Arsip Tag: Baddrut Tamam

Kepemimpinan Inovatif di Era Disruptif

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi dosen tamu di UGM Yogyakarta.

PAMEKASAN HEBAT – Kepemimpinan Inovatif di Era Disruptif adalah tema materi yang disampaikan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi narasumber atau dosen tamu di FISIPOL UGM pada acara kuliah umum yang digelar pada 16 Mei 2019 pada mata kuliah “Kepemimpinan Sektor Publik” yang diampu oleh dosen H Suharyanto dengan tema materi yang disampaikan “Kepemimpinan dan Inovasi Pelayanan Publik”.

Ada dua istilah penting yang menjadi fokus bahasan Baddrut Tamam pada kuliah umum tersebut, yakni “inovatif” dan “disruptif”. Istilah disruptif dan inovatif (disruptive innovation) ini pertama kali dicetuskan oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review (1995). Menurut catatan wikipedia, artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan.

Dalam konteks ini, Inovasi disruptif (disruptive innovation) merupakan inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama. Dengan demikian, titik tekan pada dua kata tersebut, disruptif dan inovatif gampangnya adalah pada inovasi dan kemampuan merespon perubahan secara cepat dan tidak menentu, menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Di lingkup kepemimpinan institusi pemerintah, hal penting yang perlu dilakukan adalah pentingnya membentuk paradigma baru dalam pengelolaan pemerintahan, yakni paradigma dalam mengelola pemerintahan. “Birokrasi yang kaku dan terlalu formal terlalu menguntungkan pada regulasi yang top down, sudah waktunya kita ubah,” kata Baddrut, seperti yang disampaikan kepada media.

Ia menilai sejak dulu birokrasi lebih dekat dengan kesan negatif, seperti lambat dalam pelayanan, tidak kreatif dan anti inovasi. Kini, paradigma tersebut sudah tidak relevan lagi, sehingga harus menerapkan cara berpikir dan bertindak yang lebih tepat, dan ia mencontohkan seperti yang sudah banyak dilakukan oleh sejumlah organisasi swasta.

Bertindak cepat ini, hanya berpotensi dilakukan oleh badan ramping, yang dalam konteks pemerintahan ia istilahkan dengan postur birokrasi. “Postur birokrasi tidak boleh lagi gemuk, tambun dan lamban. Tetapi harus ramping, efesien dan gesit. Dalam istilah konsep kebijakan publik, muncul yang namanya ‘new public management‘,” sambung pria yang akrab disapa Ra Badrut.

Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya yang juga perlu dipahami oleh para pemimpin dan pengelola manajemen organisasi adalah tantangan kepemimpinan di era disruptif. “Prinsipnya ada banyak gaya kepemimpinan yang bisa diterapkan di era disrupsi seperti saat ini, di antaranya harus memiliki terobosan, memberikan kesempatan dan kebebasan bagi tim,” bebernya.

Bahkan dalam kesempatan itu, Badrut Tamam juga menyampaikan beberapa capaian inovasi yang dilakukan selama beberapa bulan memimpin Pamekasan. Di antaranya kesuksesannya merealisasikan Mal Pelayanan Publik (MPP), pelayanan aplikasi berbasis online, branding batik hingga program bursa inovasi desa.

Tiga Hal Penting
Terkait pola kepemimpinan inovatif di era disruptif ini, Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Dr KH Abdul Wahid Maktub dalam sebuah orasi ilmiah dalam seminar kebangsaan yang dilaksanakan oleh Ikatan Alumni BSI yang didukung oleh Bidang Kemahasiswaan BSI, belum lama ini mengemukakan, ada tiga poin utama untuk dapat menghadapi perubahan serta mampu bertahan di era yang serba penuh ketidak pastian ini.

Ketiga hal tersebut adalah iteration, innovation, dan disruption. Iteration dimaksudkan melakukan hal yang sama tetapi dilakukan dengan maksimal sehingga menghasilkan hasil yang baik. Selanjutnya, innovation adalah dengan melakukan perubahan serta menemukan hal yang baru, dan ketiga disruptif, yakni masyarakat harus men-disruptif diri sendiri dengan perkembangan era saat ini, sehingga mampu melakukan perubahan.

“Jika mahasiswa tidak men-disruptif dirinya sendiri dengan perubahan era saat ini, dengan mengubah diri menjadi lebih baik dan berinovasi – maka, kesempatan ini dapat menjadi hadiah bagi orang lain,” papar Maktub kata itu.

Ketiga kunci ini, lanjut Maktub, harus berimbang dengan sikap responsif dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Selain itu juga harus memiliki kesiapan yang matang.

“Kesiapan yang paling utama adalah dengan memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang mampu menuntun kita untuk melakukan perubahan dan berinovasi. Diimbangi dengan kejelasan tujuan, tangkas dan cepat. Selain itu, juga harus memiliki self control seperti tidak malas, dispilin, berprestasi, saling menghormati serta mampu memimpin diri sendiri apabila ingin bertahan di era disruptif,” katanya, menambahkan.

Dalam konteks lokal Pamekasan, konsep kepemimpinan inovatif-disruptif (disruptive innovation) ini bisa dilihat misalnya dari terobosan yang telah dilakukan selama ini. Antara lain pada branding batik tulis di kendaraan dinas milik Pemkab Pamekasan.

Baddrut, selaku bupati, berupaya bergerak di luar jalur kotak (out of the box), bahkan kendaraan dinas hanya sebatas penunjang kegiatan aparatur sipil negara (ASN) dalam menjalankan tugas dan rutinitas organisasi, menjadi sesuai yang bernilai ekonomis, yakni media promosi usaha perajin batik tulis masyarakat. Sebuah upaya dan terobosan yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Demikian juga dengan keberadaan “Mall Pelayanan Publik”.

