Menakar Peran Perempuan Pamekasan Dalam Kesetaraan Gender

Oleh: Erfan Iswantoro
Ditakdirkan kalau pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja…
wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu…
namun ada kala pria tak berdaya, tekuk lutut di sudut kerling wanita…

Lagu lawas berjudul “sabda alam” yang pernah dipopulerkan oleh Iin Parlina dan Bimbo ini tentu tidak asing di telinga kita. Sebait lagu di atas salah satunya menggambarkan posisi perempuan yang kurang menguntungkan, walaupun sebenarnya kaum hawa ini punya potensi kekuatan besar. Sepanjang perjalanan sejarah, perempuan memiliki peranan dan kedudukan sangat penting. Kiprah perempuan di panggung sejarah tidak diragukan lagi. Pada tahun 1879 telah lahir seorang pejuang perempuan, yaitu R.A. Kartini. Beliau adalah pelopor dan pendahulu perjuangan untuk pendidikan dan persamaan hak perempuan. Puncaknya dengan diadakannya “Kongres Perempuan” pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Tonggak sejarah inilah yang kemudian kita peringati sebagai “hari ibu” di setiap tanggal 22 Desember.

Dalam perspektif pembangunan yang bernuansa gender, perempuan dan laki-laki harus selalu mendapat akses yang sama dalam pembangunan, dapat berpartisipasi dan bersama-sama mempunyai kesempatan dalam pengambilan keputusan dan akhirnya dapat menikmati keuntungan dari pembangunan tersebut secara bersama-sama pula. Salah satu agenda dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) diantaranya juga disebutkan untuk meraih kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan. Namun kenyataan menunjukkan masih banyak permasalahan yang dihadapi kaum perempuan, termasuk di Pamekasan. Posisi perempuan relatif lebih tertinggal dibanding laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Demikian juga peran perempuan dalam pembangunan saat ini terkesan dikesampingkan dan dipandang sebelah mata.

Potret Gender Pamekasan
Secara jumlah penduduk Pamekasan hasil proyeksi tahun 2017 sebesar 863.004 jiwa terdiri dari 443.515 jiwa penduduk perempuan (51,39%) dan 419.489 jiwa laki-laki (48,61%) dengan sex ratio 94,58. Berdasarkan angka-angka tersebut secara kuantitas perempuan di Pamekasan lebih banyak dari laki-lakinya. Hampir 70% dari jumlah perempuan merupakan kelompok usia produktif. Struktur sosial yang menempatkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga masih mengakar kuat pada sebagian besar masyarakat Pamekasan. Hal ini terlihat dari tingginya persentase rumah tangga yang dikepalai oleh laki-laki yaitu 76,4%. Namun demikian masih terdapat sekitar 23,52% perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Secara tradisi posisi mereka identik dengan tulang punggung keluarga, kerena sebagian besar KRT perempuan tersebut bekerja.

Secara umum pendidikan laki-laki relatif lebih baik dari perempuan, ini tergambar dari tingkat pendidikan penduduk yang ditamatkan dan angka literasi penduduk. Di Pamekasan masih terdapat 20,87% perempuan usia 5 tahun ke atas yang belum mengenyam pendidikan sama sekali. Sebaliknya, perempuan berumur 5 tahun ke atas yang masih sekolah lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Demikian juga dengan pendidikan yang ditamatkan penduduk perempuan Pamekasan, semakin tinggi jenjang pendidikan, persentasenya semakin rendah. Berdasarkan data hasil Susenas 2017, persentase perempuan berpendidikan SD/sederajat sebesar 63,29%, SLTP/sederajat 17,76%, SLTA/sederajat 15,05%, dan Perguruan Tinggi 3,91% persen. Sementara persentase laki-laki berturut-turut 49,89%, 19,06%, 22,10% dan 8,95%. Kondisi ini berdampak terhadap rendahnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) perempuan terutama pada kelompok usia 16-18 tahun.

Dari sisi tingkat literasi (keaksaraan), semakin tinggi kelompok umur semakin besar perbedaan capaian melek huruf antara laki-laki dan perempuan, terutama pada kelompok usia 45 tahun ke atas. Kebalikan dari melek huruf adalah buta huruf. Secara umum, angka buta huruf perempuan lebih tinggi dibanding angka buta huruf kaum laki-laki, yaitu 18,75% dibanding 9,17%. Hal tersebut menunjukkan secara umum ketertinggalan pendidikan kaum perempuan dibanding laki-laki.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan sebesar 61,08%, lebih rendah dibandingkan TPAK laki-laki yang sudah mencapai 81,97%. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) perempuan sebesar 4,04%, lebih tinggi dibandingkan dengan TPT laki-laki (3,81%). Sebenarnya kemampuan perempuan Pamekasan saat ini sudah mengalami kemajuan. Profesi yang terkesan maskulinpun sudah banyak diisi oleh perempuan, misalnya jabatan di bidang pemerintahan dan jabatan profesional lainnya.

