Arsip Tag: Literasi Pamekasan

Perpustakaan “Kobhungan”, Pemberdayaan Literasi Membaca Menuju Pamekasan Hebat

Agus Budiyono, M.Pd*

PAMEKASAN HEBAT – Dalam menciptakan generasi emas 2045 bangsa Indonesia perlu melakukan langkah-langkah kongkrit dalam segala bidang, utamanya dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Istilah literasi ramai diperbincangkan orang dalam kaitannya dengan banyak hal, seperti membaca, menulis, komputer, iptek, budaya, politik, teknologi, lingkungan, dll. Hal ini tak lepas dari makna literasi itu sendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring), literasi dapat dimaknai: 1) kemampuan menulis dan membaca; 2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; dan 3) penggunaan huruf untuk mempresentasikan bunyi atau kata. Untuk itu dengan literasi menjadikan tolak ukur keberhasilan suatu bangsa.

Dalam studi Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia (Republika.co.id; 2014). Lebih lanjut Gawati (2016) menyebutkan Kondisi minat baca bangsa Indonesia memang cukup memprihatinkan. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca (Kompas.com).

Sejalan dengan itu data UNESCO menunjukkan tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001 (Republika, 2015), artinya dari 1.000 orang hanya ada 1 orang yang berminat membaca. (Kurniawati; 2016). [Baca Juga: Menguatkan Identitas Pamekasan Sebagai Kota Batik]

Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Indonesia Satria Darma mengatakan, berdasarkan survei banyak lembaga internasional, budaya literasi masyarakat Indonesia kalah jauh dengan negara lain di dunia. Rendahnya kemampuan membaca dan menulis tak lepas dari budaya masyarakat. Data UNESCO menunjukkan tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001 (Republika, 2015), artinya dari 1.000 orang hanya ada 1 orang yang berminat membaca. Sebuah angka yang menunjukkan rendahnya minat baca orang Indonesia.

Dari permasalahan yang ada dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya minat baca mayarakat Indonesia diantarnya adalah masih ada yang kurang mampu untuk membaca, kurangnya kesadaran dari masyarakat sekitar khususnya orangtua, guru, dan tokoh masyarakat tentang begitu pentingnya membaca, dan kurang di biasakannya membaca. [Baca Juga: Tenggelamnya Budaya Literasi di Era Milenial; Renungan Menuju Pamekasan Hebat]

Dokumen kegiatan literasi di kampung

Kabupaten Pamekasan sebagian bagian bangsa Indonesia punya peranan penting dalam proses menuju tahun 2045 sebagai tahun generasi emas. Selain itu, Pamekasan yang menobatkan diri sebagai Kabupaten Pendidikan pada tanggal 24 Desember 2010, sehingga perlu menggalakkan gerakan-gerakan menuju masyarakat literat seperti yang digalakkan belakangan ini. Kurniawati (2016) menggagas sekolah melek literasi melalui “Gelis Batuk” yaitu program peningkatan kemampuan literasi peserta didik melalui Gerakan Literasi Sekolah Baca Tulis Karya.

Selin itu pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam permendikbud tersebut, kegiatan membaca buku non pelajaran merupakan sebuah kegiatan yang perlu dilakukan minimal 15 menit setiap hari. Melalui kegiatan literasi diharapkan kemampuan membaca dan menulis siswa Indonesia meningkat. Kemampuan membaca dan menulis akan meningkat ketika kegiatan membaca dan menulis menjadi budaya dalam lingkungan sekolah. Lebih lanjut Arisma (2012) mengungkapkan bahwa dengan penerapan program jam baca mampu meningkatkan minat dan kemampuan membaca siswa SMP Negeri 01 Puri. [Baca Juga: Mendorong Penguatan Literasi Ala Baddrut Tamam]

Solusi yang pernah ditawarkan dan dilakukan untuk meningkatkan literasi membaca masyarakat Indonesia adalah adanya penerapan program jam baca sekolah, seminar di sekolah tentang pentingnya dan manfaat membaca. Hal itu kurang efektif. bagi masyarakat pedesaan yang masih kental keagamaannya, karena mereka masih kurang memperhatikan pentingnya membaca, kurangnya dukungan dari orang tua dan mereka kurang begitu memperhatikan nasehat dari guru sekolah, beda halnya akan kepatuhan mereka kalau disuruh oleh kiai.

