Arsip Kategori: Spektrum

Bercermin di Pasar Batik

Sulaisi Abdurrazaq*

PAMEKASAN HEBAT – Branding batik adalah cermin politik harapan (political hope) Pemkab Pamekasan, tak hanya di masa Badruttamam-Raja’ie, tapi juga di masa-masa sebelumnya, namun tak se kolosal era “Pamekasan Hebat” kini.

Batik adalah warisan kemanusiaan, budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of The Oral and Intangible Heritage of Humanity) yang ditetapkan UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009, adalah cermin harapan-harapan dalam suatu komunitas, dalam konteks ini adalah cermin harapan dan sosial budaya masyarakat Pamekasan.

Batik dapat mencerminkan kelas dan strata sosial, tergantung pada kualitas visual serta bahan yang mutlak memerlukan sentuhan design, dari batik tercermin pula yang mana batik bangsawan, yang mana (meminjam istilah Karl Marx) batik proletar atau kelas rakyat. [Baca Juga: Gebyar Batik Pamekasan Mulai Dilaunching Baddrut Tamam di Surabaya]

Pada hari Kamis 17 Januari 2019 saya merasa mendapat anugerah karena dapat menangkap pesan dari sebuah kebijakan politik Pemkab Pamekasan yang secara kolosal melakukan branding batik sekar jagad, anugerah itu bermula ketika saya diminta oleh salah satu sahabat untuk menemui sebagian pengrajin, juragan dan pedagang batik di pasar rakyat 17 Agustus Pamekasan, di sana salah satu pedagang batik menyiratkan bahwa batik yang saya pakai tidak berkelas, atau kelas rakyat, saya memang tak punya cukup pengetahuan tentang batik, sehingga saya cukup menimpalinya dengan senyum, di sanalah saya merasa “bercermin di pasar batik”.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam didampingi Wakil Bupati Pamekasan Raja’e saat memperkenal batik tulis hasil kerajinan warga Pamekasan pada tamu perwakilan negara-negara sabatan pada rangkaian acara “Kemilau Madura” di Pendopo Ronggosukowati Pamekasan.

Itulah anugerah, mendorong untuk belajar makna yang terkandung dalam seni batik. Motif sekar jagad sebagaimana promosi Pemkab Pamekasan mengandung makna keragaman, mengandung pula makna keindahan dan keanekaragaman bunga di seluruh dunia (Sekar: bunga, Jagad: dunia), dapat pula bermakna kecantikan dan keindahan sehingga yang memakainya penuh pesona. [Baca Juga: Perpaduan Batik dan Sapi Sono’ Sukses Hipnotis “Madura Eksotic Carnival 2018]

Karenanya kebijakan branding batik dapat dinilai sebagai upaya memberi sentuhan design dengan nuansa baru dan upaya membentuk citra agar hasrat serta imajinasi publik terbentuk untuk bangga melestarikan warisan kesenian budaya nusantara yang di dalamnya terkandung “cultural diversity”, identitas kekitaan yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Peran design, pemahaman terhadap dimensi filosofis pada seni batik, pengenalan aspek sejarah dan kultur terhadap masyarakat, khususnya kaum muda dalam industri batik sangat penting, karena ia mampu memengaruhi peradaban dan sosial budaya, tidak jadi soal pada awal-awal pemerintahan Pamekasan harus membuat sebuah kebijakan yang revolusioner seperti branding batik, karena menurut Sir Winston Churchill: “first we shape our building, then they shape us”.

Saat ini Pemkab Pamekasan sedang membentuk sebuah citra agar batik menjadi cermin sebuah budaya yang digandrungi, tidak hanya digunakan pada acara-acara formal, namun juga dapat elegan digunakan pada acara-acara santai, kita berharap kebijakan branding batik Pemkab Pamekasan dapat melampaui batas-batas imajinasi, sehingga kedepan kebijakan itu justru membentuk masyarakat. [Baca Juga: Bupati Ingin Nuansa Batik Ditonjolkan di Bangunan Kampung Batik]

Saya bercermin dari semua itu, bahwa dalam kebijakan politik batik terkandung cikal bakal lahirnya ilmu design, yang dapat membentuk kultur, dari kebijakan itu tercermin lapangan kerja dan kreativitas bagi anak muda Pamekasan, terbuka peluang yang sangat besar untuk berkarya agar batik dapat menjadi lifestyle, tinggal tangkap peluang lalu action.

Untuk itu, Pemkab Pamekasan beserta masyarakat punya tugas memacu terselenggaranya pelatihan-pelatihan kewirausahaan yang serius, pentingnya sosialisasi, pentingnya pemahaman tentang hak kekayaan intelektual, bahkan pentingnya anak muda memahami aspek historis, sosio-kultural serta nilai-nilai filosofis yang terkandung sejak dini di balik seni batik, jika perlu dapat saja “Sejarah dan Budaya Batik Pamekasan” menjadi kurikulum pendidikan khusus di lembaga-lembaga pendidikan di Kabupaten Pamekasan, itupun hanya opini. Selamat bercermin……!!! (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis adalah pecinta batik dan alumni Pasca Politik Universitas Indonesia.

Menguatkan Identitas Pamekasan Sebagai Kota Batik

Oleh Abd Aziz
PAMEKASAN HEBAT – Kabupaten Pamekasan merupakan satu dari empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur yang sebagian bergantung pada penghasilan usaha batik tulis. Jumlah perajin batik tulis di kabupaten ini, tercatat sebanyak 38 sentra batik, dengan 933 unit usaha, dan 6.526 orang menggantungkan nasibnya pada jenis usaha kreatif ini.

Menurut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, ekonomi usaha batik menyumbang 1-2 persen dalam sektor industri, lebih rendah dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang mencapai 35,66 persen, kemudian posisi kedua ditempati oleh sektor perdagangan besar dan eceran yaitu sebesar 19,61 persen, dan kontribusi terbesar ketiga adalah sektor konstruksi dengan kontribusi sebesar 10,12 persen.

Hanya saja, industri batik juga memiliki keterkaitan erat dengan beberapa program yang sedang dicanangkan bupati, seperti industri kreatif yang menurutnya relevan pada era industry 4.0, maupun dengan program wirausahawan baru, serta beberapa program lainnya.

Oleh karena itu, Pemkab Pamekasan berupaya mendorong berkembangnya industri batik di Kabupaten Pamekasan, dengan melakukan pembinaan, peningkatan sumber daya manusia (SDM), dan pengembangan alat bantu berupa teknologi, dan upaya memperluas akses pemasaran melalui kegiatan promosi sistemik.

Membangun kesadaran masyarakat untuk menggunakan batik, dengan cara berupaya menanamkan rasa cinta terhadap batik tulis Pamekasan sebagai produk lokal, serta mempromosi batik Pamekasan ke level nasional maupun internasional, menurut bupati merupakan hal penting yang harus dilakukan pemerintah.

Bupati Baddrut Tamam dan Wakil Bupati Raja’e didampingi Pj Sekda Moh Alwi dan Kepala Disperindag Bambang Edy Suprapto foto bersama saat peluncuran mobil dinas berbranding batik tulis Pamekasan.

Kebijakan pemerintah dalam berupaya menguatkan rasa memiliki dan bangga akan hasil produk lokal para pembatik Pamekasan ini yang membuat Bupati Baddrut Tamam mengharuskan semua mobil dinas di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) dibranding batik tulis Pamekasan. Sehingga, pada 7 Januari 2019, peluncuran branding batik tulis Pemkab Pamekasan digelar.

Sedikitnya 90 unit kendaraan dinas jenis mobil dan sepeda motor dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan diluncurkan dari Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan.

Mobil dinas Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakilnya Raja`e yang sudah dibranding batik tulis Pamekasan memimpin rombongan kendaraan dinas lainnya berkeliling Kota Pamekasan, mulai dari halaman pendopo dan berakhir di area Monumen Arek Lancor yang merupakan jantung Kota Pamekasan.

“Ini merupakan bagian dari upaya memberikan contoh kepada masyarakat, bahwa masyarakat Pamekasan untuk mencintai produk lokal dan menggunakan produk lokal. Selain itu, kegiatan ini adalah bagian dari upaya pemerintah dalam rangka melestarikan budaya batik khas Pamekasan,” ujar bupati.

Wujud dukungan Pemerintah Kabupaten Pamekasan kepada industri batik adalah dengan mengemas dengan unik, yakni mendesain warna batik pada mobil dinas pemerintah kabupaten Pamekasan.

Ia mengatakan, batik Pamekasan akan menjadi urat nadi bagi Pemerintah Kabupaten Pamekasan, dan hal ini harus segera menular pada seluruh rakyat Pamekasan.

“Batik Pamekasan yang sudah turun-temurun beririsan dengan masyarakat Pamekasan, harus terus kita pertahankan dan bahkan harus dikembangkan, agar batik dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Pamekasan,” katanya, menambahkan.

Untuk itu, Pemkab Pamekasan sengaja memilih desain batik pada seluruh mobil dinas di lingkungan Pemkab Pamekasan dengan tujuan hendak menunjukkan bahwa Pemkab Pamekasan bangga dan akan memberikan bekerja untuk pengembangan dan upaya akselarasi industri batik di Pamekasan.

“Batik merupakan identitas kita. Batik merupakan produk lokal kita. Batik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Pamekasan. Batik adalah kita. Untuk itulah, mulai detik ini, kami deklarasikan, Pamekasan Kota Batik,” kata Bupati Baddrut Tamam.

Dampak Sistemik

Pelepasan balon udara saat acara peluncuran mobil dinas berbranding batik tulis Pamekasan di area Monumen Arek Lancor, Pamekasan.

Akademisi dari Universitas Madura (Unira) Pamekasan Dr Gazali menilai, kebijakan Bupati Baddrut Tamam mengharuskan semua kendaraan dinas dibranding batik tulis itu, akan memiliki dampak sistemik dari segi ekonomi dan sosial.

Pertama, dari sisi ekonomi, menurut dia, jelas akan berdampak pada penjualan batik tulis Pamekasan. Apalagi pemkab tidak hanya mewajibkan semua kendaraan dinas dibranding batik, akan tetapi juga mengharuskan pada hari-hari tertentu menggunakan seragam batik Pamekasan.

