Semua tulisan dari MADURAKU.COM

Pusat Informasi di Pulau Madura

Menakar Peran Perempuan Pamekasan Dalam Kesetaraan Gender

Oleh: Erfan Iswantoro
Ditakdirkan kalau pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja…
wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu…
namun ada kala pria tak berdaya, tekuk lutut di sudut kerling wanita…

Lagu lawas berjudul “sabda alam” yang pernah dipopulerkan oleh Iin Parlina dan Bimbo ini tentu tidak asing di telinga kita. Sebait lagu di atas salah satunya menggambarkan posisi perempuan yang kurang menguntungkan, walaupun sebenarnya kaum hawa ini punya potensi kekuatan besar. Sepanjang perjalanan sejarah, perempuan memiliki peranan dan kedudukan sangat penting. Kiprah perempuan di panggung sejarah tidak diragukan lagi. Pada tahun 1879 telah lahir seorang pejuang perempuan, yaitu R.A. Kartini. Beliau adalah pelopor dan pendahulu perjuangan untuk pendidikan dan persamaan hak perempuan. Puncaknya dengan diadakannya “Kongres Perempuan” pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Tonggak sejarah inilah yang kemudian kita peringati sebagai “hari ibu” di setiap tanggal 22 Desember.

Dalam perspektif pembangunan yang bernuansa gender, perempuan dan laki-laki harus selalu mendapat akses yang sama dalam pembangunan, dapat berpartisipasi dan bersama-sama mempunyai kesempatan dalam pengambilan keputusan dan akhirnya dapat menikmati keuntungan dari pembangunan tersebut secara bersama-sama pula. Salah satu agenda dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) diantaranya juga disebutkan untuk meraih kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan. Namun kenyataan menunjukkan masih banyak permasalahan yang dihadapi kaum perempuan, termasuk di Pamekasan. Posisi perempuan relatif lebih tertinggal dibanding laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Demikian juga peran perempuan dalam pembangunan saat ini terkesan dikesampingkan dan dipandang sebelah mata.

Potret Gender Pamekasan
Secara jumlah penduduk Pamekasan hasil proyeksi tahun 2017 sebesar 863.004 jiwa terdiri dari 443.515 jiwa penduduk perempuan (51,39%) dan 419.489 jiwa laki-laki (48,61%) dengan sex ratio 94,58. Berdasarkan angka-angka tersebut secara kuantitas perempuan di Pamekasan lebih banyak dari laki-lakinya. Hampir 70% dari jumlah perempuan merupakan kelompok usia produktif. Struktur sosial yang menempatkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga masih mengakar kuat pada sebagian besar masyarakat Pamekasan. Hal ini terlihat dari tingginya persentase rumah tangga yang dikepalai oleh laki-laki yaitu 76,4%. Namun demikian masih terdapat sekitar 23,52% perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Secara tradisi posisi mereka identik dengan tulang punggung keluarga, kerena sebagian besar KRT perempuan tersebut bekerja.

Secara umum pendidikan laki-laki relatif lebih baik dari perempuan, ini tergambar dari tingkat pendidikan penduduk yang ditamatkan dan angka literasi penduduk. Di Pamekasan masih terdapat 20,87% perempuan usia 5 tahun ke atas yang belum mengenyam pendidikan sama sekali. Sebaliknya, perempuan berumur 5 tahun ke atas yang masih sekolah lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Demikian juga dengan pendidikan yang ditamatkan penduduk perempuan Pamekasan, semakin tinggi jenjang pendidikan, persentasenya semakin rendah. Berdasarkan data hasil Susenas 2017, persentase perempuan berpendidikan SD/sederajat sebesar 63,29%, SLTP/sederajat 17,76%, SLTA/sederajat 15,05%, dan Perguruan Tinggi 3,91% persen. Sementara persentase laki-laki berturut-turut 49,89%, 19,06%, 22,10% dan 8,95%. Kondisi ini berdampak terhadap rendahnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) perempuan terutama pada kelompok usia 16-18 tahun.

