WUB, Desa Tematik, dan Sambang Desa Mas Tamam (1)

PAMEKASAN HEBAT – “Desaku Makmur, Pamekasan Hebat” merupakan tema yang diangkat Pemerintah Kabupaten Pamekasan di Tahun 2021 ini sebagai upaya mendorong kemajuan dan kemakmuran desa, serta mendorong para penyelenggara pemerintahan di tingkat desa dalam menggali potensi desa, melalui program desa tematik yang dicanangkan Pemkab Pamekasan.

‘Desa Tematik’ maksudnya, masing-masing harus memiliki ‘tema’ yang hendak dijadikan program unggulan berdasarkan potensi yang ada di desa itu. Katakanlah ‘desa pertanian’ bagi desa yang memiliki ekonomi dominan di bidang pertanian, atau ‘desa perikanan’ bagi desa yang memiliki potensi dominan di bidang perikanan atau desa pariwisata bagi desa yang memiliki potensi dominan di bidang pariwisata, dan lain sebagainya.

Tujuannya jelas. Selain agar bisa fokus pada jenis potensi tertentu yang hendak dikembangkan, juga agar upaya pengembangan dan program pembangunan lebih terarah, sesuai dengan fokus pembangunan yang telah ditetapkan oleh masing-masing.

Bantuan dari pemerintah juga akan lebih terarah, tepat sasaran, dan tepat guna. Melalui program desa tematik ini, maka antara satu desa dengan desa lainnya juga bisa saling menunjang. Jika di satu desa tertentu memiliki potensi dominan di bidang perikanan, dan desa tertentu lainnya bidang pertanian, maka kebutuhan di dua desa dengan potensi yang berbeda ini akan saling menopang.

Arah kebijakan pemerintah kabupaten dalam mendukung kemajuan ekonomi desa melalui potensi yang dikembangkan, juga tentu akan disesuaikan dengan kebutuhan pada fokus program desa masing-masing. Tidak mungkin subsidi pupuk akan diperuntukkan bagi desa yang fokus pada pengembangan perikanan, dan demikian juga sebaliknya. Dasar inilah yang menjadi pertimbangan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam meluncurkan program desa tematik.

Dalam berbagai kesempatan, Bupati Baddrut Tamam menjelaskan, program desa tematik ini, sebenarnya merupakan antitesis dari program ‘One Village on Product (Ovop)“, yakni program yang dikembangkan
oleh Prof Morihiko Hiramatsu yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Oita, Jepang pada 1980. Dalam perkembangannya, konsep ini berkembang atau diduplikat oleh negara-negara ASEAN, Asia Selatan, Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Selatan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Ovop terus dikembangkan hampir seluruh negara di dunia, dan produk-produknya mendapat respon cukup besar dari para pembeli di setiap negara. Konsep Ovop mengutamakan produk unik yang terdapat pada daerah, bahkan produk tersebut menjadi ikon atau lambang daerah tersebut, karena menyangkut kultur budaya, lingkungan, bahan baku, pengerjaan, dan proses produksinya.

Jadi produk Ovop adalah produk suatu daerah dengan keunikan yang tidak dimiliki daerah lain. Karena keunikannya dan proses produksinya yang langka, sehingga akan memberikan nilai tambah produk tersebut. Selanjutnya daerah Ovop menjadi menarik, dan bisa dijadikan tujuan wisata bagi turis asing. Tentu ini menjadi peluang bisnis baru, yang juga akan memberikan kontribusi bagi daerah tersebut.

Di Indonesia, Ovop umumnya UKM yang konsisten menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan terus mendapat bimbingan serta aneka bantuan dari pemerintah. Hal ini berkaitan demgan produk yang dihasilkan mewakili identitas daerah bahkan negara. Dimana produk-produknya mencerminkan keunikan suatu daerah atau desa.

Dengan keunggulan yang dimiliki, maka produk tersebut dapat meningkatkan pendaptan bagi daerahnya, melaluji kunjungan turis, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan ketrampilan SDM.

Ditjend Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian belum lama ini mencapat, di Indonesia terdapat sekitar 74.000 desa yang memiliki keunikan atau ciri khas, dimana mayoritas atau sekitar 65 persen penduduknya masih tergolong miskin, berpendapatan rendah, dan mayoritas desa-desa tersebut eksis disektor pertanian atau agrikultur.

Bagi Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, data ini bukan sekadar data pajangan, akau kisah sukses pemeritah dalam mengembangkan konsep Ovop, akan tetapi menjadi pijakan dalam mengembangkan konsep kesejahteraan masyarakat yang berbasis pada potensi ekonomi masyarakat desa. Maka ditetapkanlah program “desa tematik” sebagai salah satu program unggulan Pamekasan dalam mengembangkan ekonomi yang merata dan berbasis pedesaan.

Bedanya dengan konsep Ovop, pada konsep desa tematik lebih menekankan pada upaya pemetaan potensi, lalu diorganisir menjadi sebuah kegiatan berbasis ekonomi, sebelum akhirnya bisa membuat produk. Pada desa tematik, titik tekan diperioritaskan pada menggali potensi, sehingga desa tetap menjadi pusat pertumbuhan, dengan mendayagunakan dan mengutamakan potensi sumber daya alam yang ada di desa itu.

WUB Sebagai Pendukung

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam swafoto di lahan sawah warga di Desa Bajang, Kecamatan Pakong saat melakukan “Sambang Desa” bersama pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan, Senin (1/3/2021). Desa Bajang merupakan salah satu desa yang mengembangkan wisata pertanian di antara 178 desa yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan.

Konsep pengembangan ekonomi berbasis desa melalui program “desa tematik” yang dicanangkan kepemimpinan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, tentu bukan sekadar konsep tanpa program pendukung yang jelas.

Upaya memajukan ekonomi yang merata dan berkeadilan bagi semua kalangan, tentu tidak akan terealisasi dengan baik, dan hanya akan menjadi gagasan yang tak membumi tanpa upaya sistemik, terencana dan terukur. Maka, guna mewujudkan program ini, “Mas Tamam”, dekimian sapaan akrab bupati muda ini, diluncurkan program pendukung, yakni pembentukan wirausaha baru (WUB) dengan target minimal 10 ribu orang.

Warga yang berminat mengembangkan usaha mandiri, bisa bergabung mengikuti program ini, dan akan diberi pelatihan sesuai dengan keinginan jenis usaha yang hendak dikembangkan. Konsep implementatif melalui teori dan praktik langsung yang diterapkan pada program WUB, menjadi sisi yang menarik, apalagi, pola pembinaan bukan hanya saat pelatihan, akan tetapi juga pascapelatihan hingga para peserta program bisa mandiri dalam menjalankan usahanya.

Remaja dan pemuda desa merupakan sasaran utama, disamping masyarakat yang memang memiliki keinginan kuat untuk maju dan berusaha secara mandiri.

Pada tahun 2020 sebanyak 1.690 warga dari 178 desa dan 11 kelurahan yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan telah mengikuti program pelatihan ini. Sementara pada 2021, pemkab melalui Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja telah menetapkan anggaran sebesar Rp5,2 miliar untuk 1.600 orang yang dibagi 27 jenis dengan 80 paket pelatihan. (Bersambung ke-2)

Baca Juga Artikel Lainnya tentang Pamekasan:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s