, diajari oleh guru dan mendapatkan nilai yang diberikan oleh guru. Pola seperti itu, ternyata dinilai kurang memiliki makna substantif bagi sebuah pendidikan pada tahun 2006 lalu.

Namun seiring berjalannya waktu, maka muncul gagasan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) tanpa art. Target yang ingin dicapai adalah bagaimana mengelola sumbar daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) di korea berjalan dan seiring dengan perkembangan teknologi dan revolusi industri 4.0.

Berawal dari pengelola lahan pertanian yang tradisional menjadi teknologi pertanian, petani tradisional menjadi petani yang memanfaatkan teknologi pertanian, sampai pada pengelolaan pertanian yang semula tradisional menjadi ada teknologi pengelolaan pertanian, sampai akhirnya pertanian di Korea memanfaat Informasi Teknologi, SDM yang handal teknologi dan pengelolaan pertanian yang memanfaat teknologi sebagai pendorong pertanian.

Disamping itu ada riset bahwa suatu ketika nanti akan ada sekitar 70 persen pekerjaan yang sudah tidak butuh lagi tenaga manusia karena digantikan oleh mesin. Namun disisi yang lain manusia harus tetap survive untuk tidak bisa digantikan oleh mesin, sehingga membutuhkan sebuah pemikiran yang dapat membantu pemeritah agar revolusi industri 4.0 tetap berjalan dan manusia tetap bisa melakukan pekerjaan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan SDM-nya.

Agar manusia dapat bertahan dengan revolusi industri 4.0 ini, maka ada 3 (tiga) faktor yang harus dilakukan yakni merevolusi bidang pendidikan, karena pendidikan merupakan sumber dari dari penguatan sumber daya manusia yang handal.

Ketiga hal tersebut adalah: (1). Kreatifitas dan kooperatif dengan mengedepan problem solving, (2). Interconection antarsesama dan untuk semuanya, (3).Human Networking/menjaga hubungan yang baik antarsemuanya

Gambaran STEAM di Korea Selatan

Kepala MTsN 3 Pamekasan Muhammad Holis saat mempelajari tentang penerapan STEAM di dunia pendidikan di Korea Selatan.

Praktisi pendidikan korea selatan memberikan gambaran bahwa masa depan suatu bangsa akan ditentukan oleh seberapa besar nilai kreatifitas dalam mengimpikan, karena mimpi yang diangankan akan menjadi masa depan yang seharusnya dari seatu bangsa. Konsep STEAM di korea selatan setidaknya ada 3 (tiga).

Namun di korea selatan di tambah satu yakni menjadi 4 (empat), yakni (1). Kualitas jaringan/Network Quality, (2). Mutu Sosial/Sosial Quality, (3). Kualitas Keahlian /Profesional Quality, lalu (4). Kreatifitas yang Berkualitas/Creatifity Quality.

Jika pembelajaran dalam pendidikan menunjukkan sebuah kreatifitas yang tinggi maka mimpi dan cita-cita untuk menjadi bangsa dan negara yang maju akan tercapai sesuai yang diharapkan, karena pendidikan merupakan kekuatan untuk menopang sumber daya manusia yang handal.

Kreatifitas dalam pendidikan akan terjadi, apabila setidaknya diterapkan dalam dua hal yakni (1) kreatifitas dalam pembelajaran dan (2) kreatifitas dalam pengelolaan dan managejen sekolah. Dan dua hal inilah yang memberdakan antara pendidikan dulu dan sekarang di korea selatan.

Pendididkan zaman dulu hanya berkutat pada pada guru sebagai pemberi informasi dan teks book, namun saat ini sudah bergeser pada guru sebagai fasilitator yang tidak bergantung pada teks book learning dan ditambah lagi dengan creatifity learning, sehingga kunci sukses dalam STEAM dalam dunia di Korea Selatan bergantungpada adventure, emosional dan attitude dan lain-lain.

Setidaknya ada 2 (dua) hal yang bisa menjadikan STEAM dalam pendidikan itu bisa sukses yakni, Pertama, pelaku pendidikan dapat mengeksplorasi pendidikan dengan sebaik-baiknya setiap saat. Kedua, memotifasi guru dan tenaga kependidikan agar tidak berkutat pada cara-cara dan model lama yang mengedepankan teks book learning.

Ketika kreatif itu merupakan kunci utama dalam keberhasilan pembelajaran di sekolah, disamping beberapa hal yang dapat menjadikan guru kreatif sebagai berikut:

1).Harus memiliki insting yang kuat untuk mencari tahu tentang sesuatu yang dipelajari dan terus menggali agar apa yang dipelajari betul-betul tereksplor dengan baik kepada peserta didik.

2). Penguasaan art dan science harus seimbang, karena dua hal itu akan menopang dan memunculkan kreatifitas yang tinggi.

3).Adanya multi komunikasi/komunikasi menyeluruh, ini dianggap penting karena untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan ditentukan oelh pendidik yang menguasai dibidang sosial, teknologi, art dan sains.

4). Break out teknologi yang lama agar selalu update dalam melakukan pembelajaran dan pengelolaan di sekolah.

5). Menggabungkan dan bahkan memadukan teknologi lama dengan yang baru, agar memperoleh hasil yang karya teknologi yang inovatif

Diawali dari sebuah riset tentang pendidikan di Korea Selatan, disebutkan bahwa, pendidikan di negera ini membutuhkan kreatifitas, agar manusia tidak tergeser oleh mesin dan sejenisnya, sehingga penerapan STEAM dengan ciri kreatifitas ini menjadi keharusnya yang tidak boleh ditunda lagi.

Situasi ruang belajar di Seoul National University dengan dosen pengampu Prof. Jeong Jae Yoen.

Meskipun program ini berkiblat pada Amerika dengan STEM tanpa art, namun setidaknya Korea Selatan mencoba membangun kreatifitas dalam progran ini dan menambahkannya dengan art, dan art inilah yang membedakan dengan di STEM di Amerika. Titik tekan art dan kreatifitas inilah yang menjadi ciri yang sebenarnya keberhasilan pendidikan di korea selatan.

