Menangkap Potensi Wisata Baru Pamekasan, di Kawasan Hutan Mangrove

Akh Fawaid Dosen STIE Bhakti Bangsa Pamekasan.

Oleh: Akh. Fawaid
PAMEKASAN HEBAT – Kawasan wisata alam di Kabupaten Pamekasan,belum sepenuhnya mampu bersaing dengan kawasan wisata alam, yang berada di Madura. Sebutlah, Kabupaten Sumenep, yang memiliki belasan wisata alam, yang mampu menarik wisatawan domistik maupun internasional datang, ke Kabupaten yang berada di kawasan timur Madura tersebut.

Ada banyak masalah mengapa tempat wisata alam di Kabupaten Pamekasan, belum sepenuhnya memikat wisatawan domistik, apalagi wisatawan macanegara. Salahsatunya, belum terpenuhinya beberapa elemen pariwisata. Elemen Pariwisata menjadi penting untuk dipersiapkan, untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat pengunjung.

Elemen pariwisata yang dimaksud diantaranya, elemen antraksi. Elemen ini lebih kepada sasaran atau tujuan wisata yang mampu memberikan daya tarik kepada wisatawan. Baik dari sisi keunikan, keragaman, maupun fasilitas yang ditawarkan.

Selanjutnya, elemen fasilitas. Elemen ini lebih kepada penyediaan kebutuhan yang diinginkan oleh pengunjung atau dikenal dengan pernak-pernik yang sediakan di lokasi wisata. Misalnya, penyediaan kamar mandi, mushalla, termasuk kuliner di lokasi wisata.

Elemen intrastruktur lebih kepada penyediaan kemudahaan akses Jalur menuju lokasi wisata. baik akses jalan di dalam lokasi wisata, maupun diluar wisata yang menuju tempat wisata. dan selanjutnya adalah elemen trasportasi. Elemen ini untuk mempermudah pengunjung didalam mendapatkan alat trasnportasi yang layak dan terjangkau terhadap lokasi wisata yang dituju. Lalu, elemen kelembagaan.

Mengelola tempat pariwisata, membutuhkan sebuah kekuatan organisasi atau persatuan yang mengikat. Dalam pengelolaan pariwisata yang biasa dilakukan oleh kelompok pecinta Pariwisata, seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), ataupun elompok pelopor pemuda pariwisata, ataupun dikendalikan oleh pihak ketiga langsung, yang berupa perusahaaan pengelola tempat wisata. Dan Elemen Informasi Dan Promosi. Elemen ini lebih kepada informasi fasilitas yang ditawarkan, rute maupun papan larangan dikawasan wisata. Sementara promosi adalah penyebarluarsan informasi kawasan wisata, misalnya lewat webset, blogger, facebbok, twiter, istagram, maupun media cetak berupa koran maupun elektronik berupa radio dan online.

Di Kabupaten ini, ada beberapa lokasi wisata alam, yang dikendalikan pemerintah, maupun masyarakat. Misalnya yang dikendalikan oleh Pemerintah ialah wisata pesisir talang siring, yang berada di Desa Montok Kecamatan Larangan, Pamekasan. Kawasan wisata Pantai Jumiang, yang berada di Dusun Jumiang, Desa Tanjung Kecamatan Pademawu.

Sementara, wisata alam yang dikendalikan oleh masyarakat, ialah wisata Api Tak Kunjung Padam atau wisata api yang tidak pernah padam atau mati. Wisata ini terletak di Desa Larangan Tokol Kecamatan Tlanakan Pamekasan. Wisata ini, sepenuhnya dikelola oleh pemilik lahan. Pemerintah sudah berkali-kali melakukan loby, agar pengelolaanya dikendalikan pemerintah. Tetapi, pemilik lahan enggan menyetujuinya.

Dari beberapa tempat wisata tersebut, belum sepenuhnya mengikuti elemen pariwisata, seperti yang sudah dijelaskan diatas. Misalnya saja, kawasan wisata talang siring. Dari sisi elemen antraksi, kawasan wisata ini memiliki daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat melihat laut lepas dari kawasan wisata talang siring. Khususnya pada saat pagi hari maupun sore hari. Pada pagi hari, pengunjung akan melihat detik-detik terbitnya matahari dari arah timur. Sementara, sore hari pengunjung bisa melisat detik-detik terbenamnya matahari.