Anggaran untuk membuat program kegiatan, cenderung menjadi kendala. Tapi Bupati Baddrut Tamam mampu menyiasati itu semua, dengan sistem kerja sama dan sama kerja antarberbagai organisasi perangat daerah. “Jika hasilnya belum maksimal itu wajar, wong kita membuat ‘Mall Pelayanan Publik’ ini tanpa anggaran,” katanya dalam sebuah kesempatan. (PAMEKASAN HEBAT)

Tulisan ini telah ditayangkan di penawarta.com, dan disarikan dari kuliyah umum Bupati Pamekasan Baddrut Tamam di kampus UGM, 16 Mei 2019.

Bupati Pamekasan Terima Gelar Kebangsawanan dari Karaton Surakarta

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menerima gelar kebangsawanan dari Raja Karaton Surakarta Pakoe Boewono XIII sebagai Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) H Baddrut Tamam Cakrahadipuro.

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan istri Nayla Hasanah Baddrut Tamam menerima gelar kebangsawanan dari Karaton Surakarta pada 30 Maret 2019 dalam acara rangkaian Tingalan Dalem Jumenengan ke-15 Raja Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sampeyandalem Ingkang Sinoehoen Kangjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono XIII.

Bupati Baddrut Tamam bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) H Baddrut Tamam Cakrahadipuro, sedangkan ibu, yakni Nayla Hasanah bergelar Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Hj Nayla Hasanah Adiningtyas.

Kabag Humas Pemkab Pamekasan Soepriyanto dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Akhmad Sjaifuddin berfoto bersama dengan Bupati Baddrut Tamam dan ibu Nayla Hasanah Baddrut Tamam

Saat menerima gelar kebangsawanan itu, bupati didamping Kabag Humas Pemkab Pamekasan Soepriyanto dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Akhmad Sjaifuddin.

Tingalan Dalem Jumenengan merupakan salah satu ritual paling sakral karena memperingati hari ulang tahun kenaikan tahta raja. Rangkaian acara ini antara lain kirab pasukan keraton yang diiringi gending gamelan Jawa sebagai pembuka acara. Lalu dilanjutkan dengan tarian sakral Bedoyo yang dibawakan oleh sembilan penari.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Ibu Nayla Hasanah Baddrut Tamam, merupakan bagian dari beberapa pejabat pemerintah yang menerima gelar kebangsawaan pada acara rutin Tingalan Dalem Jumenengan di Karaton Surakarta itu.

Kanjeng Radem Tumenggung (KRT) H Baddrut Tamam Cakrahadipuro dan Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Hj Nayla Hasanah Adiningtyas.

Tahun lalu, yakni pada 12 April 2018, Karaton Surakarta juga memberikan gelar bangsawan kepada sejumlah pejabat saat pelaksanaan Tingalan Dalem Jumenengan ke-14 Pakoe Buwono (PB) XIII Hangabehi. Dua gelar di antaranya diberikan kepada Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono.

Gelar diberikan kepada orang yang dinlai telah berjasa dan memberikan kontribusi dalam pelestarian budaya. Prosesi Tingalan Jumenengan ini ditandai dengan keluarnya Sinoehoen Pakoe Boewono XIII dari Dalem Ageng Prabasuyasa menuju Sasana Sewaka tempat berlangsungnya jumenengan. Dalam kesempatan itu juga digelar tarian Bedaya Ketawang oleh sembilan penari.

Sebelum acara Tingalan Dalem Jumenengan ini digelar, warga sekitar dan seisi karaton melakukan acara resik-resik yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pada Jumat, 29 Maret 2019.

Ganjar Pranowo mengatakan keraton beserta segala ritualnya merupakan bagian dari sejarah kebudayaan, sekaligus objek wisata.

“Jadi sudah semestinya aset ini selalu dijaga supaya bersih luar dan dalamnya, baik lahir maupun batin,” kata Ganjar Pranowo, seperti dilansir situs antaranews.com.

Foto bersama Bupati Pamekasan Baddrut Tamam beserta ibu dengan Raja dan Ratu Karaton Surakarta.

Ganjar Pranowo melakukan bersih-bersih karaton bersama Pangdam IV/Diponegoro Mayor Jenderal TNI Mochamad Effendi, Asisten Deputi I Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan Mayor Jenderal TNI Wawan Kustiyawan; Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono Soedarmoningrat; Kepala Polda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Condro Kirono; Wali Kota Surakarta FX. Hadi Rudyatmo; Kepala Polres Kota Surakarta Komisaris Besar Ribut Hari Wibowo, dan peserta lainnya.

Acara bersih-bersih diawali dengan pertunjukan Tari Gugur Gunung kemudian dilanjutkan dengan apel yang dipimpin Gubernur Ganjar Pranowo. Selanjutnya ada penyematan ikat kepala dan sapu oleh Gubernur kepada perwakilan peserta sebagai tanda memulai kegiatan bersih-bersih.

Sementara itu, Karaton Kasunanan Surakarta ini, berdiri pada 1744 dan hingga kini tetap terpelihara keindahan bangunan sebagai warisan budaya. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Pamekasan Terima Gelar Kehormatan dari Karaton Amarta Bumi

Prosesi penganugerahan gelar sebagai “Kanjeng Raden Haryo Baddrut Tamam Adi Ningrat” kepada Bupati Pamekasan Baddrut Tamam di Karaton Kawitan Amarta Bumi, di Dukuh Sekatul, Desa Margosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (23/3/2019).