Pada 2017, terdapat sekitar 15,38% perempuan Pamekasan yang menduduki jabatan eselon III ke atas di Pemerintahan Daerah. Begitu juga dengan jabatan kepala desa, sekitar 16,29% sudah dinahkodai kaum perempuan. Namun, yang masih memprihatinkan adalah keterwakilan perempuan di parlemen. Secara umum semua partai politik peserta pemilu telah mengusung perempuan sebagai caleg, sesuai dengan Undang-Undang Pemilu sebanyak 30% dari total calon yang ada. Namun kenyataannya dari jumlah calon tersebut yang terpilih menjadi anggota DPRD di Kabupaten Pamekasan baru sekitar 6,67 persen. Kaum perempuan di Pamekasan hanya diwakili oleh 3 orang saja, padahal jumlah mereka lebih banyak dari laki-lakinya.

Namun yang patut diapresiasi, bahwa caleg perempuan memiliki daya juang dan kapasitas bertarung yang mumpuni di daerah pemilihan masing-masing. Di tengah gempuran suara terbanyak, biaya kampanye yang mahal, perempuan bisa bertahan dan lolos ke parlemen.

Peran perempuan dalam kesehatan sangat vital terutama dalam mendukung kesehatan anak dan keluarga pada umumnya. Perempuan memiliki fungsi penyedia kesehatan (health provider) bagi anggota keluarga, dan sebagai agen sosialisasi nilai-nilai hidup sehat. Salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan penduduk adalah keluhan kesehatan. Persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan menurut jenis kelamin pada tahun 2017 lebih banyak perempuan (28,02%) meskipun untuk laki-laki tidak jauh berbeda (24,06%).

Pengaruh Budaya
Upaya pengembangan potensi penduduk perempuan salah satunya terganjal budaya yang masih membelenggu sebagian masyarakat. Di bidang pendidikan, kesamaan hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan untuk menempuh pendidikan, baik formal maupun informal memang tidak ada perbedaan. Namun, peluang ini tereduksi dengan konstruksi budaya yang menyatakan perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena toh akhirnya ke dapur juga. Permasalahan lain di bidang pendidikan yang dapat dicermati adalah rendahnya kontrol perempuan dalam bidang pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari indikator keputusan untuk melanjutkan sekolah biasanya tidak berada di tangan perempuan tetapi keluarga. Akibatnya, jumlah perempuan pada tingkat pendidikan tinggi dan jurusan-jurusan tertentu sangat terbatas, sehingga perempuan belum dapat menikmati program dan kegiatan pendidikan di semua jenjang.

Dari sisi ketengakerjaan, ketertinggalan perempuan salah satunya disebabkan oleh budaya, bahwa tanggung jawab mencari nafkah pada umumnya merupakan tanggung jawab laki-laki. Secara kultural perempuan memiliki tanggung jawab mengurus rumah tangga. Dalam bidang kesehatan, kualitas perempuan juga menuntut untuk ditingkatkan. Ketergantungan perempuan pada laki-laki untuk pengambilan keputusan yang berdampak pada kesehatan perempuan masih tinggi, seperti penentuan untuk ke dokter, keikutsertaan KB, periksa kehamilan, hingga persalinan, dan lain-lain. Rendahnya kualitas kesehatan perempuan diperparah adanya konstruksi budaya yang menempatkan kualitas kesehatan laki-laki dan suami jauh lebih penting daripada perempuan.

Penutup
Perempuan dalam konteks pembangunan daerah masih dalam kondisi yang belum memuaskan. Kenyataan ini ditunjukkan dengan rendahnya partisipasi, kontrol dan akses perempuan dalam berbagai bidang pembangunan serta sedikitnya perempuan yang memperoleh manfaat dari pambangunan. Oleh karena itu, momentum peringatan “Hari Ibu” tahun ini bisa kita manfaatkan untuk penguatan komitmen dan upaya yang lebih sungguh-sungguh dalam melaksanakan pembangunan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Pamekasan sehingga kualitas hidup perempuan dapat lebih ditingkatkan. Dengan demikian semangat dan cita-cita R.A. Kartini bisa dinikmati oleh perempuan Pamekasan sejalan dengan cita-cita mewujudkan Pamekasan Hebat. Semoga… (PAMEKASAN HEBAT)

Penulis merupakan ASN pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan. Tulisan ini sebagai refleksi peringatan Hari Ibu 22 Desember 2018.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close