Sementara, elemen fasilitas baru dimulai sejak tahun 2018, secara bertahap dipenuhi oleh Pemkab Pamekasan. Namun, fasilitas yang ditawarkan belum sepenuhnya. Namun, fasilitas yang disedikan di kawasan wisata tersebut, rupanya belum sepenuhnya mampu memikat wisatawan. Elemen kelembagaan di wisata talang siring, juga sudah terbentuk melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Berbeda dengan wisata Pantai Jumiang, tempat yang memiliki panorama indah itu, kondisinya tidak menampakkan sebagai tempat wisata. Ditambah lagi, kondisi fasilitas tempat wisata yang rusak. Namun, setelah ada perbaikan dari pemerintah, kawasan wisata tersebut, mulai ada keindahan. Sekalipun, fasilitas yang di bangun, belum sepenuhnya memuaskan pengunjung. Ditambah lagi, akses infrastruktur jalan, yang menuju kawasan wisata, diketahui masih banyak yang rusak.

Kebedaraan Hutan Mangrove Dan Potensi Destinasi Wisata Baru
Hutan Mangrove atau istilah lainya di kenal hutan bakau. selama ini dikenal sebagai tanaman penangkal ombak, yang berada di sejumlah kawasan pesisir di Indonesia khususnya di Pulau Madura.

Hutan mangrove sendiri merupakan hutan yang tumbuh di air payau dan proses pertumbuhanya di pengaruhi oleh pasang-surutnya air laut dan hutan ini selalu tumbu di kawasan dimana terjadi pelumpuran dan kumulasi bahan organik.

Di Madura sendiri, pertumbuhan pohon mangrove ini sering kali tidak mendapat perhatian masyarakat. Bahkan, justru mendapat perlakuan kejam, berupa pengrusakan, penebangan dan pencabutan pohon mangrove. Akibatnya, kelestarian hutan mangrove ini, tidak berkembang maksimal dan merata di Madura.

Selain itu, lahan yang peruntukanya untuk hutan mangrove, dialihfungsikan menjadi lahan untuk pengelolaan tambak garam. Akibatnya, lahan hutan mangrove semakin sempit.

Lahan Hutan mangrove sendiri di Madura rata-rata berada di atas lahan milik Perhutani sebagai hutan lindung. Namun, pengelolaan dan pengembangan hutan mangrove, perhutani melibatkan masyarakat sekitar lahan hutan mangrove.

Peneliti dalam kajian hutan mangrove, memberikan gambaran hutan mangrove, yang berada di pesisir Pamekasan. Data yang diperoleh Dinas Kehutanan Pemkab Pamekasan, yang kini sudah bergabung menjadi Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Hutan mangrove di Kabupaten Pamekasan, tumbuh dan berkembang di empat Kecamatan. Masing-masing Kecamatan Galis, Kecamatan Larangan Kecamatan Pademawu, dan Kecamatan Tlanakan. dan tersebar di 20 desa.

Dalam data tersebut juga menyebutkan, Hutan mangrove berada di atas lahan seluas 1,174.53 (Ha). Rincianya, sebanyak 714.53 (Ha) kondisinya baik, Sebanyak 42.00 (Ha) berada di kondisi sedang, dan sebanyak 418.00 (Ha) kondisinya rusak (data diambil tahun 2016).

Dari jumlah tersebut, 5 desa diantaranya Mangrove berada di dalam kawasan dalam hutan. Masing-masing Desa Lembung Kecamatan Galis seluas 25,00 (Ha), Desa Pandan Kecamatan Galis seluas 62,90 (Ha). Sementara di Kecamatan Pademawu, berada di Desa Majungan seluas 90.70(Ha), Desa Padelegan 43.90 (Ha).

Sementara Mangrove, yang berada di dalam kawasan luar hutan, tersebar di Empat Kecamatan di Pamekasan. Masing-masing Kecamatan Tlanakan, berada di Desa Ambat Dusun laok sabe seluas 36.47 (Ha), Rincianya, 11.47 (Ha) kondisinya baik dan 25.00 (Ha), kondisinya rusak. Desa Branta Tinggi berada di Dusun Gendingan dengan luas lahan 135.00 (Ha), dengan rincianya kondisi Mangrove baik sebanyak 110.00 (Ha), dan kondisi rusak 25.00 (Ha). Desa Tlanakan berada di Dusun Gardu dengan luas sebanyak 45.17 (Ha), rincinya kondisi baik sebanyak 35.17 (Ha), dan sisanya 10.00 (ha) kondisi rusak.