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam mendapatkan penghargaan gelar kehormatan sebagai “Kanjeng Raden Haryo Baddrut Tamam Adi Ningrat” dari Raja Karaton Kawitan Amarta Bumi, Sri Anglung Prabu Punta Djojonagoro Cakrabuana Girinata, Sabtu (23/3/2019).

Penghargaan itu diserahkan oleh Sri Anglung Prabu pada acara Pengetan Abhiseka di Karaton Kawitan Amarta Bumi di Dukuh Sekatul, Desa Margosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

“Bupati Pamekasan mendapatkan anugerah gelar ini, berkat komitmennya dalam ikut melestarikan seni budaya tradisional Pamekasan,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparibud) Pemkab Pamekasan Akhmad Sjaifuddin di Pamekasan, Minggu (24/3/2019).

Penghargaan ini, sambung dia yang saat itu mendampingi Bupati Baddrut Tamam di acara penganugerahan di Karaton Kawitan Amarta Bumi itu, sebagai tindak lanjut dari penyerahan pin emas oleh Raja Karaton Kawitan Amarta Bumi kepada Bupati Baddrut Tamam pada acara malam “Malam Kemilau Madura 2018” di Pamekasan.

Saat itu, perwakilan raja-raja Nusantara, termasuk Raja Karaton Kawitan Amarta Bumi diundang ke Pamekasan untuk menyaksikan malam pertunjukan seni budaya Madura yang dikemas dalam tema “Malam Kemilau Madura 2018”.

Raja Amarta Bumi merasa terkesan dengan program Bupati Baddrut Tamam dalam ikut melestarikan seni budaya tradisional, sehingga ia lalu mengundang yang bersangkutan untuk menerima anugerah tersebut.

Foto bersama Bupati Pamekasan Baddrut Tamam bersama tamu undangan dan utusan raja-raja Nusantara di Karaton Kawitan Amarta Bumi.

Pemberian penghargaan tersebut dihadiri oleh raja-raja dari seluruh Nusantara, termasuk keluarga raja Pamekasan, Raden Panji KH Toriq Sya’rani serta tamu undangan dari sejumlah negara sahabat.

Raja Karaton Kawitan Amarta Bumi, Sri Anglung Prabu Punta Djojonagoro Cakrabuana Girinata adalah Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Adipati Hari Djojonagoro yang dinobatkan oleh keluarga karaton itu di Pendapa Saridin, Karaton Kawitan Amarta Bumi yang terletak di Jalan Sunan Katon, Sekatul, Desa Margosari, Limbangan, Kendal, Jawa Tengah.

Prosesi penganugerahan gelar “Kanjeng Raden Haryo Baddrut Tamam Adi Ningrat” kepada Bupati Pamekasan Baddrut Tamam di Karaton Kawitan Amarta Bumi, di Dukuh Sekatul, Desa Margosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (23/3/2019).

Nama Saridin ini mengacu pada tokoh yang hidup pada masa Sultan Agung Anyokrokusumo, Raja Mataram yang memimpin pada tahun 1613 hingga 1645. Nama Saridin atau Syekh Jangkung sangat dikenal oleh masyarakat Pati dan daerah lainnya di Pantura Timur Jawa Tengah. Saridin menjadi tokoh ikonik yang melegenda karena kesaktiannya.

Berdasarkan catatan Kampoeng Djowo Sekatul, rumah Joglo Saridin di tanah Sekatul diawali dengan sebuah wangsit yang didapat oleh Kanjeng Pangeran Adipati Haryo Herry Djojonegoro. Rumah Joglo Saridin merupakan rumah milik Retno Jenoli, kakak dari Sultan Agung Anyokrokusumo, yang menjadi istri Syekh Jangkung (Saridin), juga merupakan sebuah hadiah sayembara yang dimenangkan oleh Saridin.

Saridin juga merupakan murid kesayangan dari Sunan Kalijaga, kemudian oleh Saridin rumah Joglo dibawa ke Kabupaten Pati.

Pada tahun 2009 Herry Djojonegoro menemukannya dalam kondisi lengkap, dan dibawa ke Sekatul untuk dilestarikan. Joglo Saridin ini memiliki 2 massa bangunan, yakni Omah Lanang dan Omah Wedok. Omah Lanang difungsikan sebagai pendapa dan Omah Wedok sebagai tempat duduk kerajaan atau pertemuan khusus raja-raja, terletak di belakang omah lanang.

Karaton Kawitan Amarta Bumi ini merupakan karaton yang peduli pada pelestarian seni budaya nusantara, dan setiap tahun menggelar “Abhiseka” di Pendopo Saridin itu.

“Abhiseka” adalah penganugerahan atau pemberian gelar kehormatan dari Raja Karaton Kawitan Amarta Bumi Sri Anglung Prabu Punto Djojonagoro Cakra Buana Girinata kepada masyarakat di Nusantara yang dianggap berjasa dalam melestarikan seni budaya nusantara.

Raja Karaton Kawitan Amarta Bumi, Sri Anglung Prabu Punta Djojonagoro Cakrabuana Girinata saat menyerahkan gelar kehormatan kepada Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, Sabtu (23/3/2019).

Selain Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, tokoh lain yang juga pernah mendapatkan “abhiseka” dari Raja Karaton Kawitan Amarta Bumi adalah Hutomo Mandala Putra atau lebih dikenal Tommy Soeharto.

