Menggugah Semangat “Pamekasan Hebat” di Hari Jadi Ke-490 Pamekasan (2)

PAMEKASAN HEBAT – Keberadaan Kabupaten Pamekasan mulai menemukan titik terang dari penelusuran sejarah awal munculnya kerajaan di Pulau Madura. Sejumlah literatur menyebutkan bahwa, pada zaman dahulu, konon Raja Majapahit mengangkat salah seorang putranya menjadi Kammi Tuwo di pesisir Madura, yakni di Kabupaten sampang yang di kenal dengan nama Ki Ario Lembu Peteng.

Dalam Babad Madura disebutkan bahwa Ki Ario Lembu Peteng inilah yang menurunkan Raja-raja di Madura bagian Barat, Ki Ario Lembu Peteng yang beragama budha kemudian masuk Islam dan wafat di Ampel sebelum mengislamkan putra-putranya.

Sebagai gantinya di angkatlah putranya yang bernana Ario Menger menjadi Kami Tuwo, dan semasa hidup ayahnya, adiknya yang bernama Ario Mengo diperintah untuk membabat hutan di sebelah timur Madegan. Oleh karena itu, ia bersama pengikutnya menyusuri selat Madura bagian selatan karena jalan itulah yang mereka aggap paling aman dari binatang buas.

Di suatu tempat, rombongan Ki Ario Mengo beristirahat, karena tempat yang di singgahi cukup bagus, pepohonan rindang, sejuk, dan terdapat mata air.
Timbullah keinginan untuk menetap di situ, kemudian Ki Ario Mengo memerintahkan pengikutnya untuk membabat hutan dan menyuruh pengikutnya untuk membangun rumah dan pagar, yang pintunya terletak di sebelah utara (daja bahasa Madura). Demikianlah berdiri keraton kecil yang di beri nama Keraton Lawangan Daya.

Keraton itu semakin lama semakin maju, akhirnya melebihi tempat kelahirannya sendiri, karena Ki Ario Mengo dapat memimpin rakyatnya dengan adil dan bijaksana, sehingga rakyat makmur dan tentram. Masyarakat yang bertempat tinggal di dekat keraton pun berduyun-menghadap untuk mengabdi kepadanya, demikian pula di antara keluarganya yang tinggal di Madegan, Sampang berdatangan dan menetap di Keraton Lawangan Daya.

Asal Mula Nama Pamekasan.

Foto bersama para Bupati Pamekasan Baddrut Tamam bersama para pejabat di lingkungan Pemkab Pamekasan usai upacara memperingati Hari Jadi Ke-490 Kabupaten Pamekasan.

Ki Ario Mengo memiliki seorang putri tunggal yang bernama Nyi Banu. Ia pada akhirnya tumbuh menjadi putri yang cerdas dan rupawan, setelah ayahnya wafat, Nyi Banu naik tahta dengan gelar Ratu Pawelingan (versi lain Pamelingan) atau Ratu Pawekasan, karena ia merupakan satu-satunya putri yang menggantikan ayahhandanya, sehingga membuat nama dan keratonya menjadi mashur, dan akhirnya keraton tersebut di kenal dengan nama keraton Pamekasan.

Syahdan menceritakan bahwa penggantian nama Pamelingan/Pawelingan menjadi Pamekasan berasal dari cerita Kek Lesap, sebenarnya ia adalah putra selir Pangeran Cakraningrat V, yaitu Raja Bangkalan.

Akan tetapi ia tidak di akui sebagai anak kandungnya, akan tetapi dia tetap memaksakan dirinya untuk mengabdi kepada ayahnya menjadi tukang kuda keraton yang setiap hari harus menyiapkan kuda untuk kompeni belanda.

Akan tetapi Kek Lesap tidak menyukai kerja sama yang di lakukan oleh ayahandanya dengan belanda sehingga dia pergi meninggalkan keraton untuk mengaji, oleh karena ia anak yang cerdas, maka dia dijadikan pembantu oleh kiainya. Pengalaman pahitnya ketika di keraton dan kebenciannya terhadap Belanda, akhirnya ia bertapa ke Gunung Geger di daerah Arosbaya, setelah lama di sana ia pindah ke Gunung Payudan di daerah Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep.

Di tempat baru inilah berbulan-bulan ia tidak keluar, ia menyatukan diri dengan Yang Maha Pencipta dengan jalan melupakan makan, minum dan tidur.
Kek Lesap kemudian memiliki kekuatan batin dan memperoleh senjata ampuh berupa celurit kecil yang di beri nama Kodhi’ Crangcang. Yang dengan senjata itu dia tidak takut untuk melawan belanda yang telah menguasai bupati di daerah Madura, dan dia tidak merasa hawatir untuk melawan senjata milik ayahnya.

Setelah Kek Lesap turun dari pertapaanya, ia mempengaruhi pondduk (pesantren) di Gulu-guluk dan sekitarnya untuk melawan Kompeni Belanda dan Keraton Sumenep, dan mendengar maksud Kek Lesap itu, Raden Alza yang bergelar Pangeran Cokro ningrat III, yakni Raja Sumenep khawatir untuk melawannyan. Dia lari meloloskan diri untuk meminta bantuan kepada kompeni Belanda di surabaya. Di Sumenep tidak ada perlawan, sehingga Kek Lesap dapat menguasai Keraton Sumenep dengan mudah, peristiwa itu terjadi pada tahun 1750.

Dari laporan Raden Alza tersebut, kemudian Kompeni Belanda mempersiapkan pasukannya di Madura barat. Dari sumenep Kek Lesap pergi ke arah barat, kebetulan bupatinya (Adikoro IV) sedang pergi melaporkan ke Semarang dan dalam perjalanan pulang dia singgah di rumah mertuanya (Cakraningrat V). Ia hanya memberi pesan kepada patihnya untuk diberitahukan bahwa daerah kekuasaan Radel Alza telah di tahlukkan. Dari pesan inilah agaknya kata “Pawekasan” menjadi “Pamekasan”.

Keraton Mandilaras
Setelah pangeran Lendhu wafat, hampir seluruh rakyat pamekasan sudah memeluk Islam, kemudian Pangeran Ronggosukowati naik tahta pada tahun 1530. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, raja Islam pertama di Pamekasan ini selanjutnya merekontruksi kota Pamekasan hingga setaraf dengan kota-kota yang lain, hasil karyanya, antara lain, (1).Keraton Mandilaras dan gedung Pemerintahan, sejak pemerintahan Pangeran Ronggosukowati inilah terbentuknya suatu pemerintahan yang terorganisir, tertib dan teratur. (2). Masjid jamik sebagai tempat peribadatan, (3). Tangsi (asrama) Prajurit di sebelah timur keraton, sebagai tempat pendidikan para pemuda dan calon prajurit yang tangguh. (4). Rumah Penjara yang tempatnya agak jauh dari keraton. (5). Jalan silang di tengah-tengah kota Pamekasan, dan di sebelah timurnya ada kebun Raja. (6). Makam umum yang berada sebelah utara agak jauh di belakang keraton, dan (7). Kolam ikan yang diberi nama Si Ko’ol.

Dengan adanya keraton Mandilaras tersebut Pamekasan menjadi semakin mashur, banyak masyarakat yang mengagung-agungkan keindahan ndan kemegahannya,

Selain itu Pangeran Ronggosukowati memiliki keris yang sangat ampuh, yang konon menurut salah satu sumber lisan menyebutkan bahwa keris tersebut merupakan pemberian dari mahluk ghaib (sebangsa jin), dalam sebuah riwayat bahwa Pangeran Ronggosukowati selama tujuh hari kedatangan pemuda yang membawa bagian-bagian keris, pemuda tersebut tidak mau menyebutkan nama dan tempat asalnya, setelah pemuda tersebut selesai memberikian bagian keris kepada Pangeran, pemuda tersebut langsung menghilang.

Setelah bagian keris tersebut terkumpul, Pangeran Ronggo sukowati memanggil seorang empu keris yang tersohor untuk merakit bagian-bagian keris itu, setelah selesai terbentuklah sebilah keris yang berpamor “Tunggal Kukus” yang di beri nama keris “Joko Piturun”.

Menurut keteran salah seorang juru kunci Pemakaman Ronggosukowati, Haji Tahir, bahwa keris itu terbang mendatangi makam Panembahan Ronggosukowati pada malam hari tiap waktu tertentu kembali ketika henda fajar.

Menurutnya, bahwa dahulu keraton dari Bangkalan berniat untuk menjajah kota Pamekasan, dalam artian Keraton Bangkalan ingin mengambil keris Joko Piturun yang merupakan paku bumi Pamekasan, Akan tetapi tidak berhasil, sehingga menyebabkan pangeran Lemah Duwur meninggal.

Keterangan lain menyebutkan, wafatnya Pangeran Lemah Duwur dikarenakan kesalah fahaman dengan Pangeran Ronggosukowati. ketika Pangeran Lemah Duwur pergi berkunjung ke Keraton Mandilaras, di sana ia dan pengikutnya disambut dengan sangat baik, Pangeran Lemah Duwur yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Pangeran Ronggosukowati. Pergi berkeliling keraton untuk melihat kemegahan Keraton Mandilaras.

Setelah agak lama berada di Pamekasan, karena perjalan kembali cukup jauh, maka keluarga Keraton mempersilahkan rombongan Pangeran Lemah Duwur untuk bermalam di Pamekasan, Pangeran Ronggosukowati mempersilahkan rombongan tersebut beristirahat di pesanggrahan yang letaknya tidak jauh dari kolam si Ko’ol.

Karena hanya kolam itu yang belum di lihat oleh Pangeran Lemah Duwur, kemudian ia mengajak rombongannya untuk melihat kolam itu tanpa sepengetahuan Pangeran Ronggosukowati karena beliau masih ada dalam keraton, Sesampainya di kolam tersebut ia meminta izin kepada penjaganya untuk masuk melihat-lihat, akan tetapi penjaganya tidak memperbolehkan masuk tanpa izin dari Pangeran Ronggosukowati.

Kemudian penjaganya tersebut pergi menemui Pangeran Ronggosukowati yang ada di keraton untuk meminta izin, tapi Pangeran masih tertidur, sehingga penjaganya merasa sungkan untuk membangunkannya, karena menunggu sangat lama, Pangeran Lemah Duwur merasa bahwa Pangeran Ronggosukowati tidak mengizinkannya untuk masuk ke kolanm itu, akhirnya rombongan tersebut pulang tanpa sepengatuhan Pangeran Ronggosukowati.

Pangeran Ronggosukowati marah dan kecewa langsung menghunuskan kerisnya karena merasa hal itu merupakan suatu penghinaan, kemudian Pangeran Ronggosukowati segera bergegas menyusulnya, di tengah perjalan Pangeran Ronggosukowati bertemu dengan adiknya yang menjadi Adipati Sampang. Ia memberitahukan maksudnya kepada Adipati Madegan, kemudian adipati tersebut menyarankan agar Pangeran Ronggosukowati mengurungkan niatnya dan beristihahat di Madegan.

Karena ia menuruti nasehat adiknya, Beliau hanya menusukkan kerisnya pada pohon waru seraya mengatakan, “wahai pohon waru, sebenarnya aku tidak bermaksud membunuhmu, akan tepapi dengan keris sakti Joko Piturun ini kubunuh Pangeran Lemah Duwur.

Pada malam itu juga Pangeran Lemah Duwur bermimpi kejatuhan keris Ronggosukowati yang menancap di punggungnya, ajaib sekali ketia bangun, badannya terasa panas yang di sebabkan oleh bisul kecil di punggungnya, bisul itu semakin lama semakin memerah dan membesar, keesokan harinya di seluruh Madura tersiar kabar bahwa Pangeran Lemah Duwur telah wafat.

Mendengar hal itu Pangeran Ronggosukowati merasa menyesal dan membuang keris saktinya ke kolam Si Ko’ol, setelah keris itu menyentuh air, terdengar suara ghaib “Pangeran Ronggosukowati, sayang engkau membuangku, kalau tidak, pasti Pulau Jawa akan berada di bawah kekuasaanmu,”. Kemudian pangeran menyuruh semua orang untuk mencari keris itu, akan tetapi keris itu hingga sekarang belum di temukan. (Bersambung ke Bagian-3)

Baca Juga Artikel Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s