Dalam penerapan STEAM dalam pembelajaran tidak mengharuskan kelima hal dalam STEAM itu dilakukan setiap pembelajaran, namun bisa saja hanya ada sains dan matematika atau engenering dan teknologi atau bahkan art saja, agar apa yang dilakukan guru dalam pembelajaran optimal dan nampak kreatifitasnya dalam pembelajaran, karena belajar di korea selatan itu adalah bekerja sama dan bersenang-senang, tidak pada teks book saja.

Di bawah ini digambarkan frame work STEAM dalam pembelajaran sebagai berikut:

Berangkat frame work STEAM diatas akan menculkan (1) rasa ingin tahu terhadap satu masalah (penasaran) dalam pembelajaran, (2) ketertarikan untuk melakukan pembelajaran dan belajar dengan baik dan ke-(3) akan dapat menyelesaikan permasalah yang terjadi.

Dari ketiga hal tadi itulah sebenarnya kreatifitas, sehingga kesimpulannya STEAM itu bisa sukses apabila ada kreatifitas.

Dampak STEAM
Setiap program yang dilakukan dalam skala besar apalagi disebuah negara akan berdampak pada berubahan yang signifikan dan dapat merevolusi dunia pendidikan secara menyeluruh, namun demikian dapaknya juga harus menjadi perhatian karena bisa saja baik dan bisa saja tidak baik dimana kedua-duanya harus dikelola dengan baik.

Adapun STEAM di Korea Selatan dapat berdampak sebagai berikut:
a. Bagi Siswa hasil riset; (1). Anak-anak lebih tertarik dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah. (2).Lebih efektif bagi anak-anak, guru, dan sekolah. (3). Stakehorder dan orang tua puas dengan sistem pendidikan, (4). Anak-anak akan tertarik untuk belakar sains karena pembelajaran yang kreatif. (5), Anak-anak dituntut untuk belajar dan berfikir kreatif.

b. Bagi Guru; (1). Harus menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk pembelajaran, (2), Tugas guru dalam pembelajaran akan lebih berat, (3), Lebih efektif karena guru hanya sebagai fasilitator, (4), Guru akan tertantang untuk berfikir kritis dan kreatif, jika tidak maka akan ditinggalkan oleh siswa

Kapan STEAM dilakukan Di Korea Selatan
STEAM dikorea selatan dilakukan dengan beberapa tahap, tahap I, 2006-2010 bagi sekolah yang memiliki talent khusus (sekolah khusus/piloting), tahap II, 2011-2015 diterapkan secara keseluruhan disemua jenjang pendidikan di korea selatan, tahan III, memasukkan dalam kuriulum dan dilaksanakn pada free semester.

Menyiapkan MAKER
Ciri khas di Korea Selatan adalah adanya MAKER (orang yang menjalan STEAM disebut MAKER).

MAKER memiliki tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan kepercayaan diri untuk menuangkan ide dan gagasan terbaru agar hasilnya bisa di apresiasi oleh orang lain, karena maker tidak terbatas oleh waktu, tempat, buku dan bahkan kesempatan akan tetapi bebas melakukan kreatifitas dan aktifitas, karena ide kreatif MAKER dalam kebebasan berekspresi itulah yang membedakan dengan mesin, sehingga STEAM ini dianggap mampu memberikan jawaban terhadap posisi manusia pada revolusi industri 4.0 dan 5.0. (PAMEKASAN HEBAT)

Oleh Muhammad Holis. Tulisan ini dirangkum dari Materi 2 SNU (Seoul National University) dengan dosen pengampu Prof. Jeong Jae Yoen, pada 30 April 2019. Tulisan ini telah dipublikasikan di situs penawarta.com pada 6 April 2019.

Urgensi Dewan Riset Daerah

Akh. Fawaid*

PAMEKASAN HEBAT – Dewan Riset Daerah (DPD), sebagian orang mungkin belum mengenalnya. Sebab, tidak semua Kabupaten/Kota di Indonesia memiliki lembaga tersebut.

Sebagian daerah beranggapan, tidak perlu membentuk Dewan Riset Daerah (DRD), dan cukup dengan keberadaan Badan Penelitian Dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), atau Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bapepda).

Akibatnya, arah pembangunan daerah yang disusun, kadang tidak berdasarkan hasil analisis dan kajian yang matang. Mencukupkan kepada kebiasaan, yang penting ada, berdasarkan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) yang akan dimasukkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Sekalipun, tidak semua program yang masuk musrembang, berkualitas dan terarah.

Setiap Pemerintah daerah memang memiliki Rencana Strategis (Renstra) Pembangunan yang sudah disusun. Tujuanya, agar arah pembangunan sesuai dengan visi dan misi pemerintahan.

Keberadaan Dewan Riset Daerah (DPD) sangat penting keberadaanya. Dewan Riset memiliki peran strategis untuk memberikan bahan-bahan pertimbangan dalam menentukan arah dan kebijakan pembangunan suatu daerah. Apalagi, dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Riset memiliki landasan hukum jelas, yakni Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Diakui ataupun tidak, selama ini peran akademisi dalam rangka mendukung pembangunan daerah, belum dioptimalkan dengan baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh kalangan akademisi, sama sekali belum mendapat ruang khusus dari daerah.

Padahal seharunya, pemerintah daerah mengakomodir hasil penelitian para akademisi, yang penelitianya berkenaan dengan daerah dimaksud. Akibatnya, hasil penelitian akademisi, hanya selesai pada luaran yang diterbitkan di jurnal, ataupun dimanfaatkan oleh pengusaha, untuk dijadikan referensi pengembangan usahanya.

Sebagaimana UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada Pasal 13 ayat 1 disebutkan, pemerintah mendorong kerja sama antara semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan jaringan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara dalam Pasal 14 dalam undang-undang yang sama, pemerintah daerah, dan/atau badan usaha dapat membangun kawasan, pusat peragaan, serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi lain untuk memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan masyarakat.