Melimpahnya jumlah luas lahan pohon mangrove di Pamekasan tersebut, belum sepenuhnya dijadikan peluang, untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata. Seperti yang sudah dikembangkan Pemerintah Kota Surabaya, dan Kabupaten Bangkalan. Hanya saja ada beberapa Desa di Kabupaten Pamekasan, memamfaatkan buah mangrove, untuk dijadikan kopi Mangrove. Sisanya, ditanam hanya untuk penangkal ombak.

Penulis selama kurang lebih satu tahun, melakukan pengumpulan data atas potensi destinasi wisata alam di Pamekasan. Hasil yang didapatkan, hutan mangrove, yang berada di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, dinilai ber-potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Indikator Desa tersebut ber-potensi diwujudkan sebagai kawasan wisata alam mangrove, diantaranya, melimpahnya jumlah pohon mangrove dan lahan yang tersedia, tingginya kesadaran kelompok masyarakat lingkungan yang melakukan pelestarian, pemamfatan, pengembangan dan pengawasan terhadapa pohon mangrove, serta penataan penanaman pohon mangrove.

Pusat penanam mangrove, di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan itu, berada di Dusun Bangkal terdapat petak 61A dengan Luas 3,8 Hektar hutan mangrove. dengan panjang +- 4 Kilo dan diperkirakan 30.000 pohon mangrove tertanam di lahan tersebut. Sementara, di Dusun Bungkaleng terdapat Petak 61B dengan luas 25,0 Hektar dan terdapat 260.000 pohon mangrove sudah tertanam di lokasi tersebut.

Sementara kelompok masyarakat Desa Lembung, yang melakukan pelestarian, pemamfatan, pengembangan dan pengawasan,_+ 290.000 pohon mangrove yang berada diatas lahan seluas 25,00 (Ha) tersebut, ialah Kelompok Tani Hutan (KTH) “SABUK HIJAU”, yang dibentuk masyarakat Desa Lembung, Kecamatan Galis, dengan 22 anggota. Adapun jenis Mangrove-nya, diantaranya Mangrove Rizhoporastylosa (jenis-nya ini juga terbagi dua yakni Macronata dan Stylosa). Selanjutnya, jenis Apicinia dan Sonyracia.

Dari tiga jenis tersebut, satu jenis yakni mangrove Rizhoporastylosa stylosa paling banyak di lestarikan. Alasanya, karena tingkat kehidupanya tinggi dan Popolasinya lebih banyak sehingga mudah untuk dikembangkan

Analisa Potensi Ekowisata
Hutan mangrove, yang berada di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, dinilai ber-potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata. Hasil kajian yang dilakukan oleh penulis, bahwa di kawasan tersebut, berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pamekasan Ahmad Syaifuddin mengemukan, pengertian ekowisata yakni kawasan wisata, yang didalamnya lebih banyak nilai-nilai edukasi, yang diberikan kepada pengunjung. Nilai-nilai edukasi tersebut, tidak keluar dalam lingkungan kawasan ekowisata yang dikunjungi. Sehingga, memperoleh dua mamfaat sekaligus. Yakni mamfaat berwisata dan mamfaat pendidikan di kawasan wisata. Konsep ekowisata ini, lebih banyak dimamfaatkan di kawasan wisata alam dan kawasa wisata alam tersebut alami.

Seperti yang dikemukakan sebelumnya, jika mewujudkan sebuah kawasan sebagai tempat pariwisata. Maka kawasan tersebut harus memenuhi elemen pariwisata. Pada elemen antraksi, Hutan mangrove, yang berada di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, diantaranya, melalui tracking kayu, gardu pandang, gallery mangrove, dan perahu rakyat. Pada elemen antraksi ini, bisa dikembangkan, disesuaikan dengan perkembangan kawasan ekowisata tersebut.