Secara otomatis, sambung Gazali, nantinya juga akan menguatkan persepsi publik bahwa menggunakan batik Pamekasan merupakan sebuah kebanggaan, kendatipun dari sisi harga, batik tulis Pamekasan memang lebih mahal dibanding batik luar Pamekasan.

“Jadi, apa yang dilakukan Bupati Pamekasan akan menciptakan persepsi bahwa menggunakan batik Pamekasan adalah sebuah gengsi, karena batik Pamekasan dipakai pejabat,” katanya.

Ketua Presidium Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Pamekasan ini lebih lanjut menjelaskan, bahwa branding mobil dinas dengan batik tulis Pamekasan ini juga akan menginspirasi masyarakat. Buktinya, sejak branding mobil dinas diluncurkan pada 7 Januari 2019, saat ini sudah banyak mobil milik pribadi warga yang juga dibranding batik tulis Pamekasan.

Kedua, dari sisi sosial, branding mobil dinas dengan batik tulis, akan menciptakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat, sehingga masyarakat akan memiliki persepsi bangga saat menggunakan batik tulis hasil kerajinan pengrajin batik Pamekasan.

Apalagi, sambung Gazali, upaya mempromisikan batik tulis Pamekasan itu bukan hanya dengan membranding mobil dinas saja, akan tetapi Pemkab Pamekasan juga memberikan pembinaan pola pemasaran secara “online”.

Gazali lebih lanjut menilai, pilihan Bupati Pamekasan dalam upaya membantu meningkatkan perekonomian pada usaha kreatif batik tulis merupakan pilihan yang tepat. Sebab selain bernilai ekonomi, juga bernilai seni.

“Pengembangan ekonomi melalui seni, di beberapa negara sangat bagus dan menunjukkan peningkatan yang signifikan,” katanya.

Sementara itu, para pengrajin dan pedagang batik tulis di Pamekasan, Madura, Jawa Timur mengaku, penjualan batik tulis memang cenderung meningkat, sejak Bupati Pamekasan menggencarkan promosi batik.

Bahkan, peningkatan penjualan batik tulis Pamekasan sudah terjadi, sejak Bupati Baddrut Tamam dan Wakilnya Raja`e masih sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan, karena seragam yang digunakan merupakan seragam batik tulis Pamekasan.

“Peningkatan penjualan batik tulis tidak hanya pengguna batik lokal saja, akan tetapi di luar daerah, pesanan batik melalui penjualan online juga meningkat,” kata pedagang batik tulis di Pamekasan Hamidah.

Kalangan praktisi seni budaya di Pamekasan menilai, branding batik tulis di mobil dinas milik Pemkab Pamekasan sebenarnya bukan hanya untuk membantu perajin batik mempromosikan batik tulis hasil kerajinan mereka, akan tetapi juga sebagai penguatan identitas Pamekasan sebagai kota batik. (PAMEKASAN HEBAT)

Abd Aziz merupakan pewarta Perum LKBN Antara, sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan. Tulisan berupa karangan khas (karkas) ini juga telah dimuat di Jatim.Antaranews.Com, Senin, 14 Januari 2019)

Menakar Peran Perempuan Pamekasan Dalam Kesetaraan Gender

Oleh: Erfan Iswantoro
Ditakdirkan kalau pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja…
wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu…
namun ada kala pria tak berdaya, tekuk lutut di sudut kerling wanita…

Lagu lawas berjudul “sabda alam” yang pernah dipopulerkan oleh Iin Parlina dan Bimbo ini tentu tidak asing di telinga kita. Sebait lagu di atas salah satunya menggambarkan posisi perempuan yang kurang menguntungkan, walaupun sebenarnya kaum hawa ini punya potensi kekuatan besar. Sepanjang perjalanan sejarah, perempuan memiliki peranan dan kedudukan sangat penting. Kiprah perempuan di panggung sejarah tidak diragukan lagi. Pada tahun 1879 telah lahir seorang pejuang perempuan, yaitu R.A. Kartini. Beliau adalah pelopor dan pendahulu perjuangan untuk pendidikan dan persamaan hak perempuan. Puncaknya dengan diadakannya “Kongres Perempuan” pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Tonggak sejarah inilah yang kemudian kita peringati sebagai “hari ibu” di setiap tanggal 22 Desember.

Dalam perspektif pembangunan yang bernuansa gender, perempuan dan laki-laki harus selalu mendapat akses yang sama dalam pembangunan, dapat berpartisipasi dan bersama-sama mempunyai kesempatan dalam pengambilan keputusan dan akhirnya dapat menikmati keuntungan dari pembangunan tersebut secara bersama-sama pula. Salah satu agenda dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) diantaranya juga disebutkan untuk meraih kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan. Namun kenyataan menunjukkan masih banyak permasalahan yang dihadapi kaum perempuan, termasuk di Pamekasan. Posisi perempuan relatif lebih tertinggal dibanding laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Demikian juga peran perempuan dalam pembangunan saat ini terkesan dikesampingkan dan dipandang sebelah mata.

Potret Gender Pamekasan
Secara jumlah penduduk Pamekasan hasil proyeksi tahun 2017 sebesar 863.004 jiwa terdiri dari 443.515 jiwa penduduk perempuan (51,39%) dan 419.489 jiwa laki-laki (48,61%) dengan sex ratio 94,58. Berdasarkan angka-angka tersebut secara kuantitas perempuan di Pamekasan lebih banyak dari laki-lakinya. Hampir 70% dari jumlah perempuan merupakan kelompok usia produktif. Struktur sosial yang menempatkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga masih mengakar kuat pada sebagian besar masyarakat Pamekasan. Hal ini terlihat dari tingginya persentase rumah tangga yang dikepalai oleh laki-laki yaitu 76,4%. Namun demikian masih terdapat sekitar 23,52% perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Secara tradisi posisi mereka identik dengan tulang punggung keluarga, kerena sebagian besar KRT perempuan tersebut bekerja.

Secara umum pendidikan laki-laki relatif lebih baik dari perempuan, ini tergambar dari tingkat pendidikan penduduk yang ditamatkan dan angka literasi penduduk. Di Pamekasan masih terdapat 20,87% perempuan usia 5 tahun ke atas yang belum mengenyam pendidikan sama sekali. Sebaliknya, perempuan berumur 5 tahun ke atas yang masih sekolah lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Demikian juga dengan pendidikan yang ditamatkan penduduk perempuan Pamekasan, semakin tinggi jenjang pendidikan, persentasenya semakin rendah. Berdasarkan data hasil Susenas 2017, persentase perempuan berpendidikan SD/sederajat sebesar 63,29%, SLTP/sederajat 17,76%, SLTA/sederajat 15,05%, dan Perguruan Tinggi 3,91% persen. Sementara persentase laki-laki berturut-turut 49,89%, 19,06%, 22,10% dan 8,95%. Kondisi ini berdampak terhadap rendahnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) perempuan terutama pada kelompok usia 16-18 tahun.

Dari sisi tingkat literasi (keaksaraan), semakin tinggi kelompok umur semakin besar perbedaan capaian melek huruf antara laki-laki dan perempuan, terutama pada kelompok usia 45 tahun ke atas. Kebalikan dari melek huruf adalah buta huruf. Secara umum, angka buta huruf perempuan lebih tinggi dibanding angka buta huruf kaum laki-laki, yaitu 18,75% dibanding 9,17%. Hal tersebut menunjukkan secara umum ketertinggalan pendidikan kaum perempuan dibanding laki-laki.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan sebesar 61,08%, lebih rendah dibandingkan TPAK laki-laki yang sudah mencapai 81,97%. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) perempuan sebesar 4,04%, lebih tinggi dibandingkan dengan TPT laki-laki (3,81%). Sebenarnya kemampuan perempuan Pamekasan saat ini sudah mengalami kemajuan. Profesi yang terkesan maskulinpun sudah banyak diisi oleh perempuan, misalnya jabatan di bidang pemerintahan dan jabatan profesional lainnya.

Pada 2017, terdapat sekitar 15,38% perempuan Pamekasan yang menduduki jabatan eselon III ke atas di Pemerintahan Daerah. Begitu juga dengan jabatan kepala desa, sekitar 16,29% sudah dinahkodai kaum perempuan. Namun, yang masih memprihatinkan adalah keterwakilan perempuan di parlemen. Secara umum semua partai politik peserta pemilu telah mengusung perempuan sebagai caleg, sesuai dengan Undang-Undang Pemilu sebanyak 30% dari total calon yang ada. Namun kenyataannya dari jumlah calon tersebut yang terpilih menjadi anggota DPRD di Kabupaten Pamekasan baru sekitar 6,67 persen. Kaum perempuan di Pamekasan hanya diwakili oleh 3 orang saja, padahal jumlah mereka lebih banyak dari laki-lakinya.

Namun yang patut diapresiasi, bahwa caleg perempuan memiliki daya juang dan kapasitas bertarung yang mumpuni di daerah pemilihan masing-masing. Di tengah gempuran suara terbanyak, biaya kampanye yang mahal, perempuan bisa bertahan dan lolos ke parlemen.

Peran perempuan dalam kesehatan sangat vital terutama dalam mendukung kesehatan anak dan keluarga pada umumnya. Perempuan memiliki fungsi penyedia kesehatan (health provider) bagi anggota keluarga, dan sebagai agen sosialisasi nilai-nilai hidup sehat. Salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan penduduk adalah keluhan kesehatan. Persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan menurut jenis kelamin pada tahun 2017 lebih banyak perempuan (28,02%) meskipun untuk laki-laki tidak jauh berbeda (24,06%).