Tomy mendapatkan gelar kehormatan berupa gelar Kanjeng Pangeran Haryo Hutomo Mandala Putra Negara pada 3 Meret 2018. Pemberian gelar kehormatan kepada Tommy Soeharto itu karena dia merupakan sesepuh dari Majelis Adat Budaya Nusantara (Madukara). Di samping itu, Tommy masih mempunyai darah keturunan dari Mangkunegaran Surakarta dan dinilai sangat peduli dalam ikut melestarikan budaya bangsa.

Kala itu, pemberian penghargaan disaksikan raja dari seluruh nusantara serta tamu undangan dari sejumlah negara sahabat, serta abdi dalem karaton, bahkan turut hadir kala Direktur Pembinaan Ekonomi dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Lutfi dan Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Supriyanto, mewakili Plt Gubernur Jawa Tengah. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Baddrut Tamam “Ngevlog” Bersama Mahasiswa Filipina

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam “Ngevlog” bersama mahasiswa asal Negara Filipina di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, saat mahasiswa itu berkunjung ke Pendopo dan bertemu langsung dengan bupati muda ini.

Bupati “ngevlog” bersama Ibu Bupati Pamekasan, Naila Baddrut Tamam, dan dosen Unira Wildona Zumam, dan dua mahasiswa Filipina yang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa di kampus swasta yang beralamat di Jalan Raya Panglegur, Pamekasan itu.

Dalam video itu, mahasiswa dari Filipina, yakni Raymond M. Espedion dari Ilo-Ilo Science and Technology University (ISATU) Philipines mengaku senang bisa bertemu secara langsung dengan orang nomor satu di lingkungan Pemkab Pamekasan.

Selain muda, Baddrut dinilai memiliki visi kuat dalam memajukan perekonomian di Pamekasan dan peduli dengan pengembangan ilmu pengetahun, dengan gerakan melek literasi yang kini sedang dicanangkan.

Raymond M. Espedion dan Hannah Grace A. melakukan pertukaran studi (Student Exchange) dari Ilo-Ilo Science and Technology University (ISATU) Philipines.

Selama berada di Pamekasan, kedua pelajar asal negara Filipina ini juga telah diperkenalkan banyak hal oleh pihak kampus, terutama batik tulis Pamekasan.

Unira juga membantu promosi yang telah dilakukan Pemkab Pamekasan dengan memperkenal batik tulis hasil kerajinan warga di wilayah itu kepada mahasiswa asal Filipina yang mengikuti kegiatan pertukaran mahasiswa di kampus Unira Pamekasan. [Baca Juga Santri Peraih Juara Tahfid Asean Disambut di Pendopo Pamekasan]

Promosi Batik Pamekasan

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Ibu Bupati Pamekasan Naila Baddrut Tamam berfoto bersama dengan mahasiswa asal Filipina dan dosen Unira Pamekasan saat berkunjung ke Pendopo Ronggosukowati Pamekasan, Jumat (1/2/2019).

Menurut Wakil Rektor (Warek) I Unira Pamekasan Faisal Estu Yulianto di Pamekasan, Sabtu (19/1/2019), pihaknya sengaja memperkenalkan batik tulis Pamekasan kepada mahasiswa asal Filipina itu, sebagai upaya untuk memperkenalkan hasil kerajinan kreatif masyarakat yang kini telah diakui dunia sebagai warisan budaya nonbendawi tersebut.

“Mereka kami ajak untuk melihat secara langsung proses produksi batik Pamekasan ke Desa Klampar yang memang merupakan sentra batik di Kabupaten Pamekasan ini,” kata Yulianto. [Baca Juga: Penghargaan Sebagai Kabupaten Peduli HAM Harus Jadi Pemicu Lebih Baik]

Di lokasi sentra batik ini, mahasiswa asal Filipina tersebut diperkenalkan tentang cara membatik, bahkan mereka juga mencoba membatik dengan meminta bimbingan kepada pengrajin batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan. [Baca Juga: Bercermin di Pasar Batik]

Yulianto menjelaskan, ada beberapa pertimbangan pihak kampus Unira memperkenalkan batik tulis Pamekasan kepada mahasiswa yang sedang melakukan pertukaran mahasiswa itu.

Selain untuk memperkenalkan budaya membatik masyarakat Pamekasan, langkah itu juga untuk membantu Pemkab Pamekasan yang saat ini sedang gencar mempromosikan batik tulis.

Menurut Rektor Unira Pamekasan Risqina, pertukaran mahasiswa ini berkat kerja sama dengan South Asean Minister Education Organization (SEAMEO), yakni organisasi yang dibentuk oleh seluruh Menteri Pendidikan yang ada dinegara-negara ASEAN. [Baca Juga Adipura Itu Sararan Antara Menuju Pamekasan Hebat]

“Dan Unira merupakan salah satu Perguruan Tinggi di Pamekasan ini yang menjadi jujukan pertukaran mahasiswa ASEAN tahun ini,” kata Risqina.

Sebaliknya, mahasiswa Unira saat ini juga ada yang mengikuti pertukaran mahasiswa ke luar negeri dengan negara tujuan Thailand dan Filipina.

Tiga mahasiswa mengikuti pertukaran mahasiswa dengan negara tujuan ke Filipina. Mereka adalah Ririn Setiafi Jannah dari Fakultas Ekonomi, kemudian Firman dan Sofyan dari Fakultas Teknik Informatika serta Baddrus Syamsih dari Fakultas Ilmu Administrasi, dan satu mahasiswa lagi dengan tujuan negara Thailand.

Pertukaran mahasiswa ini dalam bentuk pembelajaran selama 28 hari mulai dari tanggal 14 Januari sampai 10 Februari 2019, yang diikuti Filipina, Indonesia, Thailand, Malaysia dan Vietnam. Dalam satu tahun dilakukan sebanyak dua kali.