Tracking kayu.ini dibuat dalam rangka memberikan kemudahan terhadap pengunjung wisata kopi mangrove. Tracking kayu merupakan jalan setapak yang terbuat dari kayu ulin yang digunakan untuk menjelajahi hutan mangrove. Dengan konsep “Jelajah Mangrove” ukuranya kurang lebih 1 kilometer.
Tracking kayu, ini banyak digunakan di sejumlah lokasi wisata mangrove. Seperti yang dilakukan di wisata mangrove, Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu di bawah pengawasan Badan Pengelola Hutan Mangrove (BPHM) wilayah I Bali. hal serupa juga dilakukan di Tahura Ngurah Rai Bali.

Tracking akan dilengkapi oleh track map. Track map ini memberikan petunjuk akan rute-rute ataupun spot – spot yang akan dilewati. Track map mempermudah pengujun untuk mengetahui jalur-jalur yang akan dilintasi.
Selain Tracking Kayu, ada cara lain yang bisa membuat pengunjung bentah mengunjungi lokasi wisata mangrove. Yakni Gardu pandang. Gardu ini berbentuk seperti menara (tower). Ukuran panjangnya setinggi 7 meter. Ukuran ini juga bisa ditambah, tergantung yang akan mendirikan. Fungsi gardu pandang ini, dalam rangka untuk melihat pemandangan hutan mangrove dari atas tower.

Tidak hanya pohon mangrove yang bisa menikmati oleh pengunjung. Melalui tower ini, pengunjung bisa melihat dari atas seluruh fasilitas yang ditawarkan di kawasan wisata kopi mangrove tersebut. termasuk bisa melihat kawasan pantai disekitar pohon mangrove. Sementara, shelter berfungsi untuk memberikan kemudahan terhadap pengunjung, semisal untuk duduk – duduk bersantai sembari menikmati pemandangan mangrove dan satwa – satwa yang ada disana. (Mukhammad arief. 2013; Wisata Jelajah).

Dalam sebuah pengelolaan tempat wisata, seyogyanya harus memiliki pengelolaan dan pelatihan. Termasuk di dalam pengelolaan kawasan wisata kopi mangrove. Galery Mangrove ini sebetulnya hanya istilah yang bisa dirubah, sesuai dengan keinginan pengelola wisata. Istilah lainya sebagai pusat pengelolaan dan pelatihan yang berkelanjutan, yang perlu dilakukan oleh pengelola ataupun pengunjung wisata.

Selain itu Galery Mangrove juga difungsikan sebagai pameran hasil – hasil mangrove dan edukasi tentang ekosistem mangrove. Sehingga, pengunjung tidak hanya menikmati wisata mangrove secara langsung. Melainkan pula, bisa mengetahui secara utuh jenis-jenis mangrove serta fasilitas pendukung dilokasi wisata tersebut.

Selain beberapa fasilitas itu, Pengunjung bisa menikmati dan memetik kopi dari jarak dekat. Perahu rakyat Ini sudah dilakukan di kawasan wisata hutan kopi mangrove, desa lembung, kecamatan galis, Kabupaten Pamekasan.
Perahu ini bisa dimamfaatkan sebagai jelajah wisata mangrove. Hal ini juga dilakukan oleh best practice mangrove yang ada di Surabaya. Perjalanan jalur laut, selain bisa menikmati segarnya hawa pesisir, pengunjung bisa berkeliling menyusuri kawasan pantai berhutan bakau.

Konsep antraksi tersebut, sangat relevan jika dikembangkan di kawasan wisata Kopi Mangrove, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. dan lokasi wisata tersebut, sangat prospek untuk dikembangkan, sambil melakukan pelestarian lingkungan.

Sementara elemen lainya, yakni elemen fasilitas, elemen infrastruktur, elemen transportasi dan elemen komunikasi dan informasi, mudah dijangkau dalam mewujudkan ekowisata mangrove.

Tinggal selanjutnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan bersama Perhutani Madura memiliki keinginan yang tinggi, untuk mewujudkan kawasan Hutan Mangrove, Desa Lembung Kecamatan Galis, Pamekasan, sebagai kawasan ekowisata. Sementara masyarakat, melalui kelompok tani hutan yang tergabung dalam ‘sabuk hijau’, sudah memiliki tekad tinggi untuk mewujudkan kawasan tersebut sebagai kawasan ekowisata. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis merupakan peneliti dan Dosen STIE Bakti Bangsa Pamekasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close