Pengaruh Budaya
Upaya pengembangan potensi penduduk perempuan salah satunya terganjal budaya yang masih membelenggu sebagian masyarakat. Di bidang pendidikan, kesamaan hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan untuk menempuh pendidikan, baik formal maupun informal memang tidak ada perbedaan. Namun, peluang ini tereduksi dengan konstruksi budaya yang menyatakan perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena toh akhirnya ke dapur juga. Permasalahan lain di bidang pendidikan yang dapat dicermati adalah rendahnya kontrol perempuan dalam bidang pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari indikator keputusan untuk melanjutkan sekolah biasanya tidak berada di tangan perempuan tetapi keluarga. Akibatnya, jumlah perempuan pada tingkat pendidikan tinggi dan jurusan-jurusan tertentu sangat terbatas, sehingga perempuan belum dapat menikmati program dan kegiatan pendidikan di semua jenjang.

Dari sisi ketengakerjaan, ketertinggalan perempuan salah satunya disebabkan oleh budaya, bahwa tanggung jawab mencari nafkah pada umumnya merupakan tanggung jawab laki-laki. Secara kultural perempuan memiliki tanggung jawab mengurus rumah tangga. Dalam bidang kesehatan, kualitas perempuan juga menuntut untuk ditingkatkan. Ketergantungan perempuan pada laki-laki untuk pengambilan keputusan yang berdampak pada kesehatan perempuan masih tinggi, seperti penentuan untuk ke dokter, keikutsertaan KB, periksa kehamilan, hingga persalinan, dan lain-lain. Rendahnya kualitas kesehatan perempuan diperparah adanya konstruksi budaya yang menempatkan kualitas kesehatan laki-laki dan suami jauh lebih penting daripada perempuan.

Penutup
Perempuan dalam konteks pembangunan daerah masih dalam kondisi yang belum memuaskan. Kenyataan ini ditunjukkan dengan rendahnya partisipasi, kontrol dan akses perempuan dalam berbagai bidang pembangunan serta sedikitnya perempuan yang memperoleh manfaat dari pambangunan. Oleh karena itu, momentum peringatan “Hari Ibu” tahun ini bisa kita manfaatkan untuk penguatan komitmen dan upaya yang lebih sungguh-sungguh dalam melaksanakan pembangunan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Pamekasan sehingga kualitas hidup perempuan dapat lebih ditingkatkan. Dengan demikian semangat dan cita-cita R.A. Kartini bisa dinikmati oleh perempuan Pamekasan sejalan dengan cita-cita mewujudkan Pamekasan Hebat. Semoga… (PAMEKASAN HEBAT)

Penulis merupakan ASN pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan. Tulisan ini sebagai refleksi peringatan Hari Ibu 22 Desember 2018.

Demonstrasi Tanpa Spasi

ImamOleh Imam S Arizal
PAMEKASAN HEBAT – Banyak pihak risau, terutama para mantan aktivis mahasiswa melihat perilaku demonstran. Risau bukan karena matinya gerakan, tetapi nilai-nilai yang diperjuangkan mulai kabur. Secara kuantitas memang tampak ramai, tetapi dari sisi kualitas, demonstrasi tampak sepi.

Konon, pada saat rezim Orde Baru berkuasa, demonstrasi terasa mahal harganya. Hanya orang-orang punya nyali tinggi yang berani bersuara lantang di jalanan. Sebab setelah itu, mereka harus siap-siap berhadapan dengan aparat penegak hukum. Para aktivis seperti itu biasanya lahir dari ruang-ruang tersembunyi atau kelompok-kelompok yang “anti kemapanan”.

Tapi kini, pascareformasi, demonstrasi terkesan hanya sebagai rutinitas. Di Pamekasan, demonstrasi seperti “kalimat tanpa spasi“. Terus bersambung hingga sulit dicari apa urgensi dari sekian demonstrasi yang digelar tersebut.

Dalam catatan Polres Pamekasan, selama 2014 ada sekitar 85 demonstrasi. Itu artinya setiap empat hari sekali ada demonstrasi di Kota Gerbang Salam. Maraknya demonstrasi memang membuat banyak orang gundah. Apalagi ada bisik-bisik yang menyebut tidak semua aksi yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) murni demi kepentingan rakyat. Ada pihak-pihak yang menunggangi, ada transaksi, dan ada gula yang diperebutkan. Demonstrasi dikendalikan oleh pihak yang oleh Gramsci disebut sebagai invisible hand.

Sebagian menilai, maraknya demo di Pamekasan karena para demonstran itu menaruh harapan hidup pada pemkab. Mereka bisa mendapat pundi-pundi keuntungan dari isu yang disuarakan. Karena konon katanya, dari bisik-bisik di warung kopi, tidak jarang penggerak demo melakukan lobi-lobi dengan kepala dinas untuk mendapat kucuran dana. Jika negosiasi buntu, demonstrasi akan digelar di jalanan.

Ironisnya, masih ada kepala dinas yang takut pada gertak sambal LSM yang sering menggelar demo. Sebagian mengaku sengaja mengeluarkan uang tutup mulut agar proyek yang dijalankan di instansinya berjalan lancar. Sebagian lain mengaku, pihaknya enggan berurusan dengan polisi dan kejaksaan jika harus diundang sebagai saksi dan lain hal.

Pendapat di atas mungkin bersifat kasuistik. Ada lagi asumsi yang mendasari banyaknya aksi demonstrasi, yaitu bergesernya budaya mahasiswa, dari idealis menjadi pragmatis. Apa saja yang menguntungkan akan dilakukan, termasuk dengan cara jual beli gerakan. Inilah yang sering dilontarkan pada pengkaji budaya mahasiswa.

Karena aktivis mahasiswa sudah berbicara untung rugi, advokasi sosial menjadi sepi. Mahasiswa tidak lagi mendatangi masyarakat miskin, putus sekolah, atau kelompok-kelompok marginal. Sebab, kerja sosial tersebut tidak menguntungkan.

Berbeda dengan gerakan jalanan. Semakin sering berdemonstrasi dan audiensi, mereka akan semakin dekat dengan kekuasaan. Ketika itu terjadi, pundi-pundi keuntungan bisa dicapai. Termasuk memegang proyek pemerintah daerah agar gerakan mereka bisa sedikit slow atau terukur.

Mungkin ini hanya pendapat orang per orang. Akan tetapi wacana ini sudah menjadi rahasia umum, khususnya di kalangan para pemburu fakta. Banyak pihak yang bercerita, banyak pihak yang merasa dirugikan dengan banyaknya unjuk rasa.

Namun demikian, banyaknya unjuk rasa tidak serta-merta disudutkan pada kesalahan LSM dan aktivis mahasiswa. Sebab, mereka bergerak bukan tanpa pembacaan. Ada dasar yang melatarbelakangi aksi itu dilakukan. Setidaknya, memang banyak celah yang bisa dimasuki oleh aktivis mahasiswa di Kota ini.

Proyek pembangunan yang berjalan lamban, proses lelang yang tidak transparan, serta tidak meratanya pembangunan membuat masyarakat juga gerah. Karenanya, para pejabat di Pamekasan memang perlu melakukan refleksi, ada apa di balik maraknya demonstrasi? Sebab, seperti kata pepatah, semut di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tak kelihatan.

Penulis masih yakin, masih banyak aktivis mahasiswa yang idealis. Tidak semua demonstrasi berakhir dengan transaksi. Demikian juga tidak semua kepala dinas mau meladeni permintaan pihak-pihak yang selalu mengancam akan melakukan demonstrasi. Jika kepala dinas tersebut bersih, mereka pasti bisa menolak. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis adalah wartawan Radar Madura, asal Pamekasan yang kini bertugas di Kabupaten Sumenep.

Tenggelamnya Budaya Literasi Mahasiswa di Era Milenial; Renungan Menuju Pamekasan Hebat

Oleh: Moh Hafid
PAMEKASAN HEBAT – Budaya literasi baca-tulis di sebagian kalangan mahasiswa akhir-akhir ini sangat memperihatinkan. Hal tersebut terbukti dengan rendahnya minat baca tulis mereka. Akibatnya, perpustakaan menjadi sepi seakan-akan hanya sebagai gudang buku belaka. Mereka hanya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang jauh dari nilai-nilai kemahasiswaan sebagai agen perubahan. Waktu mereka jauh lebih banyak tersita dengan bersantai ria, ngobrol, ‘ngalor-ngidul‘ tanpa arah dan tujuan, bermain, menonton dan bersenggama asyik bersama internet dan gadget khususnya ponsel cerdas (smartphone).

Berbeda dengan mahasiswa zaman dulu. Minat baca-tulis mereka sangat tinggi sekalipun fasilitas sangat terbatas dan teknologi belum berkembang pesat seperti era sekarang. Mereka dengan semangatnya yang tinggi berbondong-bondong mendatangi perpustaan, mencari informasi, menambah wawasan, menggali pengetahuan dan mengembangkan kepribadian, sehingga nilai-nilai kemahasiswaan tertanam subur dalam kehidupan mereka. puncaknya, tidak disangkal lagi, status mereka sabagai agen perubah sosial betul-betul terlihat dengan jelas. (kompas, edukasi 2009).

Salah satu faktor yang melatar belakangi fenomena diatas adalah banjirnya perkembangan teknologi di era milenial yang ditandai dengan meningkatnya penggunaan dan keakraban komunikasi, media dan teknologi digital yang berpengaruh besar terhadap kehidupan mahasiswa akhir-akhir ini. Budaya literasi baca-tulis mereka tenggelam terbawa arus banjir abad ke-21. Smartphone dan internet yang menjadi kebanggaan dan seakan-akan menjadi kebutuhan pokok mereka telah mencuri perhatian mereka untuk mendekati “perahu keselamatan” yang berupa buku.

Belum lagi, faktor warisan nenek moyang yang menghambakan budaya tutur, dengar dan menonton masih saja tetap memperangkap kehidupan mereka. Betapa banyak waktu yang berlalu sia-sia dalam kehidupan mereka demi untuk mendegarkan sesuatu yang tidak berguna, seperti mendengarkan musik. Berjam-jam mereka ngobrol di kafe atau warung kopi tanpa ingat waktu, begitu juga mereka sepuasnya tanpa merasa lelah berada didepan televisi demi menonton sesuatu yang jauh dari nilai-nilai positif.