Sementara Unira sendiri baru mengikuti mahasiswa dari kampus tersebut awal tahun 2019 ini, dan juga menerima dua mahasiswa dari Filipina, yakni Raymond M. Espedion dan Hannah Grace A. melakukan pertukaran studi (Student Exchange) dari Ilo-Ilo Science and Technology University (ISATU) Philipines.

“Fokus pertukaran ini pada bidang pendidikan, yakni membandingkan metode pembelajaran antara Indonesia dan Filipina,” katanya, menjelaskan.

Kendatpun demikian, sambung Rektor Risqina, pihaknya juga memandang perlu memperkenalkan banyak hal terkait potensi yang ada di Pamekasan kepada para peserta pertukaran mahasiswa itu, salah satunya batik tulis Pamekasan.

“Tujuannya, agar mereka mengetahui potensi budaya yang ada di Pamekasan ini disamping komitmen kami juga membantu pemkab yang saat ini sedang gencar mempromosikan batik tulis hasil kerajinan warga Pamekasan,” kata Rektor Unira Risqina, menjelaskan. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Baddrut Tamam Lantik Penjabat Sekda

Prosesi Pelantikan Penjabat Sekda di Pendopo Ronggosukowati Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Jumat (1/2/2019).

PAMEKASAN HEBAT – Penjabat (Pj) baru Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Pamekasan, Jumat (1/2/2019) pagi, dilantik di Pendopo Ronggosukowati Pamekasan oleh Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

“Penggantian Penjabat (Pj) Sekda di lingkungan Pemkab Pamekasan ini langsung oleh Gubernur Jawa Timur,” kata Kepala Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKSDM) Lukman Hedi Mahdia sebelum acara gladi bersih pelantikan PJ Sekda yang baru itu di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, Kamis (31/1/2019) malam.

Pj Sekda baru yang menggantikan Pj Sekda sebelumnya Moh Alwi adalah Andik Fadjar Tjahyono, M.Si Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Provinsi Jawa Timur.

Dasar penggantian Pj Sekda Moh Alwi langsung oleh Gubernur Jatim ini, adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2018 tentang Penjabat Sekretaris Daerah. [Baca Juga: Bupati Nikmati Nasi Kobal dan Kopi Kangen Buk Musabbihah]

Pada Pasal 10 ayat 2 dijelaskan, bahwa apabila terjadi kekosongan jabatan sekda dalam tiga bulan terlampaui, dan sekda definitif belum ditetapkan, maka Gubernur menunjuk penjabat yang memenuhi syarat.

“Jadi penggantian Pj Sekda Pemkab Pamekasan kali ini, karena regulasinya memang mengatur seperti itu, bukan karena ada like and dislike,” kata Lukman.

Sesuai SK Gubernur Nomor: 821:/1597/204.4/2019 tertanggal 21 Januari 2019, Pj Sekda Andik Fadjar Tjahyono, M.Si, pengganti Pj Sekda sebelumnya Moh Alwi itu ditugaskan dalam tiga hal. [Baca Juga: Pamekasan Promosikan Kuliner Melalui “Sae Salera Culinary Festival 2018]

Pertama, melaksanakan seleksi terbuka pengisian kekosongan jabatan Sekda definitif, dan kedua, melaksanakan pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama, dan melakukan rotasi atau mutadi pejabat struktural di lingkungan Pemkab Pamekasan.

Ketiga, melaksanakan tugas-tugas sebagai sekretaris daerah sebagai penjabat (Pj) sesuai ketentuan.

Sementara selain sekda definitif, pimpinan OPD yang kosong di lingkungan Pemkab Pamekasan saat ini, meliputi, Inspektorat, Bappeda, Dinas Tanaman Pangan dan Oerkebunan, lalu Staf Ahli, dan Asisten Pembangunan Pemkab Pamekasan.

Sedangkan Moh Alwi kembali menduduki jabatan sebelumnya sebagai Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Pamekasan. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Koordinasikan Rencana Penerbitan Kartu “Pamekasan Sehat” ke BPJS Kesehatan Jatim

Bupati Pamekasan bersama sejumlah pimpinan OPD saat menggelar rapat koordinasi dengan BPJS Kesehatan Jawa Timur terkait rencana penerbitan Kartu Pamekasan Sehat bagi warga miskin yang belum tercakup program JKN-KIS di Kabupaten Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam melakukan kunjungan kerja ke BPJS Kesehatan Jawa Timur, Senin (28/1/2019) mengoordinasikan peningkatan kualitas layanan kesehatan hidup masyarakat dan rencana penerbitan kartu “Pamekasan Sehat”.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam mengatakan, saat ini, sebagian warga miskin di kabupaten yang dipimpinnya masih ada yang belum tercakup program Jaminan Kesehatan Nasional.

“Oleh karena itu, kami berkoordinasi secara langsung dengan BPJS Kesehatan Jawa Timur terkait hal ini,” ujar bupati. [Baca Juga: Jenis Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Pamekasan]

Foto bersama Bupati Pamekasan Baddrut Tamam bersama sejumlah pimpinan OPD dan pejabat BPJS Jatim.

Pada Senin (28/1) siang, Bupati Baddrut Tamam melakukan kunjungan kerja ke kantor BPJS Jatim didampingi Kadis Sosial Syaiful Anam, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bapedda Rahmat Kurniadi Suroso, Kepada Dinas Kesehatan Ismail Bey, Direkur RSUD Dr Slamet Martodirdjo Farid Anwar, dan Direktur RS Waru Pamekasan Hendarto.

Bupati menjelaskan, kunjungan ke BPJS Kesehatan Jatim itu juga berkaitan dengan rencana penerbitan kartu Pamekasan Sehat bagi warga miskin yang belum tercakup program JKN.