Dari sisi tingkat literasi (keaksaraan), semakin tinggi kelompok umur semakin besar perbedaan capaian melek huruf antara laki-laki dan perempuan, terutama pada kelompok usia 45 tahun ke atas. Kebalikan dari melek huruf adalah buta huruf. Secara umum, angka buta huruf perempuan lebih tinggi dibanding angka buta huruf kaum laki-laki, yaitu 18,75% dibanding 9,17%. Hal tersebut menunjukkan secara umum ketertinggalan pendidikan kaum perempuan dibanding laki-laki.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan sebesar 61,08%, lebih rendah dibandingkan TPAK laki-laki yang sudah mencapai 81,97%. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) perempuan sebesar 4,04%, lebih tinggi dibandingkan dengan TPT laki-laki (3,81%). Sebenarnya kemampuan perempuan Pamekasan saat ini sudah mengalami kemajuan. Profesi yang terkesan maskulinpun sudah banyak diisi oleh perempuan, misalnya jabatan di bidang pemerintahan dan jabatan profesional lainnya.

Pada 2017, terdapat sekitar 15,38% perempuan Pamekasan yang menduduki jabatan eselon III ke atas di Pemerintahan Daerah. Begitu juga dengan jabatan kepala desa, sekitar 16,29% sudah dinahkodai kaum perempuan. Namun, yang masih memprihatinkan adalah keterwakilan perempuan di parlemen. Secara umum semua partai politik peserta pemilu telah mengusung perempuan sebagai caleg, sesuai dengan Undang-Undang Pemilu sebanyak 30% dari total calon yang ada. Namun kenyataannya dari jumlah calon tersebut yang terpilih menjadi anggota DPRD di Kabupaten Pamekasan baru sekitar 6,67 persen. Kaum perempuan di Pamekasan hanya diwakili oleh 3 orang saja, padahal jumlah mereka lebih banyak dari laki-lakinya.

Namun yang patut diapresiasi, bahwa caleg perempuan memiliki daya juang dan kapasitas bertarung yang mumpuni di daerah pemilihan masing-masing. Di tengah gempuran suara terbanyak, biaya kampanye yang mahal, perempuan bisa bertahan dan lolos ke parlemen.

Peran perempuan dalam kesehatan sangat vital terutama dalam mendukung kesehatan anak dan keluarga pada umumnya. Perempuan memiliki fungsi penyedia kesehatan (health provider) bagi anggota keluarga, dan sebagai agen sosialisasi nilai-nilai hidup sehat. Salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan penduduk adalah keluhan kesehatan. Persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan menurut jenis kelamin pada tahun 2017 lebih banyak perempuan (28,02%) meskipun untuk laki-laki tidak jauh berbeda (24,06%).

Pengaruh Budaya
Upaya pengembangan potensi penduduk perempuan salah satunya terganjal budaya yang masih membelenggu sebagian masyarakat. Di bidang pendidikan, kesamaan hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan untuk menempuh pendidikan, baik formal maupun informal memang tidak ada perbedaan. Namun, peluang ini tereduksi dengan konstruksi budaya yang menyatakan perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena toh akhirnya ke dapur juga. Permasalahan lain di bidang pendidikan yang dapat dicermati adalah rendahnya kontrol perempuan dalam bidang pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari indikator keputusan untuk melanjutkan sekolah biasanya tidak berada di tangan perempuan tetapi keluarga. Akibatnya, jumlah perempuan pada tingkat pendidikan tinggi dan jurusan-jurusan tertentu sangat terbatas, sehingga perempuan belum dapat menikmati program dan kegiatan pendidikan di semua jenjang.

Dari sisi ketengakerjaan, ketertinggalan perempuan salah satunya disebabkan oleh budaya, bahwa tanggung jawab mencari nafkah pada umumnya merupakan tanggung jawab laki-laki. Secara kultural perempuan memiliki tanggung jawab mengurus rumah tangga. Dalam bidang kesehatan, kualitas perempuan juga menuntut untuk ditingkatkan. Ketergantungan perempuan pada laki-laki untuk pengambilan keputusan yang berdampak pada kesehatan perempuan masih tinggi, seperti penentuan untuk ke dokter, keikutsertaan KB, periksa kehamilan, hingga persalinan, dan lain-lain. Rendahnya kualitas kesehatan perempuan diperparah adanya konstruksi budaya yang menempatkan kualitas kesehatan laki-laki dan suami jauh lebih penting daripada perempuan.