Kondisi demikian, menggambarkan bahwa mereka telah terkena gejala penyakit disleksia. Penyakit ini memang aneh ditelinga kita karena jarang didengar. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, “dys” bermakna kesulitan sedangkan “lexis” bermakna bahasa. Istilah ini dipakai sebagai bentuk identifikasi terhadap seseorang yang mengalami gangguan kesehatan dan ketidak-mampuan belajar akibat dari kesulitannya mengerjakan kegiatan literasi, berupa membaca, menulis, menghafal dan menganalisa teks.(Sutedjo, 2013).

Akibatnya, tidak disangsikan lagi kalau Indonesia berdasarkan pemeringkatan terbaru 2016 dari data World’s Most Literate Nationals yang dilaksanakan oleh Central Connecticut State University Amerika Serikat yang dimotori oleh John W. Meller, berada ditingkatan kedua paling bawah dari 61 Negara yang diteliti dalam peringkat literasi (Dr. Ibadullah Malawi Dkk., 2017). indeks minat baca di Indonesia menurut catatan UNESCO pada 2012 baru mencapai 0,001. Artinya, dalam 1000 orang hanya ada satu orang yang berkegiatan membaca. (http: republika.co.id, 11 November 2014).

Selain itu, penerbitan buku di Indonesia yang sangat rendah ketimbang Negara lainnya juga sebagai dampak dari hilangnya identitas masyarakat akademis saat ini. Buku yang terbit tiap tahun baru mencapai angka 5000-10.000 judul buku pertahun. Angka tersebut sangat kecil dibandingkan dengan Malasyia yang mencapai angka 15.000 judul buku pertahun, dan lebih dari 100.000 judul buku di Inggris per tahun (Hudayani, 2013).

Budaya literasi di Perguruan Tinggi
Menyelenggarakan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian yang kemudian dikenal dengan Tridarma merupakan tugas pokok perguruan Tinggi. Sekian banyak kegiatan dan program yang dihelat civitas akademika mulai dari dosen, mahasiswa hingga ke tenaga kependidikan harus mengacu pada Tridarma pendidikan tinggi tersebut guna menciptakan budaya akademik yang puncaknya dapat mewujudkan visi, misi dan tujuan dari perguruan tinggi.

Salah satu tugas perguruan tinggi untuk mewujudkan tujuan dimaksud adalah menjadikan masyarakat kampus sebagai manusia yang progresif, kreatif, efektif, kritis, intelek dan bermoral. Tugas ini memang berat, menuntut perguruan tinggi berupaya sekuat mungkin membangun budaya akademik.
Budaya literasi masyarakat kampus menjadi indikator utama dan pertama terciptanya budaya akademik dilingkungan perguruan tinggi. Karena Tridarma perguruan tinggi dalam pelaksanaanya tidak bisa dilepaskan dari dunia literasi, belum lagi literasi menjadi faktor utama dan pertama dalam sebuah kemajuan hususnya kemajuan perguruan tinggi yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah peradaban yang gemilang.

Menurut Siregar (1996), mahasiswa sebagai bagian dari msyarakat akademis, mempunyai kewajiban membaca. Untuk mengembangkan kebiasaan membaca, lingkungan pendidikan tinggi merupakan tempat yang strategis. Aktivitas rutin sehari-hari masyarakat ilmiah dan akademik seyogyanya diisi dengan kegiatan membaca, karena tugas-tugas mereka menuntut untuk terus melakukan aktivitas membaca. Kegiatan belajar, meneliti, menulis, seminar, dan diskusi menuntut mahasiswa untuk selalu membaca dan memperoleh pengetahuan dan informasi yang relevan da mutakhir agar mutu hasil belajarnya terus meningkat.

Selain itu,fungsi sosial yaitu untuk memperoleh kualifikasi tertentu yang disebut dengan achievement reading juga membutuhkan kegiatan membaca juga. Puncaknya kegiatan belajar dan membaca sejumlah bahan bacaan terutama yang direkomendasikan oleh dosennya dapat mengantarkan mahasiswa menjadi lulusan terbaik.

Menulispun juga merupakan serangkaian kegiatan mahasiswa yang tidak boleh dipisahkan dengan kegiatan membaca. Ia merupakan satu kesatuan bagaikan dua sisi mata uang, karena membaca dapat menggerakkan tangan-tangan mereka untuk menuliskan kata-kata yang telah terproduksi dalam daya nalarnya melalui pengetahuan yang didapat pada saat membaca. Kebebasan kongnitif mahasiswa dalam merekayasa apa yang dirasakan dengan bebas tanpa paksaan dari siapapundapat disalurkan melalui tulisan, dalam dunia kampus untuk mengembangkan suatu tulisan ilmiah yang bermanfaat bagi orang banyak.

Perguruan Tinggi tak perlu susah-susah mencari dana atau menekan agar kampusnya berada dalam peringkat atas kampus unggulan,karena hal itu bisa didapat dengan mengembangkan dunia literasi. Dengan literasilah semua itu akan otomatis bergerak, karena itulah kisi-kisi kampus berstandar dunia.
Namun dalam fenomenanya, kegiatan membaca di kalangan mahasiswa saat ini menjadi suatu hal yang sangat mahal untuk dijumpai. Meskipun telah banyak fasilitas yang dapat digunakan oleh kaum akademisi tersebut sebagai salah satu penunjang dari kegiatan-kegiatannya yang berhubungan dengan statusnya sebagai calon insan intelektual.

Geliat kegiatan mahasiswa di perpustakaan menjadi suatu fenomena yang langka. Forum-forum diskusi pun sangat sulit ditemukan di kalangan mahasiswa. Betapa banyak mahasiswa melupakan tradisi intelektual seperti membaca, menulis, diskusi dan riset, yang berbagai tradisi tersebut sebenarnya dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan mereka. Seakan-akan mereka merasa cukup dengan menjadikan dosen sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

Partisipasi mahasiswa di kelas saat mengikuti kuliah juga menjadi bukti mahalnya budaya literasi dikalangan mereka.Betapa tidak, mengingat mereka sangat sulit untuk menyampaikan permasalahan dengan bertanya terkait sajian materi yang telah disampaikan oleh dosen pengampu. Sikap mereka tidak lebih dari sekedar diam dan menenerima informasi yang tertuang dalam perkuliahan.Mereka bungkam tidak bisa mengkritisi pendapat dan ide yang disampaikan dosen. Inilah akibat dari kurangnya membaca, menyampaikan pertanyaan saja mereka bingaun apalagi mau mengkritisi. Padahal kemampuan untuk bertanya dan kualitas pertanyaan sebenarnya dapat ditelusuri dari hasil bacaan mereka. Bagaimana mereka bisa mampu bertanya dan memberikan pertanyaan yang berkualitas sedangkan mereka tidak mempersiapkan materi yang akan disampaikan dosen dengan membaca sebelum perkuliahan berlangsung.

Spirit literasi dalam Al-Qur’an
Ali Romadhani, MA.( 2015) menyampaikan bahwa spirit dan motivasi Al-Qur’an terhadap budaya literasi baca-tulis dapat disingkap dalam beberapa hal berikut:

Pertama, perintah membaca dan menulis, yang tertuang dalam surah al-Alaq/96 ayat 1-5. Ayat ini menginginkan revolusi besar-besaran dari suatu masyarakat yang jauh dari tradisi baca tulis, dari suatu bangsa yang sangat rendah menjadi bangsa yang paling mulia. Karena jika tidak ada tulisan tentu pengetahuan tidak akan terekam agama akan sirna dan bangsa belakangan tidak akan pernah mengenal sejarah peradaban umat sebelumnya.

Kedua, filosofi iqra’. Wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. adalah perintah membaca. Hal ini mengindikasikan begitu pentingnya perihal membaca sehingga NabiMuhammad SAW diharuskan membaca yang berarti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui dan lain sebagainya. Hal ini, tidak lain kecuali bahwa salah stu tugas manusia dalam kehidupan adalah membaca hingga menjadi sebuah kebiasaan dan kbutuhan.

Ketiga, perintah mencari ilmu pengetahuan dan inspirasi tradisi manajemen, perintah mencari ilmu pengetahuan selain dari surah al-Alaq diatas dapat ditemukan dalam subtansi yat 31 Al-Baqarah, 179 Al-A’raf, ayat 9 Al-Nisa’, ayat 2 Al-Jumu’ah, ayat 11 Al-Mujadalah, ayat 43 Al-Nahl, dan ayat ke-9 al-Zumar. Subtansi dari kesemua ayat ini memerintahkan umat manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan merupakan syarat utama diraihnya suatu hal, mengetahui dirinya, apa yang mesti dilakukan dan kemana mesti melangkah. Ilmu pengetahuan dan tulis menulis merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan. Perintah untuk mencari ilmu pengetahuan juga menjadi perintah utuk mengembangkan budaya tulis menulis, karena tulisan adalah sarana bagi pencarian ilmu pengetahuan dan tulisanlah yang menjadi pelantara ilmu pengetahuan untuk selalu dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya. Sementara ayat yang berbicara terkait tradisi manajemin dapat disingkap dalam ayat ke-282 QS. Al-Baqarah dan ayat ke-33 QS. Al-Nur, yang mana hal ini mengarah kepada fungsionalitas tulisan sebagai bukti otentik yang efektif dalam perdagangan demi melindungi hak-hak secara benar.

Keempat, disamping terdapat perintah membaca dan menulis serta perintah mencari ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an juga menyebut seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis, seperti, kata midad (tinta), qalam (pena), qirthas (kertas), lauh (batu tulis), raqq (lembaran) dan shuhuf (helai kertas). Puncaknya, Al-Qur’an hanya ingin menekankan terhadap budaya baca tulis agar betul-betul terbumikan hususnya dalam masyarakat kampus yang dihuni oleh orang-orang cerdas, akademis, agen perubah dan para ilmuwan-ilmuwan.

Peran perguruan tinggi dalam meningkatkan budaya literasi mahasiswa Fenomena diatas merupakan sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar bagi kalangan perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak boleh berdiam diri hanya sekedar menjadi penonton apalagi bersikap acuh. Upaya-upaya apapun harus dilakukan demi meyelamatkan mereka dan terciptanya budaya akademik, khususnya budaya literasi.

