KIM dan Cita Ideal Pamekasan Hebat (5)

PAMEKASAN HEBAT – Di Pamekasan dan di sejumlah kabupaten lain di Pulau Madura, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) memang belum dikenal luas oleh masyarakat, kendatipun media yang dikelola oleh kelompok ini, peran dan fungsinya tidak kalah dengan media massa arus utama dalam mendistribusikan dan mempublikasikan informasi atau berita penting kepala khalayak.

Ini terjadi, karena beberapa hal. Pertama, sosialisasi tentang KIM memang belum tersampaikan secara massif kepada masyarakat dan pemangku kebijakan di berbagai tingkatan, sehingga media ini seolah tidak memiliki posisi tawar yang bagus. Kedua, belum ada media yang dikelola KIM yang bisa menjadi contoh dari sisi kualitas isi pemberitaan, sehingga KIM dianggap media kelas alternatif bagi sebagian pemangku kebijakan di Kabupaten Pamekasan. Ketiga, perhatian pemerintah kabupaten dalam mengembangkan KIM dan memaksimalkan peran KIM untuk ikut membantu tata kelola pemerintahan dan mensosialisasikan program pemerintahan melalui media yang dikelola KIM belum optimal.

Ketiga hal inilah yang setidaknya mendasari kenapa KIM sebagai media alternatif belum bisa bergerak cepat dan berjalan seirama, dalam banyak hal. Padahal, sebagai media yang dibentuk, tumbuh dan berkembang dari kelompok atau komunitas yang memiliki komitmen yang sama dalam hal penyajian informasi yang berpihak kepada kepentingan publik, seharusnya peran media yang dikelola KIM bisa dominan membantu, memberdayakan kepentingan publik dan menjembatani antara kepentingan masyarakat dengan pemerintah melalui pola button up dan antara kepentingan pemerintah dengan masyarakat melalui pola top down.

Basis organisasi yang dalam ketentuan Kemenkominfo di masing-masing desa/kelurahan memungkinkan terbentuk media KIM di hampir semua desa/kelurahan bahkan dusun yang ada di Kabupaten Pamekasan. Jika saja satu desa minimal satu KIM, maka KIM di kabupaten ini bisa tersebar hingga 178 desa dan 11 kelurahan di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan. Angka yang tidak sedikit dan potensi dalam ikut berperan aktif mempromosikan potensi desa/kelurahan yang ada di Pamekasan.

Menurut Kepala Seksi (Kasi) Sumberdaya Komunikasi Publik pada Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemerintah Provinsi Jawa Timur Eko Setiawan saat menjadi narasumber dalam acara workshop KIM di Pamekasan pada 4 Maret 2021, penting untuk dipahamai bersama bahwa desa itu harus mandiri. Salah satu bentuk kemandirian itu bisa terwujud dengan munculnya keinginan dari masyarakat untuk membentuk KIM, karena pada dasarnya KIM itu dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Melalui terbentuknya KIM itu, kata dia, maka potensi, berbagai upaya dinamisasi dan inovasi yang dilakukan oleh desa akan terekspose ke masyarakat luas, melalui media, yang dikelola oleh KIM, baik berupa website, buletin, atau jenis media lainnya yang menjadi sasana distribusi informasi kepada khalayak.

Dalam konteks ini, maka KIM juga bisa menjadi representasi desa. Peran KIM adalah menyebarluaskan segala bentuk program dan kegiatan, baik itu menyangkut pembangunan infrastruktur ataupun dalam hal mendiseminasikan informasi yang dibutuhkan oleh desa untuk disebarluaskan kepada publik.

Keuntungan Media Komunitas
Kasi Sumberdaya Komunikasi Publik, Diskominfo Jawa Timur Eko Setiawan memandang perlu bagi daerah untuk menggugah terbentuknya KIM dan mengaktifkan para pegiat kelompok ini, karena didasari pada berbagai pertimbangan.

Pertama, maraknya sebaran berita hoax. Jika KIM terbentuk, maka bisa menjadi lokomotif dalam menangkal penyebaran berita bohong, mengingat peran diseminasi harus dioptimalkan sebagai prasyarat dalam hal pengelolaan informasi yang hendak disampaikan kepada publik dan para anggota komunitaskan. KIM, dengan demikian, bertanggung jawab penuh untuk menyajikan informasi yang faktual, aktual, bertanggung jawab, mendidik dan mencerahkan.

Kedua, nilai promosi lebih murah. Media yang dikelola oleh komunitas adalah media nirlaba yang tujuan utamanya untuk kepentingan publik, kepentingan organisasi dan beroriantasi pada kepentingan sosial. Berbeda dengan media massa, karena pengelola jenis media ini merupakan badan usaha, seperti PT, atau Koperasi, meskipun ada juga media yang dikelola oleh yayasan. Namun secara umum, orientasi bisnis adalah hal yang pertama disamping visi dan misi media massa itu sendiri. Karena itu, harga yang ditetapkan dalam sebuah promosi, tentu jauh lebih mahal. Jika KIM hanya pada ganti lelah pembuat konten atau isi promosi yang disajikan di media yang dikelola KIM itu, tapi pada media massa juga berorientasi pada keuntungan.

Ketiga, KIM lebih sistemik dan tepat sasaran. Meski dari sisi biaya lebih murah, akan tetapi dari sisi ketepatan sasaran, dan keterincian kontens, maka media yang dikelola oleh KIM akan lebih tetap sasaran dan lebih terinci, karena lebih fokus pada hal-hal tertentu dan pada kepentingan komunitas, dalam konteks desa adalah fokus kepada program prioritas dan tema yang dicanangkan oleh desa. Pada media massa tidak mungkin program terinci desa bisa disajikan secara maksimal, karena ruang publik dengan nilai ekonomi global menjadi pertimbangan dari arah dan model isi media massa tersebut. Oriensi isi media massa lebih cendrung dipengaruhi extra media level, yakni satu-satu poin penentu arah kebijakan isi media yang dalam teori HIrrarki Pengaruh Isi Media yang digagas oleh Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, bahwa extra media level ini merupakan poin yang sangat berpengaruh dibanding empat faktor lainnya, seperti level individu, rutinitas organisasi, idiologi dan manajemen media massa itu sendiri. (Bersambung ke-6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s