Penutup
Perempuan dalam konteks pembangunan daerah masih dalam kondisi yang belum memuaskan. Kenyataan ini ditunjukkan dengan rendahnya partisipasi, kontrol dan akses perempuan dalam berbagai bidang pembangunan serta sedikitnya perempuan yang memperoleh manfaat dari pambangunan. Oleh karena itu, momentum peringatan “Hari Ibu” tahun ini bisa kita manfaatkan untuk penguatan komitmen dan upaya yang lebih sungguh-sungguh dalam melaksanakan pembangunan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Pamekasan sehingga kualitas hidup perempuan dapat lebih ditingkatkan. Dengan demikian semangat dan cita-cita R.A. Kartini bisa dinikmati oleh perempuan Pamekasan sejalan dengan cita-cita mewujudkan Pamekasan Hebat. Semoga… (PAMEKASAN HEBAT)

Penulis merupakan ASN pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan. Tulisan ini sebagai refleksi peringatan Hari Ibu 22 Desember 2018.

Gebyar Batik Pamekasan Mulai Dilaunching Baddrut Tamam di Surabaya

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyampaikan sambutan dalam acara pameran batik “Gebyar Batik Pamekasan” di salah satu hotel di Surabaya, Sabtu (27/10/2018).

PAMEKASAN HEBAT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Jawa Timur memamerkan batik hasil kerajinan perajin batik tulis di wilayah itu di Surabaya, Sabtu (27/10/2018).

Pameran bertema “Gebyar Batik Pamekasan” yang digelar di salah satu hotel di Surabaya ini merupakan hasil kerja sama antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Pamekasan dengan Komunitas Batik Surabaya (Kibas).

Menurut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, pameran batik tulis ke luar daerah itu, sebagai bentuk komitmen Pemkab Pamekasan dalam upaya memajukan dan membantu masyarakat perajin batik memasarkan hasil kerajinan mereka.

“Melalui pameran ini, kita ingin Batik Pamekasan, ditransformasikan dengan mempromosikan, seperti kegiatan saat ini,” kata Baddrut.

Mantan anggota DPRD Jatim itu menjelaskan, bahwa batik tulis Pamekasan memiliki potensi bagus, dan oleh karenanya “Gebyar Batik Pamekasan” tersebut dilaksanakan untuk menumbuhkembangkan dan memperluas penjualan batik Pamekasan.

“Gebyar batik ini akan terus kita lakukan. Nanti, OPD-OPD harus memakai batik yang diproduksi oleh para perajin batik Pamekasan,” ujar bupati muda ini.

Baddrut Tamam juga menuturkan, bahwa dalam tiga hari kemarin, pihaknya telah wajibkan semua aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Pamekasan memakai warung dalam rangka Hari Santri Nasional.

“Dalam waktu dekat ini, ASN diwajibkan memakai baju tradisional Madura, dan membeli baju yang mereka pakai kepada perajin dan pedagang lokal Pamekasan,” ujar Baddrut.

Lounching “Gebyar Batik Pamekasan” oleh Bupati Pamekasan Baddrut Tamam didampingi budayawan Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirdjo dan penulis buku tentang batik Pamekasan.

Di Kabupaten Pamekasan ada sebanyak 28 sentra atau pusat kerajinan batik tulis yang tersebar di tujuh kecamatan dari 13 kecamatan yang ada di wilayah tersebut.

Perinciannya, di Kecamatan Pamekasan sebanyak lima sentra batik tulis, Kecamatan Proppo 12 sentra batik, Palengaan enam sentra, Waru satu sentra, Pegantenan dua sentra dan di Kecamatan Tlanakan sebanyak satu sentra batik.

Dari 28 sentra batik yang ada di Pamekasan dengan jumlah sekitar 1.200 unit usaha tersebut, mampu memproduksi sebanyak 309.000 lembar batik setiap tahun dengan taksiran nilai produksi sekitar Rp24 miliar.

Dalam kesempatan itu Bupai Pamekasan Baddrut Tamam juga menjelaskan, bahwa semua modil dinas di Pamekasan harus dibranding batik.

“Saat nyalon Pilkada Pamekasan kami bersama pak Raja’e juga memakai batik, karena kami memang berkepentingan agar promosi batik Pamekasan lebih gencar lagi, sehingga penjualan batik, akan lebih laris lagi,” katanya.