Sehingga selain dapat menciptakan lulusan berkualitas yang memiliki pengetahuan, kreatif, inovatif, dan kritis, juga akan dihasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.

Kesungguhan serta keseriusan yang betul-betul nyata perlu menjadi modal utama dalam mengelola perguruan tinggi terlebih dalam menghadapi kenyataan diatas. Karena sesungguhnya problem yang dihadapi ini sangat prinsipil, erat kaitannya dengan keberlangsungan hidupnya. Betapa tidak, terbukti bahwa semua aktivitas yang terdapat dalam perguruan tinggi terikat erat dengan kegiatan membaca dan menulis, hususnya kegiatan tranformasi ilmu yang menjadi starting poin perguruan tinggi.

Kesungguhan serta keseriusan dalam mengelola perguruan tinggi dapat dilihat melalui aturan, kode etik serta kedisiplinan. Perguruan tinggi yang bersungguh-sungguh serta serius, tentunya tidak hanya membuat aturan tapi juga menegakkan dan tegas memberikan sangsi bagi para pelanggar. Perguruan tinggi harus tampil penuh dengan tekanan kepada seluruh satuan kerja, dosen dan mahsiswa. Tekanan dimaksud berupa aturan yang ketat dan sangsi yang hebat. Karena sejatinya manusia secara hukum alam sangat butuh tekanan untuk bisa bertahan hidup dan melangkah pada kehidupan yang lebih baik.

Sadar atau tidak selama ini banyak perguruan tinggi khusunya perguruan tinggi suwasta yang kurang begitu memperhatikan point ini. Ia hanya sekedar berjalan memenuhi tuntutan aturan pemerintah sedang kulitasnya tidak pernah terpikirkan menjadi sebuah prioritas utama. Dosen hanya memberikan wejangan materi terhadap mahasiswanya, sebagai bentuk pemenuhan kewajiban. Begitupun mahasiswa, mereka hanya sekadar datang, masuk, mendengarkan, mengerjakan tugas dan pulang sebagai bentuk pemenuhan kehadiran belaka, sehingga maklumlah angka pengangguran dari kaum sarjana semakin menunjukkan ketinggiannya. Bagaimana bisa membudayakan literasi baca-tulis dalam lingkunganya sedangkan ia tak pernah memperhatikan caranya. Lingkungannya dibiarkan terkontaminasi dengan serangkaian kegiatan yang berujung stagnan, berjalan ditempat serta antara hidup dan mati. Ia lebih memasrahkan pada diri personal masing-masing. Kesadaran tidak pernah dipancing dengan aturan-aturan yang ketat, tekanan yang kuat dan sangsi yang hebat. Puncaknya hingga qiyamatpun budaya literasi baca tulis tidak pernah tumbuh berkembang apalagi menginginkan peradaban yang maju.

Berangkat dari premis dan kondisi demikian penulis ingin mengajukan beberapa solusi untuk menumbuhkan minat baca-tulis masyarakat kampus hususnya mahasiswa yang pada akhirnya akan menciptakan budaya literasi baca-tulis dikalangan mereka, sehinga dengan sendiri peradaban kampus menjadi maju dan pendidikannya menjadi berkualitas. Solusi tersebut bisa dilihat dalam beberapa poin berikut:

Pertama, adanya kesungguhan dan keseriusan dalam mengelola perguruan tinggi untuk mewujudkan tridarma perguruan tinggi yang kesemunya terbungkus dengan budaya literasi. Kedua, adanya aturan dan tekanan yang ketat dari perguruan tinggi hususnya bagi dosen dan mahasiswa dalam menjalankan tugasnya yang mengarah pada aktifitas membaca dan menulis. Ketiga, adanya sangsi yang menakutkan bagi para pelanggar aturan dan sangsi diarahkan pada aktifitas membaca dan menulis. Keempat, kurikulum yang disiapkan harus betul-betul mengarah pada aktifitas membaca dan menulis. Kelima, memberikan kewajiban lain berupa, kewajiban membaca buku, datang keperpustakan, kewajiban menulis artikel dan kewajiban lainnya selain hadir ke kelas serta mengerjakan tugas makalah, sebagai syarat naik pangkat baik dosen dan bisa mengajukan proposal penelitian skripsi bagi mahasiswa. Keenam, perguruan tinggi harus banyak mengadakan perlombaan kepenulisan dan juga memberikan reward bagi pemenang dan para pembaca buku terbanyak. Terakhir, adanya peningkatan fasilitas kampus untuk menumbuhkan minat baca-tulis.

Kesimpulannya, mengerucut pada salah satu adagium Arab yang menyatakan bahwa “barang siapa yang bersungguh-sungguh niscaya ia akan mendapatkannya”. Jadi kesungguhan dan keseriusan betul-betul menjadi syarat mutlaq terwujudnya budaya literasi kampus hususnya literasi mahasiswa. Karena sebanyak apapun aturannya, dan sebesar apapun tekanannya jika kurang diseriusi maka ia tidak akan membuahkan apapun. Wallahu a’lam. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis Universitas Al-Ahgaff Yaman, asal Desa Akkor, Kecamatan Palengaan Pamekasan, Jawa Timur dan hingga saat ini aktif sebagai tenaga pendidik di salah satu pesantren di Madura. Penulis kini juga tercatat sebagai mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Sunan Giri Surabaya.

Menangkap Potensi Wisata Baru Pamekasan, di Kawasan Hutan Mangrove

Akh Fawaid Dosen STIE Bhakti Bangsa Pamekasan.

Oleh: Akh. Fawaid
PAMEKASAN HEBAT – Kawasan wisata alam di Kabupaten Pamekasan,belum sepenuhnya mampu bersaing dengan kawasan wisata alam, yang berada di Madura. Sebutlah, Kabupaten Sumenep, yang memiliki belasan wisata alam, yang mampu menarik wisatawan domistik maupun internasional datang, ke Kabupaten yang berada di kawasan timur Madura tersebut.

Ada banyak masalah mengapa tempat wisata alam di Kabupaten Pamekasan, belum sepenuhnya memikat wisatawan domistik, apalagi wisatawan macanegara. Salahsatunya, belum terpenuhinya beberapa elemen pariwisata. Elemen Pariwisata menjadi penting untuk dipersiapkan, untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat pengunjung.

Elemen pariwisata yang dimaksud diantaranya, elemen antraksi. Elemen ini lebih kepada sasaran atau tujuan wisata yang mampu memberikan daya tarik kepada wisatawan. Baik dari sisi keunikan, keragaman, maupun fasilitas yang ditawarkan.

Selanjutnya, elemen fasilitas. Elemen ini lebih kepada penyediaan kebutuhan yang diinginkan oleh pengunjung atau dikenal dengan pernak-pernik yang sediakan di lokasi wisata. Misalnya, penyediaan kamar mandi, mushalla, termasuk kuliner di lokasi wisata.

Elemen intrastruktur lebih kepada penyediaan kemudahaan akses Jalur menuju lokasi wisata. baik akses jalan di dalam lokasi wisata, maupun diluar wisata yang menuju tempat wisata. dan selanjutnya adalah elemen trasportasi. Elemen ini untuk mempermudah pengunjung didalam mendapatkan alat trasnportasi yang layak dan terjangkau terhadap lokasi wisata yang dituju. Lalu, elemen kelembagaan.

Mengelola tempat pariwisata, membutuhkan sebuah kekuatan organisasi atau persatuan yang mengikat. Dalam pengelolaan pariwisata yang biasa dilakukan oleh kelompok pecinta Pariwisata, seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), ataupun elompok pelopor pemuda pariwisata, ataupun dikendalikan oleh pihak ketiga langsung, yang berupa perusahaaan pengelola tempat wisata. Dan Elemen Informasi Dan Promosi. Elemen ini lebih kepada informasi fasilitas yang ditawarkan, rute maupun papan larangan dikawasan wisata. Sementara promosi adalah penyebarluarsan informasi kawasan wisata, misalnya lewat webset, blogger, facebbok, twiter, istagram, maupun media cetak berupa koran maupun elektronik berupa radio dan online.

Di Kabupaten ini, ada beberapa lokasi wisata alam, yang dikendalikan pemerintah, maupun masyarakat. Misalnya yang dikendalikan oleh Pemerintah ialah wisata pesisir talang siring, yang berada di Desa Montok Kecamatan Larangan, Pamekasan. Kawasan wisata Pantai Jumiang, yang berada di Dusun Jumiang, Desa Tanjung Kecamatan Pademawu.

Sementara, wisata alam yang dikendalikan oleh masyarakat, ialah wisata Api Tak Kunjung Padam atau wisata api yang tidak pernah padam atau mati. Wisata ini terletak di Desa Larangan Tokol Kecamatan Tlanakan Pamekasan. Wisata ini, sepenuhnya dikelola oleh pemilik lahan. Pemerintah sudah berkali-kali melakukan loby, agar pengelolaanya dikendalikan pemerintah. Tetapi, pemilik lahan enggan menyetujuinya.

Dari beberapa tempat wisata tersebut, belum sepenuhnya mengikuti elemen pariwisata, seperti yang sudah dijelaskan diatas. Misalnya saja, kawasan wisata talang siring. Dari sisi elemen antraksi, kawasan wisata ini memiliki daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat melihat laut lepas dari kawasan wisata talang siring. Khususnya pada saat pagi hari maupun sore hari. Pada pagi hari, pengunjung akan melihat detik-detik terbitnya matahari dari arah timur. Sementara, sore hari pengunjung bisa melisat detik-detik terbenamnya matahari.

Sementara, elemen fasilitas baru dimulai sejak tahun 2018, secara bertahap dipenuhi oleh Pemkab Pamekasan. Namun, fasilitas yang ditawarkan belum sepenuhnya. Namun, fasilitas yang disedikan di kawasan wisata tersebut, rupanya belum sepenuhnya mampu memikat wisatawan. Elemen kelembagaan di wisata talang siring, juga sudah terbentuk melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Berbeda dengan wisata Pantai Jumiang, tempat yang memiliki panorama indah itu, kondisinya tidak menampakkan sebagai tempat wisata. Ditambah lagi, kondisi fasilitas tempat wisata yang rusak. Namun, setelah ada perbaikan dari pemerintah, kawasan wisata tersebut, mulai ada keindahan. Sekalipun, fasilitas yang di bangun, belum sepenuhnya memuaskan pengunjung. Ditambah lagi, akses infrastruktur jalan, yang menuju kawasan wisata, diketahui masih banyak yang rusak.