Kabupaten Pamekasan yang juga dikenal dengan Kabupaten Gerbang Salam, masih memegang teguh tinggi tentang keagamaan, utamanya di daerah pedesaan. Pada masyarakat pedesaan yang masih kental keagamaannya biasanya kebiasaan rutinitas yang dilakukan setiap hari dalam belajar agama adalah mereka mengaji sorogan satu per satu kepada kiai atau berkelompok secara bergantian di kobhung (surau) kiai. Bagi santri yang sudah selesai mengaji, mereka mempunyai waktu kosong yang bisa digunakan untuk mengaji sendiri atau bersantai sambil menunggu semua temannya selesai sorogan pada kiai. [Baca Juga: Ketika Yang Muda Membangun Kepemimpinan Tak Berjarak]

Maka dari itu muncul sebuah gagasan berupa program perpustakaan kobhungan untuk meningkatkan literasi membaca khususnya bagi santri pedesaan. Caranya adalah dengan melakukan kerjasama dengan para kiai dan tokoh masyarakat pedesaan untuk merealisasikan gagasan tersebut. Pertama, meletakkan dan menitipkan beberapa buku bacaan di beberapa kobhung yang sudah ada, sehingga santri yang mempunyai waktu kosong setelah sorogan bisa digunakan untuk membaca buku untuk menambah wawasan mereka.

Selain itu perlu adanya motivasi dari kiai kepada santri agar mereka bersemangat dan membiasakan diri untuk membaca. Untuk itu perlu juga dilakukan bimbingan membaca bagi santri yang belum bisa membaca. Bahkan penting untuk meminta kepada kiai agar memberikan waktu khusus dan mewajibkan kepada para santri untuk membaca yaitu pada saat setelah sholat isyak sebelum pulang agar mereka terbiasa akan hal seperti itu.

Selanjutannya, kalau hal itu sudah berjalan maka dilanjutkan dengan kerjasama dengan aparatur desa untuk membangun kobhung yang dijadikan sebagai perpustakaan masyarakat desa agar mereka lebih senang dan punya tempat khusus untuk membaca.

Dalam hal pengadaan buku bacaan yang akan diletakkan di perpustakaan kobhungan yaitu dengan mendirikan posko peduli membaca di berbagai titik seperti, kampus, alun-alun dan tempat ibadah bagi buku yang sudah tidak dipakai, selain itu akan dilakukan keja sama dengan seluruh perpustakaan sekitar, dan bekerja sama dengan kepala desa untuk memberikan alokasi dana pengadaan buku pada perpustakaan kobhungan. (PAMEKASAN HEBAT)

* Penulis adalah dosen dan peneliti Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan

Tenggelamnya Budaya Literasi Mahasiswa di Era Milenial; Renungan Menuju Pamekasan Hebat

Oleh: Moh Hafid
PAMEKASAN HEBAT – Budaya literasi baca-tulis di sebagian kalangan mahasiswa akhir-akhir ini sangat memperihatinkan. Hal tersebut terbukti dengan rendahnya minat baca tulis mereka. Akibatnya, perpustakaan menjadi sepi seakan-akan hanya sebagai gudang buku belaka. Mereka hanya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang jauh dari nilai-nilai kemahasiswaan sebagai agen perubahan. Waktu mereka jauh lebih banyak tersita dengan bersantai ria, ngobrol, ‘ngalor-ngidul‘ tanpa arah dan tujuan, bermain, menonton dan bersenggama asyik bersama internet dan gadget khususnya ponsel cerdas (smartphone).