Lalu dalam ayat 1 Pasal 20 UU Nomor 18 Tahun 2002 menyebutkan, pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi, memberikan stimulasi dan fasilitas, serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan, sumber daya, dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Ayat 2 menyebutkan, dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pemerintah daerah wajib merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya, dan dilanjutkan pada ayat 3, dalam merumuskan kebijakan strategis yang dimaksud dalam ayat (2), pemerintah daerah harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut seperti yang disebutkan dalam ayat 4 Pasal 20, UU Nomor 18 Tahun 2002 Pemerintah Daerah membentuk Dewan Riset Daerah yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya.

Ruang akademisi dalam rangka ikut serta memberikan masukan terhadap pembangunan daerah, masih berkutat pada keterlibatan pembahasan rencana pembangunan ataupun seminar-seminar kegiatan. Sementara, hasil karya penelitian yang sudah dihasilkan oleh para akademisi, ruangnya masih sangat kecil, untuk dijadikan pertimbangan dalam pembangunan daerah.

Sinergi dan koordinasi antara pemerintah daerah, dengan kalangan akademisi perlu dilakukan, khususnya dalam hal menyusun rencana pembangunan daerah berkemajuan dan menciptakan inovasi, yang diharapkan masyarakat, dalam segala sektor, meliputi, sektor ekonomi dan keuangan, sektor lingkungan hidup, sektor tata ruang dan mitigasi penanggulangan bencana daerah, sektor energi dan sumber daya mineral.

Lalu, sektor budaya dan kesatuan bangsa, sektor hukum, politik dan pemerintah. Sektor pendidikan, kesehatan dan kependudukan, sektor pertanian, perikanan dan kehutanan. Sektor transportasi dan infrastruktur serta sektor industri dan perdagangan.

Dari berbagai sektor tersebut, nantinya Dewan Riset Daerah (DPD) akan memilah, sektor strategis yang perlu didahulukan, dan sesuai dengan visi dan misi pembangunan yang ingin dicapai oleh kepala daerah.

Dewan Riset Daerah (DPD) memiliki manfaat besar, dalam menentukan arah pembangunan suatu daerah. Salah satunya, sinergi antara birokrasi dan akademisi serta masyarakat, dalam menentukan arah pembangunan melalui hasil kajian bersama, transfer pengetahuan, dan kolaborasi kemampuan dari latar belakang keilmuan dan pengetahuan yang berbeda. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis merupakan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIE Bakti Bangsa Pamekasan.

Sinergi Pamekasan-Kemenkop Kembangkan Usaha Mikro

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menyampaikan sambutan di acara Kunjungan Kerja Menteri Koperasi dan UKM di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan pada 15 Februari 2019.

PAMEKASAN HEBAT – Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pengembangan ekonomi sangat dibutuhkan, terutama dalam menyukseskan pengembangan kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyatakan sinergi dalam artian terlaksana program yang saling membantu dan menguntungkan, akan mempercepat terwujudnya pelaku usaha yang kreatif dan memiliki kemampuan memadai, di samping akan bisa membangun akses jaringan yang lebih luas.

Hakikat dari pertumbuhan ekonomi, menurut dia, apabila jaringan usaha semakin luas, kemampuan atau sumber daya manusia (SDM) memadai, dan kemampuan melakukan inovasi produk usaha yang terus menerus atau berkelanjutan.

Untuk mewujudkan hal itu, akses jaringan harus diperluas, di samping penting pula untuk memahami kebutuhan pasar dan membuka akses pasar baru dengan mempertimbangkan kebutuhan di daerah lain, baik tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional atau global.

“Di sinilah pentingnya adanya sinergi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, dan dengan sinergi ini pada akhirnya diharapkan bisa mencarikan solusi berbagai persoalan pelaku ekonomi kita di Pamekasan ini,” kata Baddrut.

Kabupaten Pamekasan salah satu di antara empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur memiliki potensi ekonomi dari kekayaan alam yang disebut dia sebagai luar biasa.

Berbagai potensi itu, baik dari sisi sumber daya alam, kerajinan, seni budaya, maupun sektor jasa dan industri.

Penyerahan bantuan secara simboleh kepada pelaku usaha pemula di Kabupaten Pamekasan oleh Menteri Koperasi dan UKM

Dari sisi sumber daya alam di sektor kelautan dan perikanan, potensi ekonomi Pamekasan yang bisa dikembangkan apabila bisa dikelola secara profesional, adalah kuliner dan produksi garam.

“Kami memiliki kuliner khas dan hanya ada di Pamekasan, yakni ‘campor lorjuk’ dan ini tidak ada di daerah lain,” katanya. [Baca Juga: Membangun dan Menjaga Pesisir dengan Mangrove]

Industri produksi garam di Kabupaten Pamekasan juga potensial dengan jumlah produksi setiap tahun antara 90 hinggga 130 ribu ton.

Pamekasan juga kaya akan seni budaya tradisional yang memang ciri khas masyarakat setempat, seperti ‘Tari Topeng Gethak’, ‘Tari Rondhing’ dan festival kecantikan sapi atau yang dikenal masyarakat dengan nama “Sapi Sono”.

Dari industri kreatif dan kerajinan kreatif, Pamekasan dikenal dengan batik tulisnya, antara lain batik “Sekar Jagat” dan “Podhek” yang jumlahnya mencapai 155 motif.

Hanya saja, hal yang menjadi kendala dalam pengembangan potensi setempat selama ini, jaringan dan kemampuan para perajin dan pelaku usaha yang belum kreatif, sehingga belum bisa dikonversi secara signifikan menjadi bernilai ekonomis.

Di lembaga keuangan mikro, seperti koperasi, Pamekasan tergolong kabupaten yang lebih maju dibandingkan dengan tiga kabupaten lain di Pulau Madura. [Baca Juga: Menteri Koperasi Puspayoga Kagum Batik Tulis Pamekasan]

Pada sekitar April 2017, kabupaten berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa lebih ini, telah ditetapkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM sebagai kabupaten pertama yang menerapkan Koperasi Syariah.

Bupati Pamekasan kala itu, Achmad Syafii, mengumumkan sudah ada 160 koperasi dari total 695 koperasi yang terdata di Dinas Koperasi dan UKM yang menerapkan pola syariah.