Pameran batik Pamekasan bersama Kibas di salah satu hotel di Surabaya itu, menjadi ajang pertunjukan batik dari berbagai kabupaten di Jawa Timur, seperti Malang, Probolinggo, Sidoarjo dan sejumlah kabupaten lain di Madura, seperti batik Bangkalan. (PAMEKASAN HEBAT)

Baddrut Tamam: Santri Harus Jadi Pemimpin Masa Depan Hebat

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat melepas JJS Sarungan yang digelar PCNU Pamekasan dalam rangka memeriahkan perngatan Hari Santri Nasional (HSN) di halaman Pendopo Pemkab Pamekasan, Jumat (26/10/2018)

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam berharap, peran kaum santri harus ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia kaum santri itu sendiri.

Santri diharapkan tidak hanya mengusai tentang ilmu agama, akan tetapi juga berbagai jenis ilmu sosial lainnya, sehingga santri benar-benar bisa menjadi harapan masa depan bangsa yang lebih baik.

“Di masa depan harus lahir pemimpin hebat, ekonom hebat, budayawan hebat dan arsitek hebat dari kalangan santri, sebagai upaya mewujudkan Pamekasan Hebat,” kata Bupati Baddrut Tamam, saat menyampaikan sambungan dalam acara JJS Sarungan yang digelar PCNU Pamekasan dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada 22 Oktober 2018.

Pamekasan Hebat” merupakan cita ideal yang hendak diwujudkan kepemimpinan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakilnya Raja’e sebagai bagian dari semangat untuk membangun tata kelola pemerintah yang baik, bersih, bermartabat berlandaskan nilai-nilai moral agama yang berkeadaban dan berpedaban berdasarkan kearifan lokal Pamekasan.

Menurut bupati, kualitas SDM dan dibekali dengan nilai-nilai moral keagamaan yang kuat, merupakan kombinasi potensi diri yang luar biasa, dan oleh karenanya ia mengajak kepada semua kaum santri agar kedepan mempersiapkan diri, sehingga santri tidak hanya menjadi objek modernisasi, akan tetapi menjadi subjek dari berbagai arah kebijakan yang berpihak kepada kepentingan umat dan masa depan bangsa yang lebih baik pula.

“Jangan berkecil hati, karena saya sebenarnya sangat bangga menjadi bagian dari santri,” ujar Baddrut Tamam.

Para santri, tokoh ulama dan masyarakat umum saat menghijuti JJS Sarungan di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Jumat (26/10/2018).

Sementara itu, guna memeriahkan perayaan Hari Santri Nasional (HSN) 2018, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan, Madura Jawa Timur menggelar acara Jalan Sehat Sarungan (JSS) Sarungan serta donor darah gratis di lapangan Pendopo Ronggosukowati, Jumat (26/10/2018).

JSS ini diikuti oleh ribuan santri serta masyarakat umum yang ada di Bumi Gerbang Salam.

“Alhamdulillah, JSS pagi ini di ikuti oleh ribuan santri serta masyarakat umum yang ada di Pamekasan. Semoga dengan terselenggaranya acara ini kita bisa diberikan manfaat oleh Allah SWT,” terang Ketua PCNU Pamekasan KH. Taufik Hasyim.

Ia menjelaskan tujuan dari terselenggaranya JJS Sarungan dan donor darah tersebut sebagian upaya untuk selalu mempererat tali silaturahmi antara warga Nahdiyin yang tersebar di Pamekasan.

“Indonesia ini adalah negara yang besar, mari kita jangan gampang diadu domba oleh orang-orang yang hanya ingin merongrong keutuhan NKRI kita,” ujar Kiai Taufik.

Acara ini juga diikuti oleh Forum Komunikasi Perangkat Daerah (Forkopimda) dan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan.

Beragam hadiah menarik dipersiapkan panitia penyelenggara dalam kegiatan itu, dengan hadiah utama berupa ibadah haji umroh gratis. (PAMEKASAN HEBAT)

Pemkab Pamekasan Pamerkan Batik Pamekasan di Surabaya

PAMEKASAN HEBAT – Pemkab Pamekasan memamerkan batik batik Pamekasan bertajuk “Gebyar Batik Pamekasan” yang akan digelar di Surabaya pada 27 Oktober 2018, yakni di Gedung Dyandra, Surabaya.