Berbeda dengan mahasiswa zaman dulu. Minat baca-tulis mereka sangat tinggi sekalipun fasilitas sangat terbatas dan teknologi belum berkembang pesat seperti era sekarang. Mereka dengan semangatnya yang tinggi berbondong-bondong mendatangi perpustaan, mencari informasi, menambah wawasan, menggali pengetahuan dan mengembangkan kepribadian, sehingga nilai-nilai kemahasiswaan tertanam subur dalam kehidupan mereka. puncaknya, tidak disangkal lagi, status mereka sabagai agen perubah sosial betul-betul terlihat dengan jelas. (kompas, edukasi 2009).

Salah satu faktor yang melatar belakangi fenomena diatas adalah banjirnya perkembangan teknologi di era milenial yang ditandai dengan meningkatnya penggunaan dan keakraban komunikasi, media dan teknologi digital yang berpengaruh besar terhadap kehidupan mahasiswa akhir-akhir ini. Budaya literasi baca-tulis mereka tenggelam terbawa arus banjir abad ke-21. Smartphone dan internet yang menjadi kebanggaan dan seakan-akan menjadi kebutuhan pokok mereka telah mencuri perhatian mereka untuk mendekati “perahu keselamatan” yang berupa buku.

Belum lagi, faktor warisan nenek moyang yang menghambakan budaya tutur, dengar dan menonton masih saja tetap memperangkap kehidupan mereka. Betapa banyak waktu yang berlalu sia-sia dalam kehidupan mereka demi untuk mendegarkan sesuatu yang tidak berguna, seperti mendengarkan musik. Berjam-jam mereka ngobrol di kafe atau warung kopi tanpa ingat waktu, begitu juga mereka sepuasnya tanpa merasa lelah berada didepan televisi demi menonton sesuatu yang jauh dari nilai-nilai positif.

Kondisi demikian, menggambarkan bahwa mereka telah terkena gejala penyakit disleksia. Penyakit ini memang aneh ditelinga kita karena jarang didengar. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, “dys” bermakna kesulitan sedangkan “lexis” bermakna bahasa. Istilah ini dipakai sebagai bentuk identifikasi terhadap seseorang yang mengalami gangguan kesehatan dan ketidak-mampuan belajar akibat dari kesulitannya mengerjakan kegiatan literasi, berupa membaca, menulis, menghafal dan menganalisa teks.(Sutedjo, 2013).

Akibatnya, tidak disangsikan lagi kalau Indonesia berdasarkan pemeringkatan terbaru 2016 dari data World’s Most Literate Nationals yang dilaksanakan oleh Central Connecticut State University Amerika Serikat yang dimotori oleh John W. Meller, berada ditingkatan kedua paling bawah dari 61 Negara yang diteliti dalam peringkat literasi (Dr. Ibadullah Malawi Dkk., 2017). indeks minat baca di Indonesia menurut catatan UNESCO pada 2012 baru mencapai 0,001. Artinya, dalam 1000 orang hanya ada satu orang yang berkegiatan membaca. (http: republika.co.id, 11 November 2014).

Selain itu, penerbitan buku di Indonesia yang sangat rendah ketimbang Negara lainnya juga sebagai dampak dari hilangnya identitas masyarakat akademis saat ini. Buku yang terbit tiap tahun baru mencapai angka 5000-10.000 judul buku pertahun. Angka tersebut sangat kecil dibandingkan dengan Malasyia yang mencapai angka 15.000 judul buku pertahun, dan lebih dari 100.000 judul buku di Inggris per tahun (Hudayani, 2013).

Budaya literasi di Perguruan Tinggi
Menyelenggarakan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian yang kemudian dikenal dengan Tridarma merupakan tugas pokok perguruan Tinggi. Sekian banyak kegiatan dan program yang dihelat civitas akademika mulai dari dosen, mahasiswa hingga ke tenaga kependidikan harus mengacu pada Tridarma pendidikan tinggi tersebut guna menciptakan budaya akademik yang puncaknya dapat mewujudkan visi, misi dan tujuan dari perguruan tinggi.