“Pemerintah mendorong pengembangan koperasi syariah, untuk memanfaatkan potensi ekonomi di basis pondok pesantren, karena Pamekasan ini juga dikenal sebagai kota santri, di samping fokus program pembangunan kita pada Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam),” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pamekasan Djon Yulianto.

Anggaran Terbatas

Penyerahan sertifikat hak cipta motif batik kepada perajin batik tulis Pamekasan oleh Menteri Koperasi dan UKM di Pendopo Ronggosukowati Pamekasan.

Sebagaimana Bupati Baddrut Tamam, Djon Yulianto menyatakan hal yang menjadi kendala untuk mempercepat pengembangan program yang telah ditetapkan pemkab itu, adalah anggaran daerah yang terbatas.

Keinginan kuat Pemkab Pamekasan untuk menghidupkan ekonomi mikro melalui sektor ini, belum didukung dana yang memadai. [Baca Juga: Sandiaga Uno Dukung Branding Batik Pemkab di Mobil Dinas]

Salah satu program Pemkab Pamekasan untuk menyiasati keterbatasan APBD ini dengan melakukan sinergi program dengan Kementerian Koperasi dan UKM.

Pada 15 Februari 2019, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga datang ke Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan menandatangani nota kesepahaman sinergi program antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan Pemkab Pamekasan.

Ada beberapa program yang disepakati antara Pemkab Pamekasan dan pihak kementerian untuk bersinergi, antara lain program bantuan modal usaha dan pelatihan keterampilan serta manajemen bagi pelaku usaha di daerah itu, serta bantuan modal kepada wirausaha baru.

Menkop Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga juga menyerahkan secara simbolis Nomor Induk Koperasi kepada tiga perwakilan, SK Badan Hukum Koperasi, sertifikat hak cipta, serta dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) yang pada tahun ini penyalurannya ditargetkan Rp1,5 triliun. Dana itu, terdiri atas Rp975 miliar untuk pembiayaan konvensional dan Rp525 miliar untuk pola syariah.

“Ini sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat pada program prioritas Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan,” kata dia. [Baca Juga: Menguatkan Identitas Pamekasan Sebagai Kota Batik]

Program prioritas Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan hasil pilkada serentak pada 27 Juni 2018 itu, membentuk 10.000 wirausahawan baru dalam kurun waktu lima tahun.

Program ini dalam rangka mendorong peningkatan ekonomi di sektor kewirausahaan, sekaligus program pendukung dalam meningkatkan ekonomi kreatif di Kabupaten Pamekasan.

“Kementerian Koperasi dan UKM merasa terbantu dengan program prioritas Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan ini, dan oleh karenanya, perlu adanya sinergi program,” katanya.

Direktur Inkubator Bisnis Universitas Madura (Unira) Pamekasan Dr Gazali menilai sinergi program yang telah dilakukan Pemkab Pamekasan bersama Kementerian Koperasi dan UMK cara efektif mengatasi keterbatasan anggaran daerah.

“Cara kreatif dan inovatif yang dilakukan Pemkab Pamekasan ini memang sangat dibutuhkan. Kami berkesimpulan bahwa Pemkab Pamekasan mampu mengatasi kekurangan justru menjadi kekuatan, dan jelas sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik pemkab maupun Kementerian Koperasi,” kata dia.

Hanya saja, hal yang perlu diperhatikan lebih serius ke depan agar pembinaan pengembangan ekonomi, termasuk bantuan modal usaha dari pemerintah, adalah tepat sasaran, merata, dan tidak hanya terfokus daerah tertentu.

Hal penting lainnya yang juga harus diperhatikan, yakni usulan bantuan hendaknya berbasis program. (PAMEKASAN HEBAT)

Oleh Abd Aziz, Pewarta Perum LKBN Antara untuk wilayah Madura sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan. Tulisan dalam bentuk kharangan khas (karkas) ini telah dimuat di situs Jatim.Antaranews.Com, pada 17 Februari 2019)

Membangun dan Menjaga Pesisir dengan Mangrove

Endang Tri Wahyurini, S.Pi., M.Agr*

PAMEKASAN HEBAT – Pamekasan merupakan salah satu kabupaten di Madura yang memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya. Kedua potensi tersebut merupakan salah satu syarat bagi pembangunan suatu daerah. Terdapat beberapa wilayah pesisir Pamekasan yang cukup rentan terkena abrasi. Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh gelombang laut yang bersifat merusak. Kondisi kerusakan garis pantai ini terjadi karena dipicu oleh ketidak seimbangan alam daerah pantai tersebut.

Kejadian bencana alam saat ini banyak terjadi di daerah sekitar pantai atau pesisir. Kondisi pesisir yang biasa terjadi saat ini adalah sangat rentan terjadinya abrasi (pengikisan bibir pantai), gelombang pasang yang tinggi, tsunami, banjir rob, serta terjadinya intrusi air laut,dll. Dampak yang cukup mengkhawatirkan bisa saja terjadi dari kondisi ini. Oleh karena itu perlu adanya upaya penanggulangan dan kewaspadaan yang lebih.

“Jika kita menjaga dan bersahabat dengan alam maka, alampun akan menjaga kita”. Salah satu potensi pesisir yang mampu memberikan kontribusi besar dalam menjaga pesisir adalah ekosistem mangrove. Mangrove mempunyai berbagai fungsi antara lain adalah fungsi konservasi, fungsi ekologi, fungsi ekonomi dan fungsi pendidikan serta pelatihan. Fungsi konservasi mangrove diantaranya mencegah intrusi air laut, mengikat sedimen serta melindungi garis pantai dari abrasi dan tsunami. Sebagai fungsi ekologi yaitu sebagai penyerap polutan, tempat terjadinya daur ulang unsur hara, tempat berpijahnya aneka biota laut, berkembang biaknya aneka jenis burung, mamalia, reptile dan serangga, sebagai sumber plasma nutfah, sebagai biofilter alami dan mempunyai kemampuan menyimpan karbon yang tinggi, sehingga sangat berperan penting bagi keseimbangan iklim di dunia. Sedangkan peran ekonominya yaitu ekosistem mangrove menyediakan hasil hutan berupa kayu dan non kayu serta lingkungan. Selain itu ekosistem mangrove juga mempunyai fungsi sebagai ekowisata, yang tentunya akan memberi kontribusi besar terhadap pendapatan masyarakat.