Kebedaraan Hutan Mangrove Dan Potensi Destinasi Wisata Baru
Hutan Mangrove atau istilah lainya di kenal hutan bakau. selama ini dikenal sebagai tanaman penangkal ombak, yang berada di sejumlah kawasan pesisir di Indonesia khususnya di Pulau Madura.

Hutan mangrove sendiri merupakan hutan yang tumbuh di air payau dan proses pertumbuhanya di pengaruhi oleh pasang-surutnya air laut dan hutan ini selalu tumbu di kawasan dimana terjadi pelumpuran dan kumulasi bahan organik.

Di Madura sendiri, pertumbuhan pohon mangrove ini sering kali tidak mendapat perhatian masyarakat. Bahkan, justru mendapat perlakuan kejam, berupa pengrusakan, penebangan dan pencabutan pohon mangrove. Akibatnya, kelestarian hutan mangrove ini, tidak berkembang maksimal dan merata di Madura.

Selain itu, lahan yang peruntukanya untuk hutan mangrove, dialihfungsikan menjadi lahan untuk pengelolaan tambak garam. Akibatnya, lahan hutan mangrove semakin sempit.

Lahan Hutan mangrove sendiri di Madura rata-rata berada di atas lahan milik Perhutani sebagai hutan lindung. Namun, pengelolaan dan pengembangan hutan mangrove, perhutani melibatkan masyarakat sekitar lahan hutan mangrove.

Peneliti dalam kajian hutan mangrove, memberikan gambaran hutan mangrove, yang berada di pesisir Pamekasan. Data yang diperoleh Dinas Kehutanan Pemkab Pamekasan, yang kini sudah bergabung menjadi Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Hutan mangrove di Kabupaten Pamekasan, tumbuh dan berkembang di empat Kecamatan. Masing-masing Kecamatan Galis, Kecamatan Larangan Kecamatan Pademawu, dan Kecamatan Tlanakan. dan tersebar di 20 desa.

Dalam data tersebut juga menyebutkan, Hutan mangrove berada di atas lahan seluas 1,174.53 (Ha). Rincianya, sebanyak 714.53 (Ha) kondisinya baik, Sebanyak 42.00 (Ha) berada di kondisi sedang, dan sebanyak 418.00 (Ha) kondisinya rusak (data diambil tahun 2016).

Dari jumlah tersebut, 5 desa diantaranya Mangrove berada di dalam kawasan dalam hutan. Masing-masing Desa Lembung Kecamatan Galis seluas 25,00 (Ha), Desa Pandan Kecamatan Galis seluas 62,90 (Ha). Sementara di Kecamatan Pademawu, berada di Desa Majungan seluas 90.70(Ha), Desa Padelegan 43.90 (Ha).

Sementara Mangrove, yang berada di dalam kawasan luar hutan, tersebar di Empat Kecamatan di Pamekasan. Masing-masing Kecamatan Tlanakan, berada di Desa Ambat Dusun laok sabe seluas 36.47 (Ha), Rincianya, 11.47 (Ha) kondisinya baik dan 25.00 (Ha), kondisinya rusak. Desa Branta Tinggi berada di Dusun Gendingan dengan luas lahan 135.00 (Ha), dengan rincianya kondisi Mangrove baik sebanyak 110.00 (Ha), dan kondisi rusak 25.00 (Ha). Desa Tlanakan berada di Dusun Gardu dengan luas sebanyak 45.17 (Ha), rincinya kondisi baik sebanyak 35.17 (Ha), dan sisanya 10.00 (ha) kondisi rusak.

Melimpahnya jumlah luas lahan pohon mangrove di Pamekasan tersebut, belum sepenuhnya dijadikan peluang, untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata. Seperti yang sudah dikembangkan Pemerintah Kota Surabaya, dan Kabupaten Bangkalan. Hanya saja ada beberapa Desa di Kabupaten Pamekasan, memamfaatkan buah mangrove, untuk dijadikan kopi Mangrove. Sisanya, ditanam hanya untuk penangkal ombak.

Penulis selama kurang lebih satu tahun, melakukan pengumpulan data atas potensi destinasi wisata alam di Pamekasan. Hasil yang didapatkan, hutan mangrove, yang berada di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, dinilai ber-potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Indikator Desa tersebut ber-potensi diwujudkan sebagai kawasan wisata alam mangrove, diantaranya, melimpahnya jumlah pohon mangrove dan lahan yang tersedia, tingginya kesadaran kelompok masyarakat lingkungan yang melakukan pelestarian, pemamfatan, pengembangan dan pengawasan terhadapa pohon mangrove, serta penataan penanaman pohon mangrove.

Pusat penanam mangrove, di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan itu, berada di Dusun Bangkal terdapat petak 61A dengan Luas 3,8 Hektar hutan mangrove. dengan panjang +- 4 Kilo dan diperkirakan 30.000 pohon mangrove tertanam di lahan tersebut. Sementara, di Dusun Bungkaleng terdapat Petak 61B dengan luas 25,0 Hektar dan terdapat 260.000 pohon mangrove sudah tertanam di lokasi tersebut.

Sementara kelompok masyarakat Desa Lembung, yang melakukan pelestarian, pemamfatan, pengembangan dan pengawasan,_+ 290.000 pohon mangrove yang berada diatas lahan seluas 25,00 (Ha) tersebut, ialah Kelompok Tani Hutan (KTH) “SABUK HIJAU”, yang dibentuk masyarakat Desa Lembung, Kecamatan Galis, dengan 22 anggota. Adapun jenis Mangrove-nya, diantaranya Mangrove Rizhoporastylosa (jenis-nya ini juga terbagi dua yakni Macronata dan Stylosa). Selanjutnya, jenis Apicinia dan Sonyracia.

Dari tiga jenis tersebut, satu jenis yakni mangrove Rizhoporastylosa stylosa paling banyak di lestarikan. Alasanya, karena tingkat kehidupanya tinggi dan Popolasinya lebih banyak sehingga mudah untuk dikembangkan

Analisa Potensi Ekowisata
Hutan mangrove, yang berada di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, dinilai ber-potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata. Hasil kajian yang dilakukan oleh penulis, bahwa di kawasan tersebut, berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pamekasan Ahmad Syaifuddin mengemukan, pengertian ekowisata yakni kawasan wisata, yang didalamnya lebih banyak nilai-nilai edukasi, yang diberikan kepada pengunjung. Nilai-nilai edukasi tersebut, tidak keluar dalam lingkungan kawasan ekowisata yang dikunjungi. Sehingga, memperoleh dua mamfaat sekaligus. Yakni mamfaat berwisata dan mamfaat pendidikan di kawasan wisata. Konsep ekowisata ini, lebih banyak dimamfaatkan di kawasan wisata alam dan kawasa wisata alam tersebut alami.

Seperti yang dikemukakan sebelumnya, jika mewujudkan sebuah kawasan sebagai tempat pariwisata. Maka kawasan tersebut harus memenuhi elemen pariwisata. Pada elemen antraksi, Hutan mangrove, yang berada di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, diantaranya, melalui tracking kayu, gardu pandang, gallery mangrove, dan perahu rakyat. Pada elemen antraksi ini, bisa dikembangkan, disesuaikan dengan perkembangan kawasan ekowisata tersebut.

Tracking kayu.ini dibuat dalam rangka memberikan kemudahan terhadap pengunjung wisata kopi mangrove. Tracking kayu merupakan jalan setapak yang terbuat dari kayu ulin yang digunakan untuk menjelajahi hutan mangrove. Dengan konsep “Jelajah Mangrove” ukuranya kurang lebih 1 kilometer.
Tracking kayu, ini banyak digunakan di sejumlah lokasi wisata mangrove. Seperti yang dilakukan di wisata mangrove, Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu di bawah pengawasan Badan Pengelola Hutan Mangrove (BPHM) wilayah I Bali. hal serupa juga dilakukan di Tahura Ngurah Rai Bali.

Tracking akan dilengkapi oleh track map. Track map ini memberikan petunjuk akan rute-rute ataupun spot – spot yang akan dilewati. Track map mempermudah pengujun untuk mengetahui jalur-jalur yang akan dilintasi.
Selain Tracking Kayu, ada cara lain yang bisa membuat pengunjung bentah mengunjungi lokasi wisata mangrove. Yakni Gardu pandang. Gardu ini berbentuk seperti menara (tower). Ukuran panjangnya setinggi 7 meter. Ukuran ini juga bisa ditambah, tergantung yang akan mendirikan. Fungsi gardu pandang ini, dalam rangka untuk melihat pemandangan hutan mangrove dari atas tower.

Tidak hanya pohon mangrove yang bisa menikmati oleh pengunjung. Melalui tower ini, pengunjung bisa melihat dari atas seluruh fasilitas yang ditawarkan di kawasan wisata kopi mangrove tersebut. termasuk bisa melihat kawasan pantai disekitar pohon mangrove. Sementara, shelter berfungsi untuk memberikan kemudahan terhadap pengunjung, semisal untuk duduk – duduk bersantai sembari menikmati pemandangan mangrove dan satwa – satwa yang ada disana. (Mukhammad arief. 2013; Wisata Jelajah).

Dalam sebuah pengelolaan tempat wisata, seyogyanya harus memiliki pengelolaan dan pelatihan. Termasuk di dalam pengelolaan kawasan wisata kopi mangrove. Galery Mangrove ini sebetulnya hanya istilah yang bisa dirubah, sesuai dengan keinginan pengelola wisata. Istilah lainya sebagai pusat pengelolaan dan pelatihan yang berkelanjutan, yang perlu dilakukan oleh pengelola ataupun pengunjung wisata.