Salah satu tugas perguruan tinggi untuk mewujudkan tujuan dimaksud adalah menjadikan masyarakat kampus sebagai manusia yang progresif, kreatif, efektif, kritis, intelek dan bermoral. Tugas ini memang berat, menuntut perguruan tinggi berupaya sekuat mungkin membangun budaya akademik.
Budaya literasi masyarakat kampus menjadi indikator utama dan pertama terciptanya budaya akademik dilingkungan perguruan tinggi. Karena Tridarma perguruan tinggi dalam pelaksanaanya tidak bisa dilepaskan dari dunia literasi, belum lagi literasi menjadi faktor utama dan pertama dalam sebuah kemajuan hususnya kemajuan perguruan tinggi yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah peradaban yang gemilang.

Menurut Siregar (1996), mahasiswa sebagai bagian dari msyarakat akademis, mempunyai kewajiban membaca. Untuk mengembangkan kebiasaan membaca, lingkungan pendidikan tinggi merupakan tempat yang strategis. Aktivitas rutin sehari-hari masyarakat ilmiah dan akademik seyogyanya diisi dengan kegiatan membaca, karena tugas-tugas mereka menuntut untuk terus melakukan aktivitas membaca. Kegiatan belajar, meneliti, menulis, seminar, dan diskusi menuntut mahasiswa untuk selalu membaca dan memperoleh pengetahuan dan informasi yang relevan da mutakhir agar mutu hasil belajarnya terus meningkat.

Selain itu,fungsi sosial yaitu untuk memperoleh kualifikasi tertentu yang disebut dengan achievement reading juga membutuhkan kegiatan membaca juga. Puncaknya kegiatan belajar dan membaca sejumlah bahan bacaan terutama yang direkomendasikan oleh dosennya dapat mengantarkan mahasiswa menjadi lulusan terbaik.

Menulispun juga merupakan serangkaian kegiatan mahasiswa yang tidak boleh dipisahkan dengan kegiatan membaca. Ia merupakan satu kesatuan bagaikan dua sisi mata uang, karena membaca dapat menggerakkan tangan-tangan mereka untuk menuliskan kata-kata yang telah terproduksi dalam daya nalarnya melalui pengetahuan yang didapat pada saat membaca. Kebebasan kongnitif mahasiswa dalam merekayasa apa yang dirasakan dengan bebas tanpa paksaan dari siapapundapat disalurkan melalui tulisan, dalam dunia kampus untuk mengembangkan suatu tulisan ilmiah yang bermanfaat bagi orang banyak.

Perguruan Tinggi tak perlu susah-susah mencari dana atau menekan agar kampusnya berada dalam peringkat atas kampus unggulan,karena hal itu bisa didapat dengan mengembangkan dunia literasi. Dengan literasilah semua itu akan otomatis bergerak, karena itulah kisi-kisi kampus berstandar dunia.
Namun dalam fenomenanya, kegiatan membaca di kalangan mahasiswa saat ini menjadi suatu hal yang sangat mahal untuk dijumpai. Meskipun telah banyak fasilitas yang dapat digunakan oleh kaum akademisi tersebut sebagai salah satu penunjang dari kegiatan-kegiatannya yang berhubungan dengan statusnya sebagai calon insan intelektual.

Geliat kegiatan mahasiswa di perpustakaan menjadi suatu fenomena yang langka. Forum-forum diskusi pun sangat sulit ditemukan di kalangan mahasiswa. Betapa banyak mahasiswa melupakan tradisi intelektual seperti membaca, menulis, diskusi dan riset, yang berbagai tradisi tersebut sebenarnya dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan mereka. Seakan-akan mereka merasa cukup dengan menjadikan dosen sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

