Cara Menjadi Kaya Ala Digital Enterpreneurship Academy (1)

PAMEKASAN HEBAT“Adakah di antara anda ini yang ingin menjadi kaya? Yang ingin kaya coba ajungkan tangan..! Yang tidak mengacungkan tangan berarti tidak ingin kaya, dan saya doakan yang tidak mengacungkan tangan semoga tidak akan bisa kaya”.

Begitulah kalimat yang disampaikan pemateri Salies Apriliyanto,ST pada acara pelatihan Digital Enterpreneurship Academy Digital Talent Scholarship di kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemkab Pamekasan pada 22 Februari 2022.

Audien yang mengikuti pelatihan itu semuanya mengacungkan tangan. Pernyataan merupakan doa. Mereka tentu tidak ingin penegasan diri dalam bentuk sikap yang mereka lakukan, menjadi doa di kemudian hari.

“Coach Salies” begitu ia meminta peserta yang mengikuti pelatihan itu menyebut dirinya, berupaya membangun ruang kelas lebih hidup, komunikatif dan interaktif. Pilihan panggilan sebagai “coach” atau pelatih, karena pelatih bukan mengajar, akan tetapi mengarahkan dan memberi solusi.

Salies lalu melanjutnya penjelaskannya, jika anda ingin kaya, maka hanya ada dua hal yang perlu anda lakukan. Pertama, harus tau dimana uang itu berada, kemudian yang kedua, harus tahu cara mengambil uang tersebut.

Berikutnya ia menunjukkan data-data hasil penelitian dari Mc Kinsey Global Institute yakni sebuah lembaga yang fokus pada kajian bisnis dan ekonomi yang menyebutkan bahwa pada tahun 2012 Indonesia berada pada peringkat ke 16 dan pada 2030 diperkirakan akan meningkat tajam di peringkat ke 2030.

Empat sektor diperkirakan sangat potensi berdasarkan data tersebut, yakni barang konsumsi, pertanian dan perikanan, sumber daya alam, dan pendidikan swasta.

Ditunjukkan pula populasi penduduk pengguna media sosial yang menyebutkan bahwa 60 persen dari total populasi merupakan pengguna media sosial. Bahkan pada 2021, Indonesia termasuk negara nomor 1 di dunia sebagai pengguna e-commerce tertinggi.

“Transaksi online Indonesia ini mencapai puncaknya pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2021 kemarin, yakni mencapai Rp18,1 triliun,” kata Salies.

Melalui data-data tersebut, pemateri ini ingin menunjukkan kepada peserta bahwa Indonesia sejatinya merupakan tempat uang, sehingga wajar apabila akhir-akhir ini banyak perusahaan asing masuk mencari uang di Indonesia.

“Anda tahu Shopee, platform belanja online itu milik siapa? Itu bukan milik Indonesia, tapi milik asing. Kenapa ada di sini? Ya karena pengelolanya tahu di Indonesia ini tempatnya uang,” kata Salies menambahkan.

Setelah membawa alam pemikiran peserta memahami potensi ekonomi yang sebenarnya di Indonesia, Salies kemudian berupaya masuk pada poin kedua, yakni cara mengambil uang dengan variable strategi pemasaran “4P” (product/produk, price/harga, place/tempat, dan promotion/promosi).

Dalam menjelaskan poin kedua ini, ia menggunakan pola pendekatan dialogis partisipatory. Yang dilakukan pertama, menanyakan audien peserta pelatihan yang usahanya menghasilkan produk, lalu yang tidak menghasilnya produk, dan yang terakhir yang belum memiliki usaha dan masih akan memulai. Ketiga kategori tersebut ada di forum itu.

“Yang punya produk ini kendalanya apa? pemasaran..! Jawab mereka serentak. Ada satu orang menjawab modal!

Tapi Salies lalu balik bertanya, memangnya lakunya berapa hingga kamu membutuhkan modal tambahan? Modal tambahan itu kan dibutuhkan apabila produknya laku, dan pesanannya melebih dari produk yang dihasilkan saat itu, sehingga jika tidak ada tambahan modal, maka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Kalau lakunya saja belum, kan tidak masuk akal jika membutuhkan modal tambahan, kata Salies lagi.

Berikutnya, sang narasumber ini menanyakan pada peserta yang memiliki jenis usaha jasa. Salah satunya ojek online lokal, dan loundry. Kendalanya relatih sama, usahanya juga belum laku dan belum dikenal oleh banyak orang, karena baru merintis.

“Apakah anda memiliki telepon seluler seperti ini?,” tanya Salies secara tiba-tiba sambil menunjukkan telepon seluler miliknya. “Punya,” jawab peserta.

“Kenapa anda tindak memanfaatkan sarana ini untuk mempromosikan hasil produk anda?,” kata pemateri itu lagi.

Ia kemudian menanyakan satu persatu peserta pelatihan jumlah kontak whatshap yang tersimpan di nomor telepon peserta. Ada yang berisi 100, 200 kontak, ada juga memiliki nomor kontak whatshap hingga 300 lebih.

“Ini adalah potensi, apabila bisa dimanfaatkan dengan baik. Dengan memiliki 100 nomor kontak saja, berarti ada potensi 100 orang calon pembeli yang berpotensi membeli produk kita,” katanya.

“Apakah selama ini sudah pernah digunakan, memanfaatkan nomor kontak yang ada miliki untuk kepentingan bisnis yang ada kelola?,” kata Salies menambahkan dan langsung dijawab ‘tidak oleh para peserta pelatihan itu.

“Sekarang saya mau tanya, apakah anda mau saya bantu memprosikan produk anda? Yang lain yang tidak punya produk, mau apa tidak?,” kata pria paruh baya ini lagi. Semuanya menjawab mau, termasuk yang memiliki usaha.

Yang tidak memiliki usaha ini, bisa saja juga membantu promosi pemilik produk lainnya, sehingga dia juga bisa memiliki hasil tidak hanya dari satu produk saja, akan tetapi juga dari beberapa produk.

Ketentuan sistem harga, dari produsen ke reseller harus ditentukan, sehingga dengan demikian sama-sama fair dan bertanggung jawab. (Bersambung ke Bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s