Sudah saatnya kita semua menyadari betapa pentingnya keberadaan ekosistem mangrove baik bagi manusia maupun lingkungan. Hal ini tentunya harus menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat secara umum. Ekosistem mangrove merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia hal ini seperti disampaikan oleh KKP (2015) karena telah menyumbang lebih dari 40 triliun rupiah per tahun dari perikanan budidaya, belum lagi dari sektor ekowisatanya. [Baca Juga: Menangkap Potensi Wisata Baru Pamekasan di Kawasan Hutan Mangrove]

Begitupun dengan Pamekasan yang memiliki beberapa kawasan pesisir yang notabene juga rentan akan terjadinya abrasi dan bahkan pasang tinggi. Baik itu di kawasan pantai utara Pamekasan maupun di kawasan pantai selatan. Berdasarkan data statistik dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Kementerian Lingkungan Hidup kehutanan (2018) menyampaikan bahwa lahan kritis mangrove di Kabupaten Pamekasan untuk KL (Luar kawasan) hutan seluas 950 Ha dan DK ( Dalam Kawasan) hutan seluas 767 Ha. Dari data tersebut perlu sekali dilakukan upaya merehabilitasi mangrove di kawasan pesisir Pamekasan, salah satunya yaitu dengan melakukan pembibitan dan menanam mangrove. Seperti saat ini Pamekasan sedang merencanakan eduwisata mangrove di Pantai Desa Lembung. Sebuah langkah dan harapan yang besar untuk bisa dilakukan pengelolaan mangrove yang lebih baik dan bersinergi antar stakeholder.

Penulis telah melakukan penelitian dan pembinaan terhadap beberapa kelompok mangrove di kawasan pesisir Pamekasan sejak tahun 2015 salah satunya adalah Kelompok Sabuk Hijau di Desa Lembung, dan untuk kawasan Madura pada umumnya (dimulai tahun 2018). Pembentukan kelompok mangrove mulai kami lakukan seperti di Desa Montok Talang Siring. Hal ini dengan harapan mangrove di pesisir Pamekasan dan Madura tidak semakin terdegradasi dan bahkan bisa kembali pulih lebih baik lagi. Keaktifan dan kepedulian masyarakat dan kelompok sangat penting dalam hal ini.

Dalam pengelolaan mangrove pemerintah telah mengatur melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove dan lebih lanjut pada tahun 2017 telah disahkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Nomor 4 Tahun 2017 tentang Kebijakan, Strategi, Program dan Indikator Kinerja Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional. Adanya Perda No 1 Tahun 2018 tentang RZWP3K (Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil) dimana mengatur pemanfaatan sumberdaya perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil wajib memiliki izin pengelolaan dan Perda inipun juga berpihak pada masyarakat lokal dan tradisional.

Membangun dan Menjaga pesisir dengan mangrove adalah solusi yang tepat dan hendaknya segera dilakukan mengingat saat ini kondisi pesisir cukup sering terjadi pasang tinggi maupun banjir rob. Beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam pengelolaan mangrove di Kabupaten Pamekasan yakni dengan dimasukkannya pengelolaan mangrove dalam tata ruang yang jelas sehingga dapat mengoptimalkan perlindungan ekosistem mangrove sampai tingkat kecamatan / desa yang dipertegas dalam bentuk Peraturan Daerah, Pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Pamekasan harus melibatkan semua stakeholder yang terkait, perlu pemantapan kawasan konservasi mangrove untuk menjaga kelestariannya serta mencegah alih fungsi lahan yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan, perlu segera dibentuk Kelompok Kerja (Pokja) Mangrove Daerah di Kabupaten Pamekasan sebagai wadah aspirasi para pihak untuk pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Pamekasan.

Rehabilitasi mangrove di Kabupaten Pamekasan perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan melibatkan stakeholders, instansi terkait serta perlunya mempertimbangkan kondisi biofisik dan sosial ekonomi. Untuk menjamin keberlanjutan fungsi mangrove hasil-hasil rehabilitasi di kawasan pesisir Kabupaten Pamekasan maka upaya penanaman harus ditindak lanjuti dengan pemeliharaan dan pengawasan yang melibatkan masyarakat, serta perlu diperluas keterlibatan dunia usaha melalui program CSR terkait dengan rehabilitasi mangrove di pesisir. Yang bisa menjadi catatan bersama adalah menjaga pesisir dengan pengelolaan kawasan mangrove harus dilakukan secara terpadu, sinergi dan harus memperhatikan aspek ekologi, sosial ekonomi, status lahan (land tenure), dan tata ruang.

Kesadaran publik tentang nilai penting dari keberadaan mangrove harus diimbangi dengan fasilitas yang memadai oleh Pemerintah serta peran aktif semua pihak akan menentukan keberlanjutan pengelolaan hutan mangrove. Terciptanya pesisir yang tanggung dan mandiri adalah sebagai cerminan dan langkah menuju Pamekasan Hebat. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis adalah dosen Prodi Ilmu Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Islam Madura. Saat ini penulis sedang menempuh program doktoral tentang Pembangunan Pesisir dan Mangrove di Madura.

Menuju Keluarga Hebat Ala Islam, Lakukan Tujuh Langkah Ini

Mohammad Hafid*

PAMEKASAN HEBAT – Banyak pasangan suami-istri yang mengimpikan kelurganya menjadi keluarga yang ideal. Pasalnya, bagi mereka keluarga ideal merupakan cerminan dari kesuksesan dalam menata dan merawat keluarga. Namun dibalik impiannya, mereka masih belum banyak mengerti maksud, serta makna keluarga ideal dalam Islam.

Keluarga ideal dalam Islam dapat juga dikatakan sebagai keluarga yang saleh. Didalamnya tertanam nilai-nilai yang ditargetkan oleh Islam yang meliputi ketenangan, mawaddah dan rahmah, sebagaimana disinyalir dalam al-Qur’an surah al-Rum ayat 21 berikut:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Kemudian hubungan antara suami-istri didalamnya digambarkan oleh Allah SWT sebagai selimut atau pakaian yang memiliki konotasi makna menjaga, menutup, hiasan, mendekatkan dan menempelkan sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 187 berikut:

“هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ”

“Istri-istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian merupakan pakaian untuk mereka”.