Partisipasi mahasiswa di kelas saat mengikuti kuliah juga menjadi bukti mahalnya budaya literasi dikalangan mereka.Betapa tidak, mengingat mereka sangat sulit untuk menyampaikan permasalahan dengan bertanya terkait sajian materi yang telah disampaikan oleh dosen pengampu. Sikap mereka tidak lebih dari sekedar diam dan menenerima informasi yang tertuang dalam perkuliahan.Mereka bungkam tidak bisa mengkritisi pendapat dan ide yang disampaikan dosen. Inilah akibat dari kurangnya membaca, menyampaikan pertanyaan saja mereka bingaun apalagi mau mengkritisi. Padahal kemampuan untuk bertanya dan kualitas pertanyaan sebenarnya dapat ditelusuri dari hasil bacaan mereka. Bagaimana mereka bisa mampu bertanya dan memberikan pertanyaan yang berkualitas sedangkan mereka tidak mempersiapkan materi yang akan disampaikan dosen dengan membaca sebelum perkuliahan berlangsung.

Spirit literasi dalam Al-Qur’an
Ali Romadhani, MA.( 2015) menyampaikan bahwa spirit dan motivasi Al-Qur’an terhadap budaya literasi baca-tulis dapat disingkap dalam beberapa hal berikut:

Pertama, perintah membaca dan menulis, yang tertuang dalam surah al-Alaq/96 ayat 1-5. Ayat ini menginginkan revolusi besar-besaran dari suatu masyarakat yang jauh dari tradisi baca tulis, dari suatu bangsa yang sangat rendah menjadi bangsa yang paling mulia. Karena jika tidak ada tulisan tentu pengetahuan tidak akan terekam agama akan sirna dan bangsa belakangan tidak akan pernah mengenal sejarah peradaban umat sebelumnya.

Kedua, filosofi iqra’. Wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. adalah perintah membaca. Hal ini mengindikasikan begitu pentingnya perihal membaca sehingga NabiMuhammad SAW diharuskan membaca yang berarti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui dan lain sebagainya. Hal ini, tidak lain kecuali bahwa salah stu tugas manusia dalam kehidupan adalah membaca hingga menjadi sebuah kebiasaan dan kbutuhan.

Ketiga, perintah mencari ilmu pengetahuan dan inspirasi tradisi manajemen, perintah mencari ilmu pengetahuan selain dari surah al-Alaq diatas dapat ditemukan dalam subtansi yat 31 Al-Baqarah, 179 Al-A’raf, ayat 9 Al-Nisa’, ayat 2 Al-Jumu’ah, ayat 11 Al-Mujadalah, ayat 43 Al-Nahl, dan ayat ke-9 al-Zumar. Subtansi dari kesemua ayat ini memerintahkan umat manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan merupakan syarat utama diraihnya suatu hal, mengetahui dirinya, apa yang mesti dilakukan dan kemana mesti melangkah. Ilmu pengetahuan dan tulis menulis merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan. Perintah untuk mencari ilmu pengetahuan juga menjadi perintah utuk mengembangkan budaya tulis menulis, karena tulisan adalah sarana bagi pencarian ilmu pengetahuan dan tulisanlah yang menjadi pelantara ilmu pengetahuan untuk selalu dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya. Sementara ayat yang berbicara terkait tradisi manajemin dapat disingkap dalam ayat ke-282 QS. Al-Baqarah dan ayat ke-33 QS. Al-Nur, yang mana hal ini mengarah kepada fungsionalitas tulisan sebagai bukti otentik yang efektif dalam perdagangan demi melindungi hak-hak secara benar.

Keempat, disamping terdapat perintah membaca dan menulis serta perintah mencari ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an juga menyebut seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis, seperti, kata midad (tinta), qalam (pena), qirthas (kertas), lauh (batu tulis), raqq (lembaran) dan shuhuf (helai kertas). Puncaknya, Al-Qur’an hanya ingin menekankan terhadap budaya baca tulis agar betul-betul terbumikan hususnya dalam masyarakat kampus yang dihuni oleh orang-orang cerdas, akademis, agen perubah dan para ilmuwan-ilmuwan.