Selain itu Galery Mangrove juga difungsikan sebagai pameran hasil – hasil mangrove dan edukasi tentang ekosistem mangrove. Sehingga, pengunjung tidak hanya menikmati wisata mangrove secara langsung. Melainkan pula, bisa mengetahui secara utuh jenis-jenis mangrove serta fasilitas pendukung dilokasi wisata tersebut.

Selain beberapa fasilitas itu, Pengunjung bisa menikmati dan memetik kopi dari jarak dekat. Perahu rakyat Ini sudah dilakukan di kawasan wisata hutan kopi mangrove, desa lembung, kecamatan galis, Kabupaten Pamekasan.
Perahu ini bisa dimamfaatkan sebagai jelajah wisata mangrove. Hal ini juga dilakukan oleh best practice mangrove yang ada di Surabaya. Perjalanan jalur laut, selain bisa menikmati segarnya hawa pesisir, pengunjung bisa berkeliling menyusuri kawasan pantai berhutan bakau.

Konsep antraksi tersebut, sangat relevan jika dikembangkan di kawasan wisata Kopi Mangrove, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. dan lokasi wisata tersebut, sangat prospek untuk dikembangkan, sambil melakukan pelestarian lingkungan.

Sementara elemen lainya, yakni elemen fasilitas, elemen infrastruktur, elemen transportasi dan elemen komunikasi dan informasi, mudah dijangkau dalam mewujudkan ekowisata mangrove.

Tinggal selanjutnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan bersama Perhutani Madura memiliki keinginan yang tinggi, untuk mewujudkan kawasan Hutan Mangrove, Desa Lembung Kecamatan Galis, Pamekasan, sebagai kawasan ekowisata. Sementara masyarakat, melalui kelompok tani hutan yang tergabung dalam ‘sabuk hijau’, sudah memiliki tekad tinggi untuk mewujudkan kawasan tersebut sebagai kawasan ekowisata. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis merupakan peneliti dan Dosen STIE Bakti Bangsa Pamekasan.

Potret Pembangunan Manusia di Bumi Gerbang Salam

Oleh: Erfan Iswantoro
Keberhasilan pembangunan suatu wilayah tidak hanya ditandai oleh tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi semata tetapi mencakup pula kualitas manusianya. Kerap ditemui di suatu wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi memiliki kualitas pembangunan manusia yang masih rendah. Inilah tantangan yang harus dihadapi, yaitu bagaimana pertumbuhan ekonomi mampu dirasakan seluruh lapisan masyarakat dan mampu meningkatkan kualitas mereka sebagai manusia.

Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya, oleh karenanya pembangunan manusia seharusnya berada di baris terdepan dalam perencanaan pembangunan. Pembangunan manusia harus menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, bukan alat dari pembangunan.

Berdasarkan data yang dirilis BPS, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pamekasan pada 2017 sebesar 64,93 poin. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,95 persen bila dibandingkan dengan skor IPM pada 2016 yang mencapai 63,98. Meski mengalami kenaikan, peringkat IPM Pamekasan masih bertengger di urutan 32 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Di regional Jawa Timur, Pamekasan berada pada kelompok yang sama dengan Kabupaten Lumajang, Jember, Probolinggo, dan Bondowoso. Kabupaten Pamekasan juga belum beranjak dari kelompok “medium” dalam soal pembangunan manusia.

Namun, melihat capaian pada 2017 dan perkembangannya dari tahun ke tahun, sebenarnya peluang Pamekasan untuk bergeser dari kategori sedang ke kategori tinggi sangat besar.

Indeks Pembangunan Manusia adalah indikator yang mengukur kualitas pembangunan manusia melalui tiga dimensi, yakni hidup sehat dan umur panjang, akses terhadap pengetahuan, dan standar hidup layak. Dimensi hidup sehat dan umur panjang diwakili oleh angka harapan hidup, akses terhadap ilmu pengetahuan diwakili oleh angka rata-rata lama sekolah dan angka harapan lama sekolah, sedangkan standar hidup layak diwakili oleh pendapatan.

Pada 2017, angka harapan hidup penduduk Pamekasan mencapai 67,05 tahun. Artinya, setiap penduduk Pamekasan yang lahir pada tahun tersebut berpeluang untuk hidup selama 67 tahun. Rata-rata lama sekolah penduduk Pamekasan dilaporkan sebesar 6,25 tahun, atau dengan kata lain penduduk Pamekasan yang berumur 25 tahun ke atas sebagian besar hanya menamatkan pendidikan sekolah dasar (6 tahun) atau kurang.

Adapun rata-rata penduduk usia 7 tahun yang mulai bersekolah diharapkan dapat mengenyam pendidikan hingga 13,61 tahun (setara Diploma 1). Sementara itu, standar hidup layak Pamekasan yang diwakili oleh indikator pendapatan yang diproxy dengan pengeluaran per kapita yang disesuaikan sudah mencapai Rp. 8.311.000,- perkapita pertahun.

Dengan mencermati komponen-komponen penyusun IPM tersebut, dapat disimpulkan bahwa titik lemah pembangunan manusia Pamekasan yang harus menjadi fokus perhatian pemimpin baru Pamekasan adalah peningkatan akses terhadap pendidikan dan kesehatan.

Dalam soal peningkatan akses terhadap pendidikan dan kesehatan, aspek pemerataan adalah persoalan yang sangat penting. Secara faktual, terjadi ketimpangan antar penduduk dalam mengakses pendidikan dan kesehatan.  Ketimpangan terjadi dalam spektrum yang luas antar kelompok pendapatan, gender, dan daerah. Antar kelompok pendapatan ketimpangan akses tercermin dari Gini Rasio (indikator ketimpangan sebaran pendapatan) yang telah mencapai 0,33 poin pada 2017. Angka ini menunjukkan bahwa hasil-hasil pembangunan belum dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Pamekasan.

Sementara itu, ketimpangan antar kelompok gender tercermin dari Indeks Pembangunan Gender yang berada di level 85,71 poin. Artinya kualitas pembangunan manusia untuk kelompok perempuan sedikit tertinggal dibanding kelompok laki-laki. Di sisi lain, penduduk Pamekasan yang tinggal di perdesaan secara umum juga tertinggal dalam hal pendidikan, kesehatan, dan pendapatan dibanding dengan penduduk di perkotaan.

Sejatinya, pembangunan manusia memang perlu ditempatkan sebagai prioritas pembangunan mengingat hingga kini capaiannya masih rendah yang ditandai dari peringkat IPM Pamekasan berada pada posisi 6 terbawah di Jawa Timur. Salah satu hal yang membanggakan, Pamekasan sepatutnya tidak tertinggal di Wilayah Madura karena memiliki nilai IPM tertinggi diantara 3 kabupaten lainnya di Pulau Madura.

Akan tetapi, dengan kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat di level 5,04 persen, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 3,91 persen dan masih cukup banyaknya penduduk yang terperangkap kemiskinan (16 persen) pada tahun yang sama, pembangunan manusia di Pamekasan masih sulit dilakukan secara optimal.

Butuh effort lebih bagi Pamekasan dalam memacu angka pertumbuhan, menekan tingkat pengangguran dan mempersempit ketimpangan yang ada. Terutama dalam upaya penurunan tingkat kemiskinan karena pada gilirannya kemiskinan bisa mendistorsi rencana pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia dalam lima tahun ke depan.

Secara faktual, kemiskinan akan berdampak buruk sekaligus terhadap ketiga dimensi yang mendasari pembangunan manusia, yaitu dengan melemahkan daya beli masyarakat sehingga menurunkan kemampuan riil untuk membiayai pendidikan dan kesehatan. Meski misalnya, pemerintah dapat memberikan bantuan terhadap masyarakat miskin melalui instrumen Program Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), hal itu belum menjamin bahwa capaian pendidikan dan kesehatan tidak akan terdistorsi.

Upaya mengakses layanan kesehatan dan pendidikan masih ditentukan oleh kemampuan untuk membiayai transportasi dan biaya lain ke pusat layanan serta kemampuan memenuhi kebutuhan hidup. Dalam kasus ekstrem ketika terjadi krisis ekonomi, seperti halnya krisis 1997, sejumlah anak di beberapa daerah bahkan putus sekolah karena mereka terpaksa bekerja untuk menambah ekonomi keluarga. Fenomena itu tentunya berpotensi menghambat capaian pembangunan manusia.

Karena itulah program-program pembangunan yang pro growth, pro-poor dan pro-job serta pemerataan hasil-hasil pembangunan baik antar wilayah maupun antar kelompok masyarakat, merupakan kata kunci bagi keberhasilan pembangunan manusia di Pamekasan. Tanpa peningkatan pertumbuhan ekonomi, keberpihakan pada kaum miskin, perluasan lapangan kerja dan pemerataan, capaian pembangunan manusia bakal sulit digenjot. Selain itu, dampak lanjutan dalam bentuk konflik sosial sangat rentan terjadi akibat melemahnya kohesi sosial di tengah masyarakat.

Seperti diketahui, pasangan Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan terpilih telah menyodorkan kontrak politik yang harus direalisasikan selama lima tahun mendatang. Dari visi-misi dan 17 program aksi unggulan yang disampaikan beberapa diantaranya sangat potensial untuk menggenjot progres pembangunan manusia Pamekasan. Terutama yang tertuang pada misi ketiga yaitu meningkatkan IPM Pamekasan dan pada 17 program aksi unggulan seperti menyediakan beasiswa pendidikan, meningkatkan kesejahteraan dan prestasi guru, meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan puskesmas terakreditasi, pengembangan pelayanan kesehatan berjalan, dan lain-lain.  Persoalannya, mampukah janji-janji tersebut diwujudkan, atau hanya sekedar janji tanpa bukti? Mari kita tunggu, kawal dan bantu merealisasikannya. Keberhasilan pembangunan manusia Pamekasan diharapkan bisa menjadi katalisator terwujudnya Pamekasan Hebat, Pamekasan yang “radjhe, bhajre, tor parjughe“.

Penulis adalah ASN pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan.

Mendorong Penguatan Literasi Ala Baddrut Tamam

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi narasumber di kampus Universitas Madura (Unira) Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Komunikasi pada dasarnya tidak hanya soal penyampaian informasi akan tetapi lebih penting dari itu adalah berbagi kesepahaman dengan tujuan mempersuasi (to persuade). Media massa tidak hanya sebagai teman bicara (interlocutor), dan tempat berlalu lalangnya informasi, akan tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.