Menurut Bupati Pamekasan Badrut Tamam, kegiatan yang sudah diselenggarakan dua kali ini bisa memperkenalkan ke masyarakat luar akan pesona batik Pamekasan. Sebuah motif batik yang lain daripada yang lain.

Dengan adanya pameran ini, Baddrut mengaku, dirinya ingin menampilkan hasil kerajianan khas yang masih tradisional, karena proses pembuatannya masih mencanting, bukan menggunakan print maupun cap.

Bahkan, dalam dialog dengan wartawan di Kota Buaya itu, Baddrut menyatakan, dirinya berani menjamin jika kualitas batik khas Pamekasan tersebut jauh berbeda dengan daerah lain, meskipun dari Jawa Tengah dimana tempat asli yang dikenal kota Batik.

Ada lebih dari 400 macam batik dari 10 UMKM dari Pamekasan yang akan ikut kegiatan itu. Mereka berkolaborasi dengan desainer lokal untuk fashion show.

“Harapan saya kegiatan ini bisa mendobgkrak perekonomian masyarakat Pamekasan yang menjual batik khas. Selain itu batik Pamekasan ini bisa membumi dan menjadi ikon untuk bersaing dengan batik dari kota lain meskipun Pamekasan masih dalam proses sosialisasi ke publik. Salah satunya dengan kegiatan ini,” ungkap Badrut Tamam, seperti dilansir beritajatim.com, Kamis (25/10/2018).

Rencananya pameran batik yang diselenggarakan satu hari ini bukan hanya memamerkan koleksi batik khas Madura, nantinya akan ada fashion show yang akan dilakukan oleh bupati dan beberapa model lokal. Selain itu mereka juga akan menunjukkan makanan khas Pamekasan.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam telah menunjukkan komitmennya untuk membantu mempromosikan batik Pamekasan sejak yang bersangkutan menjadi calon bupati pada Pilkada Pamekasan 27 Juni 2018.

Baddrut bersama Roja’e sebagai wakilnya bupatinya, kala itu menggunakan seragam batik sebagai seragam pasangan calon bupati dan wakil Bupati Pamekasan. (PAMEKASAN HEBAT)

Pamekasan Masuk Daftar 100 Calender of Event Wisata Budaya

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat membuka acara “Music Daul Karinal” di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Minggu (21/10/2018) malam.

PAMEKASAN HEBAT – “Music Daul Carnival” menutup rangkaian kegiatan tahunan pertunjukan seni budaya lokal Madura bertajuk “Kemilau Madura 2018” di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (21/10/2018) malam.

Sebanyak 20 kelompok musik tradisional daul dari empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur, yakni Pamekasan, Sumenep, Sampang dan Kabupaten Bangkalan, ambil bagian dalam kegiatan itu.

Menurut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, selain untuk melestarikan seni dan budaya lokal Madura, “Music Daul Carnival” itu merupakan rangkaian dari kegiatan Hari Jadi Ke-488 Kabupaten Pamekasan.

“Melalui kegiatan ini, kami juga ingin menunjukkan kepada masyarakat di luar Madura, bahwa di Pulau Madura ini sebenarnya kaya akan seni budaya,” ujar Baddrut.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam bersama kelompok musik daul

Kegiatan tahunan “Kemilau Madura” ini digelar mulai 19 Oktober 2018 diawali dengan “fasion show” batik Madura, lalu kontes kecantikan sapi, pertunjukan seni budaya Madura bertajuk “Semalam di Madura”, karapan sapi dan ditutup dengan “Music Daul Carnival”.

Karnaval musik tradisional Madura ini, memukau para wisatawan manca negara yang hadir menyaksikan kegiatan itu.

Para pejabat dan tamu undangan dari berbagai kabupaten di Madura yang hadir mengenakan pakaian adat Madura, yakni pesak.

Menurut Baddrut Tamam, upaya melestarikan musik tradisional sebagai bagian dari kearifan lokal tanpa harus menghilangkan ruh-ruh ke-Islaman sebagai identitas Madura.

Ia juga berharap, karnaval musik daul itu tidak hanya menjadi tontonan menarik bagi masyarakat Madura secara umum dan Pamekasan secara khusus, akan tetapi juga bisa menjadi tuntunan.