“Kami berkepentingan di Pamekasan terwujud pelaksanaan pelayanan yang merata dan berkualitas, dan masyarakat yang miskin dan kurang mampu bisa tercakup layanan kesehatan ini,” katanya. [Baca Juga: Wabup Pamekasan Minta HMI Komitmen pada Misi Perjuangan]

Sementara itu, berdasarkan data BPJS Kesehatan Madura, warga di Kabupaten Pamekasan, memang belum semua tercakup program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Sebab, jumlah peserta BPJS Kesehatan baru sebanyak 654.544 jiwa atau sekitar 73,89 persen dari total jumlah penduduk sebanyak 885.890 jiwa.

Namun demikian, jika dibanding dengan tiga kabupaten lain di Pulau Madura, persetase kepesertaan program JKN-KIS di Kabupaten Pamekasan labih tinggi dibanding tiga kabupaten lainnya, yakni Sumenep, Sampang dan Kabupaten Bangkalan. [Baca Juga: Menguatkan Identitas Pamekasan Sebagai Kota Batik]

Sebab di Kabupaten Bangkalan sebanyak 680.219 jiwa atau sekitar 63,65 persen dari total jumlah penduduk sebanyak 1.068.717 jiwa yang tercakup program ini, dan di Kabupaten Sampang sebanyak 701.212 jiwa atau sekitar 82,72 persen dari total jumlah penduduk sebanyak 847.707 jiwa.

Sedangkan di Kabupaten Sumenep, sebanyak 752.823 jiwa atau sekitar 66,82 persen dari total jumlah penduduk sebanyak 1.126.724 jiwa. [Baca Juga: Menteri Koperasi Puspayoga Kagum Batik Tulis Pamekasan]

“Selain secara persentase paling tinggi, peserta program JKN-KIS yang dibiayai pemerintah daerah juga paling banyak di Kabupaten Pamekasan dibanding tiga kabupaten lain di Madura,” kata Kepala Cabang Pamekasan BPJS Kesehatan Elke Winasari.

Elke juga mengapresiasi rencana Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menerbitkan kartu “Pamekasan Sehat” untuk warga miskin yang belum tercakut program JKN-KIS itu. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Pamekasan Buka Turnamen Batumarmar United 2019

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam didampingi Wakil Bupati Raja’e menyerahkan secara simbolis bola kepada wasit pada acara Open Turnamen Batumarmar United 2019.

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, Sabtu (5/1/2019) membuka turnamen sepakbola Batumarmar United 2019. Bupati hadir ke acara itu didampingi Wakil Bupati Pamekasan Raja’e.

Kegiatan ini sebagai ajang untuk mencari bibit unggul putra daerah dalam dunia olahraga sepakbola, serta sebagai pembinaan pada klub sepakbola yang ada di wilayah itu.

Terdapat 32 tim peserta berasal dari wilayah pantai utara (Pantura) Madura dan wakil dari Kabupaten Jember, Jawa Timur yang juga ikut serta dalam kejuaraan tersebut. [Baca Juga: Demonstrasi Tanpa Spasi]

Foto bersama peserta Turnamen Batumarmar United 2019 saat acara pembukaan.

Secara simbolis, Bupati Baddrut Tamam menyerahkan bola pertandingan kepada wasit yang memimpin dengan didampingi Wakil Bupati Pamekasan Raja’e, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Pamekasan Lukmanul Hakim, dan Ketua Askab PSSI Pamekasan. [Baca Juga: Jenis Pelayanan di Mall Pelayanan Publik Pamekasan]

Dalam sambutannya, Bupati Baddrut Tamam menyatakan, bahwa rivalitas dalam kompetisi tersebut hanya 90 menit yakni selama pertandingan berlangsung, selebihnya adalah persahabatan.

“Turnamen ini, harus menjunjung sportivitas sehingga bisa melahirkan juara sejati melalui kompetisi yang sehat dan harapan terbesarnya dari kejuaraan ini bisa lahir pesepakbola yang bisa dilirik oleh klub profesional,” kata “RBT” sapaan akrab Bupati Baddrut Tamam. (PAMEKASAN HEBAT)

Baddrut Tamam Hadiri Peresmian Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, Jumat (28/12/2018) malam menghadiri peresmian Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha yang terletak di Jalan Pahlawan Surabaya.

Bupati hadir secara langsung pada peresmian itu, karena sebagai simbol provinsi berprestasi di Indonesia.

Menurut Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha yang terletak di Jalan Pahlawan Surabaya atas saran dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

“Saat HUT Jatim 12 Oktober 2016, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memimpin upacara dan meminta bahwa capaian selama ini harus diabadikan,” ujarnya di sela peresmian Tugu Parasamya Punakarya Nugraha.

Tugu tersebut, kata dia, lokasinya menjadi satu dengan tugu Titik Nol Surabaya yang berada di halaman Kantor Gubernur Jatim.

Untuk membuat tugu ini, orang nomor satu di Pemprov Jatim itu menggandeng I Nyoman Nuarta yang merupakan seniman pembuat Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali.

Terdapat tiga replika penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha yang di sekitarnya berpadu pahatan seni Reog Ponorogo, Karapan Sapi, Tari Remo hingga Tari Gandrung Banyuwangi.

Ini sesuai dengan raihan penghargaan tersebut, yakni pada 1974 yang diserahkan oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur HM Noer, kemudian pada 2014 serta 2017 pada era Gubernur Soekarwo.