Pemikiran ahli media massa Marshal McLuhan ini yang nampaknya menjadi inspirasi bagi Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, untuk menguatkan literasi di kalangan pemuda, dan mahasiswa di Kabupaten Pamekasan. Sehingga, bupati menyatakan, akan memberikan honor bagi para pemuda dan mahasiswa yang suka menulis baik artikel ilmiah ataupun karya tulis yang dimuat di media massa.

Melalui program tersebut, Baddrut berharap kelak muncul para penulis-penulis handal di kabupaten dengan slogan “Gerbang Salam” ini. “Saya ini pernah hidup dari menulis. Saya ingin menciptakan atmosfir intelektual bagi para pemuda dan mahasiswa. Nanti akan kami verifikasi dan yang bagus akan diberi honor oleh Pemkab Pamekasan,” ujarnya bupati muda ini, seperti dilansir bangsaonline.com, Jumat (16/11/2018).

Kebijakan mendorong pemuda dan mahasiswa melek literasi ini sangat beralasan, mengingat, pada peran media sebagai interlocutor, komunikasi yang dibangun tidak bersifat top down semata, yakni dari pemerintah kepada publik saja, akan tetapi juga bersifat button up, yang menjadi model ideal dalam hal merumuskan kebijakan publik. Dan ini, sesuai dengan cita ideal yang diinginkan Bupati Baddrut Tamam dan wakilnya Raja’e, yakni membangun tata kelola pemerintah yang baik, bersih, dan bermartabat, berlandaskan nilai-nilai moral Islam yang mengharuskan penganutnya berbaik sangka (husnus dzan).

Baddrut Tamam, nampaknya menyadari, bahwa fungsi media dalam perkembangannya tidak saja menjadi kepanjangan tangan manusia, akan tetapi juga menyimpan kekuatan untuk mengubah prilaku manusia. Disisi lain, kebijakan memberikan honor kepada pemuda dan mahasiswa yang produktif menulis karya ilmiyah, seperti opini dan artikel di media massa ini, sebagai bentuk komitmen bupati dan cara efektif dalam mengarahkan mereka yang memiliki pemikiran bagus dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi di era revolusi industri 4.0 ini.

Memulai dengan Contoh

Contoh karya ilmiah Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang diterbitkan di halaman opini Koran Harian Jawa Pos pada 22 Oktober 2018.

Ajakan “melek literasi” Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, bukan sebatas ajakan belaka, akan tetapi ia memberikan contoh secara langsung kepada generasi muda dan mahasiswa di Pamekasan. Ini dibuktikan dengan hasil karya ilmiah berupa buku dan tulisan opini di media massa.

Setidaknya sudah ada dua karya ilmiah hasil karya Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang dipublikasi, yakni berupa buka dan artikel. Buku berjudul “Pesantren, Nalar dan Tradisi, Geliat Santri Menghadapi ISIS, Terorisme dan Transnasionalisme Islam” dengan pengantar KH A Mustofa Bisri ini, diterbitkan oleh Pustaka Pelajar pada Juli 2015. Buku setebal 162 halaman dengan ISBN: 978-602-229-490-0 ini membahas seputar peran pesantren dulu, dan di era global saat ini. Kajian filsafat hermeneutika, sebagai upaya membuka ruang inklusif dan mengarahkan pembaca buku agar memahami perbedaan berfikir berdasarkan cara pengambilan keputusan, bahkan dibahas secara khusus dalam buku ini.

Gagasan untuk memberikan pendidikan pemikiran yang luas, dilakukan penulis buku, yakni Baddrut Tamam dalam buku itu, dengan tetap mengarahkan pembaca untuk menghargai tradisi lama bernilai bagus dan mengadopsi pemikiran, keilmuan dan tradisi baru lebih baik, sebagimana menjadi prinsip ahlussunnah wal-hamaah.

Karya ilmiah berupa opini yang ditulis langsung oleh Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018. Artikel berjudul “Refleksi Hari Santri Nasional, Reposisi Pesantren dalam Sejarah” diterbitkan Koran Harian Jawa Pos.

Pada tulisan itu, Bupati Baddrut Tamam, mengupas tentang peran santri dan pesantren dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, melalui resolusi jihad yang telah dicetuskan KH Hasyim Asy’ari kala itu.

Melalui ajakan meningkatkan hasil karya ilmiah kepada pemuda dan mahasiswa Pamekasan ini, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi perhatian sang bupati muda ini. Pertama, tradisi literasi di sebagian pemuda dan mahasiswa di Pamekasan memang lebih, sehingga perlu didorong untuk meningkatkan literasi.

Kedua, bupati mungkin saja memanggap, bahwa penyampaian aspirasi dalam bentuk karya ilmiah, lebih berkualitas, berkelas dan menunjukkan kesan ilmiah, apalagi dalam konteks Islam tradisi literasi (iqra) dan pembukuan para pemikir dan ilmuan Islam dalam sejaharnya memang menjadi pitu gerbang kemajuan Islam. Dengan cara ini, Baddrut sebenarnya ingin menunjukkan perhargaan yang tinggi kepada ilmuan, meskipun menyampaikan aspirasi di jalanan berupa demo tentu bukan hal yang dilarang.

Ketiga, ajakan bagi pemuda dan mahasiswa untuk meningkatkan karya ilmiah dan memberi honor kepada mereka, tentunya dengan kriteria media tertentu yang memang kridible, mainstream yang dimulai dari dirinya sendiri dengan memberikan contoh karya ilmiah dalam bentuk buku dan artikel/opini, menunjukkan yang bersangkutan sebagai pemimpin teladan, yakni memerintah dengan keteladanan. (REDAKTUR PAMEKASAN HEBAT)

Ketika Yang Muda Membangun Kepemimpinan Tak Berjarak

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakil Bupati Pamekasan Raja’e saat makan di warung nasi jagung Sederhana di Jalan Pintu Gerbang, Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Menjadi pejabat publik, terkadang jadi pembatas bagi sebagian orang untuk bergaul dengan orang kebanyakan, apalagi pemimpin di sebuah daerah. Tapi tidak demikian dengan pasangan bupati dan wakil bupati muda Pamekasan ini, Baddrut Tamam dan Raja’e.

Prinsip bahwa jabatan merupakan amanah, alat perjuangan dan pengabdian, dengan jargon “sataretanan ben tak notop parembheken” sebagaimana sering dilontarkan selama ini, nampaknya memang menjadi komitmen pasangan pemimpin muda Pamekasan ini. Bahkan empat hari setelah dilantik sebagai Bupati Pamekasan dan Wakil Bupati Pamekasan untuk periode 2018-2023, yakni pada 28 September 2018, keduanya langsung “berbaur“, menyempatkan diri makan di warung nasi jagung sederhana di Jalan Pintu Gerbang, Pamekasan.

Bagi bupati, mungkin baru pertama kali, tapi Wakil Bupati Raja’e, warung nasi jagung Sederhana “Bu Ummi” demikian panggilan akrab perempuan paruh baya ini, sudah biasa sejak ia menjadi aktivis di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan.

Suasanya riang, dan penuh canda tawa mewarnai suasana warung “Bu Ummi” siang itu. Bangga dan haru serasa bercampur aduk. Betapa tidak? Raja’e yang dulu sering makan diwarungnya sebagai mahasiswa dan Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan, kini datang dengan status berbeda, yakni sebagai Wakil Bupati Pamekasan, bahkan ia datang bersama sang Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang juga merupakan mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur.

Sejak purna tugas sebagai Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan, Raja’e memang jarang ke warung “nasi jagung perjuangan” itu. Maklum, ia menetap di Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, dan menjadi kepala desa. Hanya saat berkunjung ke rumah keluarganya di Pamekasan, Raja’e mampir ke warung itu. “Mun entar ka kota, pakkun nyepper nikah pak bupati,” ucap Bu Ummi kepada Baddrut Tamam.

Dalam pandangan Bu Ummi, Wabup Raja’e memang dinilai berjasa ikut mempromosikan dagangan nasi jagungnya. Saat menjadi Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan, teman-temannya banyak dibawa ke warung itu, dan hingga saat ini tetap menjadi pelanggan setianya. Nama Ali Masykur yang saat ini menjabat sekretaris PPP Pamekasan, Matnin yang kini menjadi dosen IAI Al-Khairat, dan reporter Radio Karimata FM Rafiqi Tanziel, serta Fauzi yang saat ini mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Pamekasan, merupakan sebagian teman-temannya semasa kuliah dan di HMI Pamekasan yang diperkenalkan Raja’e ke warung Bu Ummi.

Bupati Pamekasan memperbaiki posisi mic saat Ketua PWRI Pamekasan menyampaikan sambutan

Kunjungan Wabup Raja’e yang mengajak Bupati Baddrut Tamam ke warung nasi jagung Bu Ummi kala itu, bisa jadi, untuk mengenang masa-masa silam saat ia menjadi mahasiswa. Tapi, sejatinya, kunjungan itu, sebagai bentuk komitmen dari keduanya, yang menjadikan jabatan sebagai wasilah perjuangan.

Baddrut dan Raja’e berupaya mengubah cara pandang, bahwa pejabat adalah penguasa, menjadi pelayan. Pola kepemimpinan merakyat dan tak berjarak, menghormati yang tua, serta menyayangi yang muda, dengan tetap membangun membuka ruang kritik yang konstruktif terus dilakukan.

“Sebab, cita ideal ‘Pamekasan Hebat’ ini akan terwujud, apabila semuanya terlibat dalam pembangunan di Pamekasan ini, dan punya rasa memiliki terhadap kabupaten yang kita cintai ini,” ujar Baddrut Tamam.

Salam, senyum dan sapa, menurut dia, harus menjadi tradisi di semua sektor pelayanan publik di lingkungan Pemkab Pamekasan, karena sopan santun merupakan ruh dan spirit akan terwujudnya pelayanan yang prima, disamping memang menjadi nilai moral agama. (PAMEKASAN HEBAT)