Peran perguruan tinggi dalam meningkatkan budaya literasi mahasiswa Fenomena diatas merupakan sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar bagi kalangan perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak boleh berdiam diri hanya sekedar menjadi penonton apalagi bersikap acuh. Upaya-upaya apapun harus dilakukan demi meyelamatkan mereka dan terciptanya budaya akademik, khususnya budaya literasi.

Sehingga selain dapat menciptakan lulusan berkualitas yang memiliki pengetahuan, kreatif, inovatif, dan kritis, juga akan dihasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.

Kesungguhan serta keseriusan yang betul-betul nyata perlu menjadi modal utama dalam mengelola perguruan tinggi terlebih dalam menghadapi kenyataan diatas. Karena sesungguhnya problem yang dihadapi ini sangat prinsipil, erat kaitannya dengan keberlangsungan hidupnya. Betapa tidak, terbukti bahwa semua aktivitas yang terdapat dalam perguruan tinggi terikat erat dengan kegiatan membaca dan menulis, hususnya kegiatan tranformasi ilmu yang menjadi starting poin perguruan tinggi.

Kesungguhan serta keseriusan dalam mengelola perguruan tinggi dapat dilihat melalui aturan, kode etik serta kedisiplinan. Perguruan tinggi yang bersungguh-sungguh serta serius, tentunya tidak hanya membuat aturan tapi juga menegakkan dan tegas memberikan sangsi bagi para pelanggar. Perguruan tinggi harus tampil penuh dengan tekanan kepada seluruh satuan kerja, dosen dan mahsiswa. Tekanan dimaksud berupa aturan yang ketat dan sangsi yang hebat. Karena sejatinya manusia secara hukum alam sangat butuh tekanan untuk bisa bertahan hidup dan melangkah pada kehidupan yang lebih baik.

Sadar atau tidak selama ini banyak perguruan tinggi khusunya perguruan tinggi suwasta yang kurang begitu memperhatikan point ini. Ia hanya sekedar berjalan memenuhi tuntutan aturan pemerintah sedang kulitasnya tidak pernah terpikirkan menjadi sebuah prioritas utama. Dosen hanya memberikan wejangan materi terhadap mahasiswanya, sebagai bentuk pemenuhan kewajiban. Begitupun mahasiswa, mereka hanya sekadar datang, masuk, mendengarkan, mengerjakan tugas dan pulang sebagai bentuk pemenuhan kehadiran belaka, sehingga maklumlah angka pengangguran dari kaum sarjana semakin menunjukkan ketinggiannya. Bagaimana bisa membudayakan literasi baca-tulis dalam lingkunganya sedangkan ia tak pernah memperhatikan caranya. Lingkungannya dibiarkan terkontaminasi dengan serangkaian kegiatan yang berujung stagnan, berjalan ditempat serta antara hidup dan mati. Ia lebih memasrahkan pada diri personal masing-masing. Kesadaran tidak pernah dipancing dengan aturan-aturan yang ketat, tekanan yang kuat dan sangsi yang hebat. Puncaknya hingga qiyamatpun budaya literasi baca tulis tidak pernah tumbuh berkembang apalagi menginginkan peradaban yang maju.

Berangkat dari premis dan kondisi demikian penulis ingin mengajukan beberapa solusi untuk menumbuhkan minat baca-tulis masyarakat kampus hususnya mahasiswa yang pada akhirnya akan menciptakan budaya literasi baca-tulis dikalangan mereka, sehinga dengan sendiri peradaban kampus menjadi maju dan pendidikannya menjadi berkualitas. Solusi tersebut bisa dilihat dalam beberapa poin berikut:

Pertama, adanya kesungguhan dan keseriusan dalam mengelola perguruan tinggi untuk mewujudkan tridarma perguruan tinggi yang kesemunya terbungkus dengan budaya literasi. Kedua, adanya aturan dan tekanan yang ketat dari perguruan tinggi hususnya bagi dosen dan mahasiswa dalam menjalankan tugasnya yang mengarah pada aktifitas membaca dan menulis. Ketiga, adanya sangsi yang menakutkan bagi para pelanggar aturan dan sangsi diarahkan pada aktifitas membaca dan menulis. Keempat, kurikulum yang disiapkan harus betul-betul mengarah pada aktifitas membaca dan menulis. Kelima, memberikan kewajiban lain berupa, kewajiban membaca buku, datang keperpustakan, kewajiban menulis artikel dan kewajiban lainnya selain hadir ke kelas serta mengerjakan tugas makalah, sebagai syarat naik pangkat baik dosen dan bisa mengajukan proposal penelitian skripsi bagi mahasiswa. Keenam, perguruan tinggi harus banyak mengadakan perlombaan kepenulisan dan juga memberikan reward bagi pemenang dan para pembaca buku terbanyak. Terakhir, adanya peningkatan fasilitas kampus untuk menumbuhkan minat baca-tulis.

Kesimpulannya, mengerucut pada salah satu adagium Arab yang menyatakan bahwa “barang siapa yang bersungguh-sungguh niscaya ia akan mendapatkannya”. Jadi kesungguhan dan keseriusan betul-betul menjadi syarat mutlaq terwujudnya budaya literasi kampus hususnya literasi mahasiswa. Karena sebanyak apapun aturannya, dan sebesar apapun tekanannya jika kurang diseriusi maka ia tidak akan membuahkan apapun. Wallahu a’lam. (PAMEKASAN HEBAT)

*Penulis Universitas Al-Ahgaff Yaman, asal Desa Akkor, Kecamatan Palengaan Pamekasan, Jawa Timur dan hingga saat ini aktif sebagai tenaga pendidik di salah satu pesantren di Madura. Penulis kini juga tercatat sebagai mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Sunan Giri Surabaya.

Mendorong Penguatan Literasi Ala Baddrut Tamam

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi narasumber di kampus Universitas Madura (Unira) Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Komunikasi pada dasarnya tidak hanya soal penyampaian informasi akan tetapi lebih penting dari itu adalah berbagi kesepahaman dengan tujuan mempersuasi (to persuade). Media massa tidak hanya sebagai teman bicara (interlocutor), dan tempat berlalu lalangnya informasi, akan tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.

Pemikiran ahli media massa Marshal McLuhan ini yang nampaknya menjadi inspirasi bagi Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, untuk menguatkan literasi di kalangan pemuda, dan mahasiswa di Kabupaten Pamekasan. Sehingga, bupati menyatakan, akan memberikan honor bagi para pemuda dan mahasiswa yang suka menulis baik artikel ilmiah ataupun karya tulis yang dimuat di media massa.

Melalui program tersebut, Baddrut berharap kelak muncul para penulis-penulis handal di kabupaten dengan slogan “Gerbang Salam” ini. “Saya ini pernah hidup dari menulis. Saya ingin menciptakan atmosfir intelektual bagi para pemuda dan mahasiswa. Nanti akan kami verifikasi dan yang bagus akan diberi honor oleh Pemkab Pamekasan,” ujarnya bupati muda ini, seperti dilansir bangsaonline.com, Jumat (16/11/2018).

Kebijakan mendorong pemuda dan mahasiswa melek literasi ini sangat beralasan, mengingat, pada peran media sebagai interlocutor, komunikasi yang dibangun tidak bersifat top down semata, yakni dari pemerintah kepada publik saja, akan tetapi juga bersifat button up, yang menjadi model ideal dalam hal merumuskan kebijakan publik. Dan ini, sesuai dengan cita ideal yang diinginkan Bupati Baddrut Tamam dan wakilnya Raja’e, yakni membangun tata kelola pemerintah yang baik, bersih, dan bermartabat, berlandaskan nilai-nilai moral Islam yang mengharuskan penganutnya berbaik sangka (husnus dzan).