Hanya saja dalam peroses perjalanannya, mewujudkan keluarga yang ideal serta saleh dengan target serta gambaran yang telah digariskan oleh Islam diatas tidak semudah membayangkannya. Perlu usaha yang istiqamah, tekad yang kuat serta kesabaran yang luas untuk bisa mewujudkannya.

Maka dari itu sangat penting mengetahui langkah-langkah membentuk keluarga ideal yang ditwarkan Islam guna bisa sampai pada target dan tujuan sebagaimana dijelaskan diatas. Langkah-langkah tersebut diungkapkan oleh Prof Dr Yusuf al-Qardhawi dalam Bukunya Al-khashaish al-Ammah Fi al-Islam sebagaimana berikut:

1. Menjunjung tinggi prinsip saling pengertian dan saling ridha, karena pergaulan dalam sebuah keluarga tidak selalu putih. Ada hitam datang sebagai bumbu penyedap perjalannya. Karena didalamnya kumpulan minimalnya dua orang yang pastinya tidak satu rasa, tidak satu nalar serta perbedaan-perbedaan lainnya. Akan tetapi jika didalamnya terdapat prinsip saling mengerti dan saling merelakan tentunya perbedaan-perbedaan yang ada menjadi keindahan bukan tekanan.

2. Selalu menjaga interaksi yang baik (al-mu’asyarah bil ma’ruf).
Langkah kedua ini semestinya akan mengikuti langkah pertama. Suami akan pekan terhadap istri serta anak-anaknya disaat mengalami kegelisahan dan kehancuran dan begitu juga istri, akan menggunakan jurus perasaannya untuk lebih dalam melihat keberadan suami sehingga akan lahir sebuah interaksi yang baik antar satu dengan yang lainnya.

3. Menjaga hak dan kewajiban antar keduanya dengan baik.
Dalam hubungan keluarga ada hak dan kewajban yang harus dijaga dengan baik sekalipun disesuaikan dengan kemampuan keduanya. Hak bagi istri merupakan kewajiban bagi suami begitupun sebaliknya, hak bagi suami menjadi sesuatu yang diwajibkan bagi istri untuk selalu dijaga dengan baik.

4. Suami harus jadi pembimbing serta bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas keluarga.
Seorang suami sebagaimana diungkapkan oleh Allah sebagai pemimpin keluarga harus betul-betul membimbing dan bertanggung jawab atas segala macam kewajiban serta perintah Allah SWT demi terciptanya stabilitas keluarga. Beban suami sebagai pemimpi memang tidak mudah tapi Allah sudah menanamkan potensi al-qawwamah (sifat-sifat kepemimpinan) didalam dirinya untuk dijadikan modal utama.

5. Istri harus menjadi surga bagi suami dan anak-anaknya.
Seorang istri memang tugas utamanya adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah mulai dari yang berbau fisik hingga ke hal-hal yang berbau psikis. Hal ini sebagai penenang dan penyejuk bagi suami yang sudah seharian berkelana mencari sesuap nasi. Begitupun terhadap anak-anaknya. Seorang ibu yang disinyalir oleh Rasulullah sebagai sekolah pertama maka jadikanlah ia sebagai surga.

6. Suami istri harus selalu memantau serta menjaga anak-anaknya dengan bijaksana.
Kewajiban dari seorang ayah dan ibu terhadap anaknya-anaknya adalah menjaga dan mengayomi sebaik mungkin. Mereka tidak boleh ditelantarkan hingga merasa tidak punya orang tua. Mereka tidak boleh dibiarkan bodoh dan bebas keluyuran kemana sehingga menjadi anak yang tidak baik serta taat.

7. Anak-anak harus menjadi anak yang patuh dan taat pada orang tuanya.
Orang tua berkewajiban berusaha semaksimal mungkin agar anak-anaknya menjadi anak yang patuh dan taat dengan cara penanaman nilai-nilai ke-islam-an, keabaikan, ketulusan, kelembutan serta nilai-nilai baik lainnya sehingga anak-anaknya kelak mengerti akan kewajiban-kewajjbannya yang salah satunya patuh terhadap, kedua orang tua.

Dari ketujuh langkah diatas jelaslah bahwa membentuk keluarga yang ideal tidak butuh perjuangan yang berkesinambungan disamping juga harus pasrah secara total pada Allah SWT. Pasrah disini bukan berarti melepaskan kendali perjuangan akan tetapi setiap perjuangan yang diusahakan harus ada Allah disitu. Wallahu A’lam. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis lulusan Universitas Al-Ahgaff Yaman, asal Desa Akkor, Kecamatan Palengaan Pamekasan, Jawa Timur dan hingga saat ini aktif sebagai tenaga pendidik di salah satu pesantren di Madura. Penulis kini juga tercatat sebagai mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Sunan Giri Surabaya.

Pamekasan Hebat, City Brand Masa Depan

Abdullah M. Sadino*

PAMEKASAN HEBAT – Suatu kota, negara dan kawasan wisata lainnya aktif mempromosikan melalui iklan maupun program kampanye lainnya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran dan citra yang menguntungkan dari lokasi yang menarik untuk dikunjungi baik itu sifatnya sementara ataupun permanen. Branding suatu kota atau daerah merupakan pengimplementasian strategi merek dan program pemasaran lainnya bersama disiplin ilmu ekonomi, budaya, politik dalam pengembangan tempat meliputi kota, wilayah, negara.

Branding lokasi geografis yang lebih dikenal dengan place branding ingin membantu dalam pertumbuhan industri pariwisata baik pariwisata baik berupa daerah, kota, negara, dan tujuan wisata lainnya seperti disney land, dunia fantasi, dan taman safari. Di Indonesia sendiri, beberapa kota telah melakukan city branding guna meningkatkan perekonomian kota tersebut, meningkatkan investasi dan mendatangkan wisatawan. Sebuah kota harus berfungsi sebagai tempat tinggal, tujuan pencari kerja, tujuan investasi dan tujuan rekreasi.