Pakde Karwo, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa tugu yang baru diresmikan merupakan simbol berisi pesan kepada masyarakat bahwa Jatim sukses meraih penghargaan dari pemerintah pusat, bahkan secara berturut-turut pernah menjadi provinsi dengan nilai terbaik di antara provinsi lain di Tanah Air.

Parasamya Purna Karya Nugraha diberikan sebagai penghargaan kepada institusi pemerintah atau organisasi yang menunjukkan karya tertinggi pelaksanaan pembangunan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat selama tiga tahun berturut-turut.

Gubernur Jatim dua periode itu berharap tugu tersebut dapat mengingatkan masyarakat terkait prestasi Jatim, sehingga terus bahu-membahu menjaga kebudayaan dan meningkatkan perekonomian.

Hadir pada peresmian tugu, Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman, Wakil Ketua DPRD Jatim Tjutjuk Sunaryo, sejumlah kepala daerah, pejabat OPD Pemprov Jatim serta ratusan tamu undangan lainnya. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Baddrut Tamam Cegah Korupsi di Pamekasan Bersama KPK

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menyerahkan bingkisan berupa batik tulis Pamekasan kepada pengurus PWI Jatim dalam acara Pelantikan Pengurus PWI Pamekasan Periode 2018-2021.

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam berupaya mencegah praktik korupsi di lingkungan Pemkab setempat melalui kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ini kami lakukan karena kami ingin bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan tidak melanggar hukum,” ujar Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, seperti dilansir Jatim.antaranews.com, Minggu (8/12/2018).

KPK yang akan diundang hadir ke Pamekasan itu pada bagian pencegahan.

Menurut Baddrut, nantinya hal-hal yang berkaitan dengan kemungkinan adanya tindakan yang mengarah kepada tindak pidana korupsi, terutama berbaikan dengan penggunaan anggaran, akan ditangani langsung oleh bagian pencegahan KPK.

“Januari 2019 ini KPK kami undang ke Pamekasan. Kami akan bekerja sama, agar dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan sehingga kami bisa terarah dalam bekerja, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan berlaku,” kata Baddrut.

Mantan anggota DPRD Jatim dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini lebih lanjut menjelaskan, kerja sama dengan bagian pencegahan KPK ini, juga sebagai bentuk komitmen dirinya dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas praktik korupsi.

“Salah satunya dengan bekerja sama dengan bagian pencegahan KPK ini,” kata Baddrut menambahkan.

Selain itu, sambung dia, guna meningkatkan pelayanan publik dan mewujudkan sistem pemerintahan yang transparan, pemkab meminta agar semua elemen masyarakat ikut melakukan pengawasan proaktif atas kinerja Pemkab Pamekasan.

“Saran dan kritik yang membangun dan bertanggung jawab, sangat kami harapkan, dan sistem pemerintah bersih, bebas KKN harus menjadi komitmen semua elemen masyarakat,” katanya.

Sebab, sambung dia, niat baik untuk mewujudkan tata kelola pemerintah yang bersih, taat aturan akan mudah diwujudkan apabila mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat. (JATIM.ANTARANEWS.COM)

Menteri Puspayoga Apresiasi Gagasan Berbaur Promosikan Batik Madura

Pameran UKM Madura Menjemput Asa, Menembus Batas Pemkab Se-Madura yang digagas Bupati Pamekasan Baddrut Tamam di Jakarta.

PAMEKASAN HEBAT – Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga menyampaikan apreasi gagasan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam bersama tiga bupati lainnya di Madura yang membawa para pelaku UMK ke Jakarta untuk menggelar acara “Madura Menjemput Asa Menembus Batas”, yang diadakan di Smesco Indonesia, selama dua hari pada 28-29 November 2018.

“Saya memberikan apresiasi dan mengucapkan terimakasih atas dukungan yang luar biasa dari para Bupati se Madura didukung Bupati Kediri, dalam membina dan mensupoort UMKM-nya agar bisa menambah daya saing sekaligus membuka akses pasar dengan mengggelaar acara ini,” kata Menteri Puspayoga dalam sabutannya pada acara Ragam Kriyanusa Jawa Timur dalam Etnik Kontemporer di Era Revolusi Industri 4.0, Madura Menjemput Asa Menembus Batas, di gedung Smesco Indonesia, Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Menteri Puspayoga mengharapkan setelah inisiatif dari Bupati se-Madura dan Kabupaten Kediri ini, Smesco Indonesia akan semakin sering dipakai sebagai ajang promosi bagi UMKM seluruh Indonesia.

“Smesco Indonesia kini hadir dengan wajah baru dimana ketika kita masuk ke sini maka akan langsung melihat seluruh produk UMKM se Indonesia dari Sabang sampai Merauke, karena di lantai satu dan dua, ada produk UMKM selindo dengan harga langsung dari pengrajin,pebeli hanya dikenai tambahan PPn saja,” katanya.

Lantai satu sampai tiga, juga difungsikan sebagai sarana sosial dimaan UMKM maupun koperasi bisa menggelar acara disini tanpa dipungut biaya.

Puspayoga mengatakan di Smesco Indonesia, pembeli tak hanya bisa membei secara eceran namun dimungkinkan membeli secara grosir, karena pengelola Smesco Indonesia sudah memiliki database lengkap menyangkut pengarjin ang memasok produknya di Smesco.

“Adanya revolusi industri 4,0, saya harap malah bisa menjadikan dorongan untuk maju, karena kita masih membutuhkan pemasaran offline, misalnya Bukalapak saja malah membuka tokonya di sini, meskipun space nya tidak terlalau luas,namun intinya offline tetap menjadi suatu kebutuhan ditengah era revolusi industri,” tambahnya.