Baddrut Tamam, nampaknya menyadari, bahwa fungsi media dalam perkembangannya tidak saja menjadi kepanjangan tangan manusia, akan tetapi juga menyimpan kekuatan untuk mengubah prilaku manusia. Disisi lain, kebijakan memberikan honor kepada pemuda dan mahasiswa yang produktif menulis karya ilmiyah, seperti opini dan artikel di media massa ini, sebagai bentuk komitmen bupati dan cara efektif dalam mengarahkan mereka yang memiliki pemikiran bagus dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi di era revolusi industri 4.0 ini.

Memulai dengan Contoh

Contoh karya ilmiah Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang diterbitkan di halaman opini Koran Harian Jawa Pos pada 22 Oktober 2018.

Ajakan “melek literasi” Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, bukan sebatas ajakan belaka, akan tetapi ia memberikan contoh secara langsung kepada generasi muda dan mahasiswa di Pamekasan. Ini dibuktikan dengan hasil karya ilmiah berupa buku dan tulisan opini di media massa.

Setidaknya sudah ada dua karya ilmiah hasil karya Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang dipublikasi, yakni berupa buka dan artikel. Buku berjudul “Pesantren, Nalar dan Tradisi, Geliat Santri Menghadapi ISIS, Terorisme dan Transnasionalisme Islam” dengan pengantar KH A Mustofa Bisri ini, diterbitkan oleh Pustaka Pelajar pada Juli 2015. Buku setebal 162 halaman dengan ISBN: 978-602-229-490-0 ini membahas seputar peran pesantren dulu, dan di era global saat ini. Kajian filsafat hermeneutika, sebagai upaya membuka ruang inklusif dan mengarahkan pembaca buku agar memahami perbedaan berfikir berdasarkan cara pengambilan keputusan, bahkan dibahas secara khusus dalam buku ini.

Gagasan untuk memberikan pendidikan pemikiran yang luas, dilakukan penulis buku, yakni Baddrut Tamam dalam buku itu, dengan tetap mengarahkan pembaca untuk menghargai tradisi lama bernilai bagus dan mengadopsi pemikiran, keilmuan dan tradisi baru lebih baik, sebagimana menjadi prinsip ahlussunnah wal-hamaah.

Karya ilmiah berupa opini yang ditulis langsung oleh Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018. Artikel berjudul “Refleksi Hari Santri Nasional, Reposisi Pesantren dalam Sejarah” diterbitkan Koran Harian Jawa Pos.

Pada tulisan itu, Bupati Baddrut Tamam, mengupas tentang peran santri dan pesantren dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, melalui resolusi jihad yang telah dicetuskan KH Hasyim Asy’ari kala itu.

Melalui ajakan meningkatkan hasil karya ilmiah kepada pemuda dan mahasiswa Pamekasan ini, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi perhatian sang bupati muda ini. Pertama, tradisi literasi di sebagian pemuda dan mahasiswa di Pamekasan memang lebih, sehingga perlu didorong untuk meningkatkan literasi.

Kedua, bupati mungkin saja memanggap, bahwa penyampaian aspirasi dalam bentuk karya ilmiah, lebih berkualitas, berkelas dan menunjukkan kesan ilmiah, apalagi dalam konteks Islam tradisi literasi (iqra) dan pembukuan para pemikir dan ilmuan Islam dalam sejaharnya memang menjadi pitu gerbang kemajuan Islam. Dengan cara ini, Baddrut sebenarnya ingin menunjukkan perhargaan yang tinggi kepada ilmuan, meskipun menyampaikan aspirasi di jalanan berupa demo tentu bukan hal yang dilarang.

Ketiga, ajakan bagi pemuda dan mahasiswa untuk meningkatkan karya ilmiah dan memberi honor kepada mereka, tentunya dengan kriteria media tertentu yang memang kridible, mainstream yang dimulai dari dirinya sendiri dengan memberikan contoh karya ilmiah dalam bentuk buku dan artikel/opini, menunjukkan yang bersangkutan sebagai pemimpin teladan, yakni memerintah dengan keteladanan. (REDAKTUR PAMEKASAN HEBAT)