Indonesia sedang mengikuti trend dunia dengan mengikuti beberapa negara di dunia yaitu dengan melakukan branding untuk menunjukkan identitasnya sekaligus dipakai sebagai sarana promosi. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (dikenal dengan sebutan Otonomi Daerah), ada sejumlah fenomena menarik yang dilakukan oleh masing-masing daerah. Sebelumnya pemerintahan lebih bersifat sentralistik, tetapi dengan adanya undangundang tersebut pemerintahan lebih desentralistik. Artinya, daerah-daerah seperti kabupaten/kota dan propinsi diberi wewenang secara otonom untuk mengelola daerahnya dalam beberapa bidang pemerintahan. Salah satu wujudnya yaitu beberapa kepala daerah mulai menawarkan potensi daerah dan secara lebih luas diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. [Baca Juga: Santri Peraih Juara Tahfidz ASEAN Disambut di Pendopo Pemkab Pamekasan]

Tari batik di acara peluncuran mobil dinas berbranding batik tulis Pamekasan.

City branding umumnya memfokuskan pada pengelolaan citra, tepatnya apa dan bagaimana citra itu akan dibentuk serta aspek komunikasi yang dilakukan dalam proses pengelolaan citra (Kavaratzis, 2008:8) city branding dapat dikomunikasikan melalui tiga jenis komunikasi yang berbeda, yaitu: pertama, Primary Communication, yang berhubungan dengan efek komunikatif dari semua “kegiatan” kota tersebut. Komunikasi ini dibagi menjadi 4 kategori intervensi, yakni landscape strategies (urban design, public space, public art), infrastructure projects, organisational and administrative structure, dan the city’s behavior (visi kota, event, kualitas layanan). Hal ini sesuai dengan yang telaah dan akan di kerjakan pimpinan baru Kabupaten Pamekasan bahwa untuk mengembangkan city branding Pamekasan adalah dengan cara mengkomunikasikan kepada sasaran yang dituju melalui visi dari Pamekasan sendiri, event-event yang memuat unsur budaya kearifan lokal serta kualitas layanan yang mencerminkan keramahtamahan masyarakat Pamekasan dengan Salam.

Kedua, Secondary Communication, adalah komunikasi yang bersifat formal dan terencana yang biasanya dilakukan melalui praktik pemasaran seperti indoor and outdoor advertising, public relations, desain grafik, penggunaan logo, dsb. Ketiga, Tertiary Communication, berhubungan dengan word of mouth, diperkuat oleh komunikasi yang dilakukan media dan kompetitor, jadi tertiary communication ini tidak dapat dikontrol oleh pengupaya city branding dan pemasaran kota. [Baca Juga: Penghargaan Sebagai Kabupaten Peduli HAM Harus Jadi Pemacu Semangat Lebih Baik]

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakilnya Raja’e di logo “Pamekasan Hebat”.

Dalam konteks city branding Kabupaten Pamekasan, memerlukan peran aktif pemerintah daerah dan stakeholder terkait untuk mengemas kota dan daerah dengan baik. Hal ini juga tidak semata-mata di pasrahkan pada stakeholder internal dalam membranding “Pamekasan Hebat” akan tetapi terlu keterlibatan semua elemen para pemangku kepentingan yang berada di dalam kota, misalnya Pemerintah Kota, aparatur/dinas terkait dalam kota, pelaku bisnis/sektor privat (baik umkm maupun bisnis skala menengah ke besar/korporat), pendidik/akademisi (berasal dari sekolah/universitas dalam kota), seniman & budayawan lokal, dan masyarakat secara umum yang masih dapat diklasifikasikan lagi menurut peran masing-masing (pekerja, pelajar, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Begitu juga dengan pelaku bisnis dalam kota yang masih dapat diklasifikasikan lagi berdasarkan jenis usaha yang dijalankan (travel agent, hotel, printing, kuliner, dan sebagainya). Adapun stakeholder eksternal adalah para pemangku kepentingan yang berasal dari luar kota, misalnya seperti Pemerintah provinsi/pusat, calon investor, calon pendatang potensial (pelajar/pekerja), wisatawan (asing maupun domestik), dan lain sebagainya. [Baca Juga: Menteri Koperasi Puspayoga Kagum Batik Tulis Pamekasan]

Oleh karena itu, keterlibatan semua elemen masyarakat Pamakasan dalam istilah madura (song osong lombhung) akan menjadi harapan mampu memposisikan dan menjadi image Kabupaten Pamekasan menjadi lebih baik dan bahkan berkemajuan. Harapan Masyarakat dan generasi muda Pamekasan  yang meju, gayung bersambut dengan Bupati Baru Pamekasan yang mulai menawarkan potensi daerah salah satu potensinya “Batik Pamekasan”, Pemkab dengan kepemimpinan H. Baddrut Tamam, melakukan kreasi yang inovatif dengan membranding mobil dinas dengan Batik Pamekasan dan bertuliskan Pamekasana Hebat. Upaya Pemerintah Kabupaten Pamekasan membranding icon Batik dengan tulisan “Pamekasan Hebat” untuk menjadi dan spirit baru dalam menyampaikan pesan Pemerintah Kabupaten Pamekasan akan melakukan pembangunan terobosan-terobosan baru yang inovatif termasuk melakukan penataan taman kota dan pelayanan publik yang prima. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pasca Sarjana UNITOMO Surabaya.

Perpustakaan “Kobhungan”, Pemberdayaan Literasi Membaca Menuju Pamekasan Hebat

Agus Budiyono, M.Pd*

PAMEKASAN HEBAT – Dalam menciptakan generasi emas 2045 bangsa Indonesia perlu melakukan langkah-langkah kongkrit dalam segala bidang, utamanya dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Istilah literasi ramai diperbincangkan orang dalam kaitannya dengan banyak hal, seperti membaca, menulis, komputer, iptek, budaya, politik, teknologi, lingkungan, dll. Hal ini tak lepas dari makna literasi itu sendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring), literasi dapat dimaknai: 1) kemampuan menulis dan membaca; 2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; dan 3) penggunaan huruf untuk mempresentasikan bunyi atau kata. Untuk itu dengan literasi menjadikan tolak ukur keberhasilan suatu bangsa.