Sementara itu Dirut LLP KUKM pengelola Smesco Indonesia, Emilia Suhaimi. mengatakan, event ini tentu strategis dan penting utamanya ketika kita mengangkat tema Madura, karena kebanyakan masyarakat kita memiliki pemahaman, yang tidak lengkap tentang masyarakat dan budaya Madura. Bukan hanya karapan yang terkenal dari madura, tetapi banyak lagi produk unggulan yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat luas.

LLP-KUKM bergerak di bidang layanan pemasaran KUKM dengan merevitalisasi paviliun propinsi menjadi tempat display permanen, pusat promosi dan pemasaran produk unggulan KUKM daerah yang berciri identitas daerah, Local Heritages dan Keunikan dari 34 provinsi di Indonesia..

Festival daerah merupakan bagian dari usaha revitalisasi pavilion provinsi yang merupaka ajang ekspose semua potensi unggulan daerah mulai dari produk, pariwisata, budaya dan kuliner khas daerah yang mencirikan identitas daerah, local heritage dan keunikan, sehingga menjadi referensi terbaik untuk mendapatkan produk unggulan KUMKM Indonesia.

Emilia menjelaskan, event ini Madura ini merupakan kerjasama antara smesco INDONESIA dengan Pemda Jatim khususnya Pemda 4 Kabupaten se Madura dan Kediri dengan tema Madura Menyambut Asa Menembus Batas. Acaranya adalah menggelar pameran aneka Produk Unggulan dan dimeriahkan oleh fashion show Seset Art, Tarian Songsong Senom, drama tari “Panji Asmarantaka”, dan berbagai demo seperti; demo membatik, demo lukis kain, demo lukis tas, demo ukiran/warangka keris, demo lukis bakar, serta kuliner khas Madura.

Kepopuleran ramuan tradisional Madura memang tidak dapat diragukan lagi, lebih dikenal sebagai solusi manjur untuk mengatasi persoalan gangguan seksual. Namun demikian, sejatinya ramuan Madura tidak hanya berfungsi afrodisiak, melainkan juga terbukti berkhasiat ampuh untuk perawatan kesehatan tubuh. Berbagai jamu produk ukm madura ditampilkan dan bisa didapatkan pada kesempatan langka ini.

Begitu pula Rujak Bubur atau dalam bahasa Madura “Jek Tajin”, kuliner yang hanya muncul di bulan Ramadhanpun juga disuguhkan. Pendek kata, inilah saatnya kita berkangen kangenan, bergembira dalam suasana citarasa madura dan kediri.

“Kami berterima kasih kepada para pihak yang membantu dan mendukung berkembangnya KUMKM di tanah air khususnya para pelaku usaha di setiap Provinsi, baik dalam hal peningkatan kualitas maupun kapasitas. Karena itu, kami mendukung sepenuhnya event Madura Menyambut Asa menembus batas yang berlangsung saat inu di smesco Indonesia,” ungkap Emilia.

Bupati Sumenep KH Ahmad Busyro Karim mengatakan acara seperti ini harus banyak dikembangkan, karena sedikit banyak akan membantu kendala pengembangan UMKM yang ada di Madura.

Menurut Bupati Busyro, setidaknya ada dua kendala yang dihadapi UMKM di Pamekasan dan Madura pada umumnya yaitu, kemasan (packaging) yang masih sederhana sehingga sulit untuk menembus pasar global. Dan yang kedua, masalah pemasaran yang kalah bersaing dengan perusahaan besar, akibat biaya produksi yang rata=rata lebih besar dibanding perusahaan besar untuk profuk sejenis.

Namun tegas Bupati,kendala-kendala itu bukan menjadi alasan bagi Kepala Daerah untuk berhenti membina UMKM. Di Pakemasan misalnya, Bupati Busyro telah menetapkan program 1.000 wirausaha muda, dengan alokasi biaya APBD sekitar Rp 15 miliar pertahunnnya, dan dilengkapi dengan inkubator.

“Ide atau gagasan seperti pameran ini adalah upaya kami untuk bisa memberikan ruang bagi produk UMKM nenembus pasar nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Secara khusus Bupati Sumenep memberikan apresiasi kepada Menkop dan UKM Puspayoga yang tak kenal lelah berupaya memberikan support pada pengembangan produk UMKM khususnya di Madura.

“Beliau sering berkunjung ke Sumenep dan Madura hanya untuk melihat pembuatan batik maupun keris, ini sangat luar biasa bagi kami,” akunya.

Sementara itu Bupati Pamekasan Badrut Tamam selaku Inisiator acara Madura Menjemput Asa Menembus Batas mengatakan, secara umum empat Kabupaten di Madura (Sampang, Bangkalan, Sumenep dan Pamekasan) masih tertinggal dibanding wilayah lain. Di pulau ini, ada 52.200 UMKM, 3.625 Koperasi dan 7.080 perajin batik dan total jumlah penduduk 4 juta jiwa.

“Saya pikir jika pembinaan kepada mereka dilakukan secara kontinyu, maka saya optimis Madura akan mampu mengejar ketertinggalan dibanding wilayah lain di Indonesia,” tegasnya.

Ia memberi contoh, batik madura yang hampir semuanya merupakan batik tulis,namun masih kalah populer dibanding batik Solo maupun Jogja. “Batik Madura kualitasnya sangat bagus,namun kurang promosi. Ini yang kami harapkan ada campur tangan dari pemerintah pusat bagaimana agar batik Madura ini bisa terangkat, misalnya dalam seminggu sekali, pegawai diwajibkan memakai batik Madura,” tambahnya. (RILIS KEMENKO DAN UKM)