Seniman Pamekasan Terima Undangan Pentas di Jerman

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menerima buku hasil karya seniman Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Seniman Pamekasan pada tahun 2019 ini menerima undangan untuk pentas di Jerman dan beberapa negara ASEAN, kata Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menyampaikan sambutan dalam acara Koloman Budaya di Pendopo Ronggosukowati, Jumat (11/1/2019) malam.

“Undangan ke Jerman ini sudah kami terima beberapa hari lalu, dan ada beberapa jenis kegiatan yang rencananya akan menampilkan kesenian kita ini,” kata Baddrut Tamam.

Undangan dari Jerman itu disampaikan melalui Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Intinya seniman Pamekasan diminta untuk mementaskan seni budaya tradisional Madura di negara itu.

Selain Jerman, undangan pentas seni budaya tradisional Madura juga disampaikan sejumlah negara ASEAN. Salah satunya Vietnam. [Baca Juga: Baddrut Tamam Nyatakan Kesenian Tak Bertentangan dengan Islam]

Bupati menjelaskan, dirinya telah menyampaikan kepada komunitas seni dan budaya di Kabupaten Pamekasan tentang undangan pentas seni dan budaya tradisonal Madura di luar negeri itu pada acara Kolom Budaya yang digelar di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, Jumat (11/1) malam.

“Kami juga telah meminta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Dewan Kesenian untuk mempersiapkan pementasan di luar negeri itu,” ujar Baddrut.

Ia menjelaskan Jerman dan sejumlah negara ASEAN tertarik mengundang seniman dan budayawan Pamekasan karena seni dan budaya tradisional Pamekasan memang telah dikenal lama.

Apalagi, Pamekasan memang menjadi sasaran Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI), yakni program pertukaran pelajar untuk mempelajari seni dan budaya tradisional.

“Jadi, kesenian dan kebudayaan tradisonal kita sebenarnya sangat dikagumi oleh negara luar sehingga mereka mau mengundang kita untuk pentas di sana,” kata bupati. [Baca Juga: Demonstrasi Tanpa Spasi]

Sejumlah kesenian tradisional yang mulai dikenal masyarakat internasional antara lain musik tradisional daul, tari topeng getha’, tari rondhing, karapan sapi dan kontes kecantikan sapi (sapi sono).

Musik tradisional daul adalah musik jalanan yang awalnya dimainkan oleh warga Madura untuk melakukan patroli dan menjaga keamanan lingkungan. Jenis musik ini mulai populer saat Madura mengalami pemadaman aliran listrik dalam waktu yang cukup lama pada sekitar tahun 1990-an. [Baca Juga: Penghargaan Sebagai Penerima HAM Harus Jadi Pemacu Lebih Baik]

Tari Topeng Getha’ adalah jenis seni tari dengan iringan musik saronen dan penarinya menggunakan topeng. Tari Rondhing adalah jenis seni tari yang mengisahkan perjuangan rakyat Madura dalam mengusir penjajah dari Bumi Madura.

Sedangkan karapan sapi merupakan kontes pacuan, atau adu cepat lari pasangan sapi. Karapan Sapi biasa digelar rakyat Madura, pascamusim panen tembakau.

Kontes kecantikan sapi adalah festival adu cantik pasangan sapi, dan seni tradisonal jenis ini, berasal dari Kabupaten Pamekasan.

“Jadi, kita ini sebenarnya kaya akan seni dan budaya tradisional dan kesenian yang kita miliki justru dikagumi oleh masyarakat luar negeri. Makanya, kita harus bangga dengan warisan seni budaya peninggalan para leluhur kita dengan cara melestarikannya,” ujar Bupati Pamekasan Baddrut Tamam. (PAMEKASAN HEBAT)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close