Dalam studi Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia (Republika.co.id; 2014). Lebih lanjut Gawati (2016) menyebutkan Kondisi minat baca bangsa Indonesia memang cukup memprihatinkan. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca (Kompas.com).

Sejalan dengan itu data UNESCO menunjukkan tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001 (Republika, 2015), artinya dari 1.000 orang hanya ada 1 orang yang berminat membaca. (Kurniawati; 2016). [Baca Juga: Menguatkan Identitas Pamekasan Sebagai Kota Batik]

Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Indonesia Satria Darma mengatakan, berdasarkan survei banyak lembaga internasional, budaya literasi masyarakat Indonesia kalah jauh dengan negara lain di dunia. Rendahnya kemampuan membaca dan menulis tak lepas dari budaya masyarakat. Data UNESCO menunjukkan tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001 (Republika, 2015), artinya dari 1.000 orang hanya ada 1 orang yang berminat membaca. Sebuah angka yang menunjukkan rendahnya minat baca orang Indonesia.

Dari permasalahan yang ada dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya minat baca mayarakat Indonesia diantarnya adalah masih ada yang kurang mampu untuk membaca, kurangnya kesadaran dari masyarakat sekitar khususnya orangtua, guru, dan tokoh masyarakat tentang begitu pentingnya membaca, dan kurang di biasakannya membaca. [Baca Juga: Tenggelamnya Budaya Literasi di Era Milenial; Renungan Menuju Pamekasan Hebat]

Dokumen kegiatan literasi di kampung

Kabupaten Pamekasan sebagian bagian bangsa Indonesia punya peranan penting dalam proses menuju tahun 2045 sebagai tahun generasi emas. Selain itu, Pamekasan yang menobatkan diri sebagai Kabupaten Pendidikan pada tanggal 24 Desember 2010, sehingga perlu menggalakkan gerakan-gerakan menuju masyarakat literat seperti yang digalakkan belakangan ini. Kurniawati (2016) menggagas sekolah melek literasi melalui “Gelis Batuk” yaitu program peningkatan kemampuan literasi peserta didik melalui Gerakan Literasi Sekolah Baca Tulis Karya.

Selin itu pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam permendikbud tersebut, kegiatan membaca buku non pelajaran merupakan sebuah kegiatan yang perlu dilakukan minimal 15 menit setiap hari. Melalui kegiatan literasi diharapkan kemampuan membaca dan menulis siswa Indonesia meningkat. Kemampuan membaca dan menulis akan meningkat ketika kegiatan membaca dan menulis menjadi budaya dalam lingkungan sekolah. Lebih lanjut Arisma (2012) mengungkapkan bahwa dengan penerapan program jam baca mampu meningkatkan minat dan kemampuan membaca siswa SMP Negeri 01 Puri. [Baca Juga: Mendorong Penguatan Literasi Ala Baddrut Tamam]

Solusi yang pernah ditawarkan dan dilakukan untuk meningkatkan literasi membaca masyarakat Indonesia adalah adanya penerapan program jam baca sekolah, seminar di sekolah tentang pentingnya dan manfaat membaca. Hal itu kurang efektif. bagi masyarakat pedesaan yang masih kental keagamaannya, karena mereka masih kurang memperhatikan pentingnya membaca, kurangnya dukungan dari orang tua dan mereka kurang begitu memperhatikan nasehat dari guru sekolah, beda halnya akan kepatuhan mereka kalau disuruh oleh kiai.

Kabupaten Pamekasan yang juga dikenal dengan Kabupaten Gerbang Salam, masih memegang teguh tinggi tentang keagamaan, utamanya di daerah pedesaan. Pada masyarakat pedesaan yang masih kental keagamaannya biasanya kebiasaan rutinitas yang dilakukan setiap hari dalam belajar agama adalah mereka mengaji sorogan satu per satu kepada kiai atau berkelompok secara bergantian di kobhung (surau) kiai. Bagi santri yang sudah selesai mengaji, mereka mempunyai waktu kosong yang bisa digunakan untuk mengaji sendiri atau bersantai sambil menunggu semua temannya selesai sorogan pada kiai. [Baca Juga: Ketika Yang Muda Membangun Kepemimpinan Tak Berjarak]

Maka dari itu muncul sebuah gagasan berupa program perpustakaan kobhungan untuk meningkatkan literasi membaca khususnya bagi santri pedesaan. Caranya adalah dengan melakukan kerjasama dengan para kiai dan tokoh masyarakat pedesaan untuk merealisasikan gagasan tersebut. Pertama, meletakkan dan menitipkan beberapa buku bacaan di beberapa kobhung yang sudah ada, sehingga santri yang mempunyai waktu kosong setelah sorogan bisa digunakan untuk membaca buku untuk menambah wawasan mereka.

Selain itu perlu adanya motivasi dari kiai kepada santri agar mereka bersemangat dan membiasakan diri untuk membaca. Untuk itu perlu juga dilakukan bimbingan membaca bagi santri yang belum bisa membaca. Bahkan penting untuk meminta kepada kiai agar memberikan waktu khusus dan mewajibkan kepada para santri untuk membaca yaitu pada saat setelah sholat isyak sebelum pulang agar mereka terbiasa akan hal seperti itu.

Selanjutannya, kalau hal itu sudah berjalan maka dilanjutkan dengan kerjasama dengan aparatur desa untuk membangun kobhung yang dijadikan sebagai perpustakaan masyarakat desa agar mereka lebih senang dan punya tempat khusus untuk membaca.

Dalam hal pengadaan buku bacaan yang akan diletakkan di perpustakaan kobhungan yaitu dengan mendirikan posko peduli membaca di berbagai titik seperti, kampus, alun-alun dan tempat ibadah bagi buku yang sudah tidak dipakai, selain itu akan dilakukan keja sama dengan seluruh perpustakaan sekitar, dan bekerja sama dengan kepala desa untuk memberikan alokasi dana pengadaan buku pada perpustakaan kobhungan. (PAMEKASAN HEBAT)

* Penulis adalah dosen dan peneliti Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan