PKI dan Kesaktian Pancasila dalam Kenangan Baddrut Tamam

PAMEKASAN HEBAT – Pagi itu, sejumlah personel berseragam lengkap dari Kodim 0826 Pamekasan dan Polres Pamekasan sudah berbaris rapi di lapangan Nagara Bhakti yang terletak di depan Mandhepa Agung Ronggosukowati Pamekasan. Hari itu, tanggal 1 Oktober, yakni hari yang ditetapkan oleh negara sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

“Siapp grak,”. Begitu suara lantang terdengar, dan mengomando semua hadirin berdiri tegak dengan sikap sempurna. Tak berapa lama kemudian, suara lantang kembali terdengar, “Istirahat di tempat grak”..! Pasukan yang semula berdiri dengan sikap sempurnya itu, berubah seketiga dengan sikap istirahat.

Tak berapa lama berselang, sesosok muda yang memakai songkok nasional berwarna hitam dengan kemeja dan celana hitam melangkah dengan tegap menuju podium yang dibalut kain dengan rangkaian warna merah putih. Sosok muda ini melangkah dengan pasti, dengan tatapan penuh makna, seolah menyiratkan rasa optomisme akan masa depan yang lebih baik. Dialah Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang menjadi inspektur upacara dalam acara peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2020 kala itu.

Komando agar pasukan segera mengambil sikap ‘siap’ kembali menggema, dan seketika itu juga, pasukan yang terdiri dari TNI, Polri dan perwakilan aparatur sipil negara (ASN) yang menjadi peserta upacara itu, kembali bersikap sempurna.

Rangkaian upacara selanjutnya berjalan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan protokol, mulai dari mengheningkap cipta, pembacaan pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, hingga pembacaan ikrar tentang komitmen akan menjaga keutuhan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan ideologi bangsa Indonesia, yakni Pancasila.

Bagi Bupati Pamekasan Badrut Tamam, menjaga keutuhan NKRI menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa, dan oleh karena itu ia menilai perlunya menghindari tindakan-tindakan yang bisa meretakkan kesatuan dan persatuan bangsa. Upaya untuk memecah belah keutuhan negara bangsa dalam bingkai NKRI yang menjadi Pancasila sebagai dasar negara sekaligus landasan ideologis bangsa, sudah menjadi catatan penting dalam sejaran perjuangan bangsa ini, termasuk adanya gerakan 30 September yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia yang kemudian dikenal dengan G30S/PKI.

KH DJufri Marzuki
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebagaimana diperingati di Lapangan Nagara Bhakti Pamekasan, Kamis (1/10/2020) bagi Baddrut Tamam, tidak hanya mengenang tentang sejarah bangsa dalam menghadapi rongrongan PKI, akan tetapi juga telah mengingatkan bupati muda ini pada sosok inspiratif dalam keluarganya, yakni KH DJufri Marzuki. Ini terjadi, karena dalam sejarah kelam PKI itu, kakeknya, yakni KH DJufri Marzuki, menjadi korban pembunuhan PKI.

“Sedih dan berduka atas peristiwa itu, karenanya kami mengajak kepada semua masyarakat untuk menjaga persatuan demi kejayaan Indonesia sebagai negara kesatuan. Ayo hindari tindakan tindakan yang bisa meretakkan kesatuan dan persatuan kita sebagai satu bangsa yang beradab. Kakek saya tewas karena dibunuh orang suruhan PKI dalam perjalanan pulang dari pengajian. Beliau orang yang keras menentang PKI di Madura. Sebelumnya beliau juga orang yang keras menentang penjajahan,” kata Baddrut Tamam.

Saat ini, sambung dia, yang harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa Indonesia adalah mengisi nikmat dan bersyukur dalam bentuk menjaga dan mengisi pembangunan yang menyejahterakan. Dirinya dan keluarganya, sangat merasakan dampak dari pedihnya konflik antar-ideologi di Indonesia. Maka, persatuan dan kemajemukan Indonesia adalah nikmat yang tak terbatas. Karena itu perlu disyukuri dengan menjaga persatuan dan mengisi pembangunan agar semakin maju, serta mendorong kemakmuran yang merata dan berkeadilan.

Dengan cara bersyukur dan menikmati serta mengisi pembangunan secara kompak dan penuh kebersamaan, kata Badrut Tamam, maka bangsa Indonesia ini akan semakin kuat dan memiliki kesempatan besar untuk bisa menjadi bangsa yang maju dan beradab.

KH Djufri Marzuki merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pamekasan yang memiliki pengaruh besar di zamannya. Dia hidup di dua gelombang politik berbeda, yakni pada zaman perjuangan merebut kemerdekaan hingga era pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang meledak pada 1965.

KH Djufri Marzuki lahir dari pasangan suami istri (pasutri) KH Marzuki dan Nyai Rofiah. Ayah dan ibunya sama-sama keturunan Kiai Zubair, pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Sumber Anyar, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. Tak heran bila Kiai Jufri, sapaan KH Djufri Marzuki, menjadi ulama yang disegani. Bukan hanya di Madura, melainkan juga di level nasional. Darah ulama inilah yang membuat Kiai Djufri menjelma menjadi ulama besar.

Oleh orang tuanya, Kiai Djufri dimondokkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Di pesantren itulah ia berguru kepada KH Abdullah Sajjad Syarqawi dan KH Moh. Ilyas Syarqawi. Kemudian, dia melanjutkan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Tempurejo, Jember, Jawa Timur.

Pada usia 19 tahun, Kiai Djufri menikah dengan Nyai Asyiah binti KH Basrowi, Ponpes Kayumanis, Kota Pamekasan. Sekitar 1945, keduanya hijrah ke Sumber Batu, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan. Di tempat itulah ia merintis Pondok Pesantren Sumber Batu. Di daerah Sumber Batu memang banyak masyarakat yang menjadi santri Kiai Djufri ketika beliau masih di Sumber Anyar.

Kiai Djufri Marzuki (w. 1965) dikenal sebagai orator ulung. Suaranya menggelegar dan retorikanya sangat bagus. Dakwahnya dalam bentuk pengajian-pengajian umum yang diselenggarakan masyarakat dan organisasi mampu memikat daya tarik masyarakat. Uraiannya tegas, lugas mengenai masalah-masalah agama dan mudah dipahami masyarakat awam. Guyonan dan canda tawa yang ia selipkan di beberapa bagian ceramahnya membuat para hadirin tidak merasa bosan untuk mengikuti pengajiannya (bahkan sambil berdiri) selama berjam-jam.

Pantaslah bila ia selalu diundang untuk ceramah bahkan keluar Kabupaten Pamekasan. Di masanya, kiai yang juga menjabat Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Pamekasan ini dikenal sebagai singa podium.

Sejarah mencatat bahwa pada era Orde Lama Partai Komunis Indonesia (PKI) masih diperkenankan keberadaannya sebagai salah satu partai politik di Indonesia. Kesaksian masyarakat juga banyak yang menyatakan bahwa para anggota PKI di berbagai daerah sering membuat keresahan dan keonaran terhadap kegiatan-kegiatan lawan politiknya. Tidak luput juga dengan kegiatan-kegiatan NU.

Sering terjadi pengajian-pengajian yang diselenggarakan NU diganggu, mulai dari sekadar melepaskan anjing ke tengah-tengah acara, sampai pada bikin onar di saat acara sedang berlangsung. Ya, memang begitulah PKI yang menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawan.

Suatu ketika, Kiai Djufri diundang oleh masyarakat Kecamatan Konang Kabupaten Bangkalan. Ia diminta untuk mengisi ceramah dalam sebuah pengajian yang diselenggarakan mereka. Kiai Djufri pun ingin memenuhi undangan tersebut.

Pada waktu itu adalah tahun 1965, tahun dimana Partai Komunis Indonesia ingin melaksanakan kudetanya, juga tahun dimana PKI menjadi semakin kemaruk akan kekuasaan. Karena situasinya seperti itu, adalah wajar jika dalam setiap perjalanan masayarakat senantiasa bersikap siaga.

Semua orang yang hadir mungkin tidak pernah menyangka bahwa ceramah pada malam itu adalah ceramah Kiai Djufri yang terakhir kalinya. Namun, sepertinya Kiai Djufri sudah berfirasat tidak baik sebelumnya, demikian seperti dilansir, jejak.co, Minggu (25/8/2019).

Selama perjalanan, Kiai Djufri ditemani oleh salah seorang santrinya yang bernama Syakir, seorang pemuda tanggung yang biasa menemani Kiai Jufri. Ketika di tengah perjalanan (sebagaimana kebiasaan para kiai masa itu biasanya berkendaraan kuda dalam sebuah perjalanan), Kiai Djufri berkata pada Syakir, “Saya lupa tidak membawa ‘sêkep’ (senjata), ketinggalan di rumah, bagaimana ini?,” katanya. “Mungkin diambil saja, Kiai. Kondisi keamanan sekarang ini tidak aman,” jawab Syakir. “Ah, tidaklah. Nanti acaranya segera mulai,” jawab Kiai Djufri menepis firasat tidak baiknya itu.

Dan kehendak Allah pun terjadi. Ketika acara itu berakhir dan Kiai hendak pulang, ada seseorang yang mengaku bernama Sarpin berniat ingin menemaninya pulang. Dengan sifat santun dan ramahnya ia menawarkan diri untuk menjadi penuntun kuda Kiai Djufri. Hal ini adalah biasa di lingkungan masyarakat Madura bahwa mengantar kiai adalah sebuah kehormatan bagi masyarakat kecil. Si Sarpin pun diperkenankan untuk menemani perjalanan pulang Kiai Djufri.

Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah kali (sungai). Kiai Djufri bilang pada Sarpin bahwa ia mau turun sebentar untuk buang air kecil di kali itu. Ia menyuruh Sarpin agar diam di situ dan menunggu kudanya.

Baru saja selesai ia ‘menunaikan hajat’, tiba-tiba sebuah golok berukuran sedang sudah menancap di punggungnya. Ternyata orang yang bernama Sarpin itulah yang sengaja melakukannya. Si Sarpin lalu lari meninggalkan tubuh Kiai Jufri yang sudah bersimbah darah itu. Kiai Jufri, dengan simbahan darah yang terus mengalir masih kuat menahan sakit. Kebetulan ketika saat itu ada dua orang lewat yang juga baru pulang dari mengikuti pengajiannya. Syakir langsung berteriak pada dua orang tersebut: “Itu ada orang lari ke arah sana (sambil menunjuk sebuah arah jalan), ia telah menusukkan golok pada Kiai Jufri dari belakang,” kata Syakir.

Langsung saja kedua orang itu berteriak “maling….. maling……” untuk menarik perhatian masyarakat sambil lari ke arah jalan yang ditunjukkan Syakir tersebut. Masyarakat pun langsung datang, sebagian ada yang mengurusi jasad Kiai Jufri dan sebagian lagi mengejar si pelaku. Kiai Jufri masih sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong lagi.

Lalu siapakah Sarpin itu? Masyarakat kemudian tahu dan mendengar kabar bahwa ia adalah suruhan PKI. Masyarakat juga mendengar berita bahwa ia dibayar oleh PKI memang untuk membunuh Kiai Djufri. Pada akhirnya masyarakat pun mendengar berita juga bahwasanya ia tewas gantung diri sebelum mendapat bayaran itu.

Bagaimana dengan Kiai Djufri? Ia wafat di rumah sakit dan dimakamkan di pemakaman di Pesantrennya. Ribuan orang hadir dalam acara pemakamannya, mengiringi penguburan jasadnya. Tidak luput juga para pengurus NU dan ulama-ulama Madura juga hadir. Bahkan Kiai Idham Chalid mewakili Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut hadir dalam acara tersebut.

Ketika itu Kiai Idham Chalid menyampaikan sambutan dalam acara penghormatan terakhir pada Kiai Jufri: “Kiai Jufri wafat karena saya, beliau wafat karena membela NU, beliau wafat pun juga demi Islam. Sehinggga kewafatannya adalah syahid dalam perjuangan yang besar,” katanya. Oleh karena itu, untuk mengenang jasa Kiai Djufri, maka Kiai Idham memberi nama pesantren yang dirintis oleh Kiai Jufri (yang kebetulan waktu itu belum punya nama) dengan nama: “As-Syahid al-Kabir.”

Pihak keluarga, juga untuk mengenang jasa-jasa dan perjuangan Kiai Djufri itu, mengabadikan dan memoseumkan pakaian bersimbah darah yang dipakai Kiai Jufri di pesantren tersebut. Mungkin karena kenangan yang mendalam ini pula, maka para dzurriyah Kiai Jufri menjadi pejuang NU yang setia sampai saat ini, termasuk Lora Baddrut Tamam, yang kini menjadi Bupati Pamekasan.

Baddrut tidak hanya menjadi pejuang NU, tapi juga mewarisi sifat-sifat mulia Kiai Djufri dalam menegakkan nilai-nilai ke-Islam-an, merawat semangat kebersamaan dan gotong-royong, menghapus praktik suap bagi aparat yang hendak menjadi kepala dinas, dan memegang ketentuan perundang-undangan, kendatipun terkadang tidak seirama dengan kelompok lain, bahkan kepemimpinannya sering dirongrong, karena mewarisi sikap inklusivisme Kiai Djufri dalam merawat kebhinnekaan, berbangsa dan bernegara. (PAMEKASAN HEBAT)

Baca Juga Artikel Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s