“Sebagaimana alat musik tradisional walaupun berbeda-beda alat dan nadanya, akan tetapi ketika dikolaborasikan menjadi alunan irama yang sangat indah,” ujar Baddrut.

Begitu juga, sambung dia, dengan membangun Pamekasan dan Madura, harus saling padu, dan menyatu serta seirama, agar cita ideal Pamekasan Hebat segera terwujud.

“Music Daul Carnival” itu dimulai dari Monumen Arek Lancor, Pamekasan dan finis di perempatan Jalan Asem Manis yang berjarak sekitar 2 kilometer.

Akibat kegiatan itu, arus lalu lintas yang melalui kota Pamekasan terpaksa ditutup, sehingga kendaraan yang dari arah Sumenep dan hendak menuju Surabaya atau sebaliknya harus melalui ring road di Jalan Raya Pademawu, Pamekasan.

Kegiatan “Kemilau Madura” itu, sudah masuk dalam 100 kegiatan rutin tahunan yang menjadi destinasi wisata budaya di Indonesia. (PAMEKASAN HEBAT)

Lomba Foto Jadi Ajang Promosi Batik Pamekasan

Peserta lomba foto saat memotret kegiatan “Madura Eksotik Carnival 2018” di Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

PAMEKASAN HEBAT – Berbagai upaya promosi terus digencarkan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakilnya Raja’e untuk mempopulerkan batik Pamekasan, sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian para pengrajin dan pedagang batik di wilayah itu.

Selain melalui ajang festival batik melalui “Madura Eksotik Carnival 2018” juga melalui lomba foto pada kegiatan itu. Sedikitnya 51 fotografer ambil bagian dalam lomba bergengsi di Pamekasan tersebut.

“Sebab, hemat kami, upaya kreatif melalui kegiatan yang kreatif pula, akan lebih bernilai guna dan tepat guna, dan ini sudah terbukti di beberapa daerah di Jawa Timur. Jadi, kabupaten maju seperti Banyuangi, karena upaya yang dilakukan memang sangat kreatif dan kegiatan yang dilakukan juga sangat kreatif,” kata Bupati Pamekasan Baddrut Tamam kepada media.

Melalui lomba foto yang digelar komunitas fotografer Pamekasan, maka foto-foto tentang potensi Pamekasan yang ditampilkan pada event “Madura Eksotik Carnival 2018” akan tersebar luas di masyarakat, melalui media sosial yang dimiliki oleh para fotografer tersebut.

Juara Lomba
Sementara itu, tiga foto terbaik hasil karya fotografer dalam lomba foto Madura Eksotik Carnival mendapat penghargaan dari Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, dalam puncak acara Kemilau Madura 2018, Sabtu (20/10/2018) malam.

Lomba foto yang digelar Madura Photography Center (MPC) bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pamekasan merupakan rangkaian acara dalam rangka Hari Jadi ke-488 Kabupaten Pamekasan.

“Tujuan dari lomba ini ingin mengenalkan kembali agenda wisata Pamekasan, ke masyarakat luar, sehingga amanah dari Disparbud ini kita apresiasi bersama rekan-rekan MPC dalam lomba foto, targetnya se Jawa Timur ternyata ada juga peserta dari luar Jawa,” kata Ketua MPC Pamekasan Achmad Tatang.

Sebelum ditetap juara 1, 2 dan 3, dipilih 10 karya terbaik, dengan juri khusus Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, Juri 2 Achmad Tatang ketua MPC serta Juri 3 Saiful Bahri Jurnalis Foto senior Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

“Sebenarnya ada 10 besar, tapi 1 Karya didiskualifikasi karena melanggar aturan lomba, dan diluar dugaan dari 3 karya terbaik mendapat juara ada peserta dengan alamat dari Kalimantan, dan pak Bupati juga memilih langsung juaranya karena beliau juga fotografer profesional,” ujar Ketua Panitia lomba itu, Zaini.

Keluar sebagai Juara pertama, atas nama Khoirur Rohman (Pamekasan), Juara kedua Musemil Harianto (Kalimantan) dan Juara ketiga atas nama Yanto Laksono (Sumenep). Ketiga pemenang mendapat hadiah uang pembinaan total Rp6 Juta, marchandise serta sertifikat.

Selain lomba “on the spot” tersebut, Madura Photography Center (MPC) juga menggelar lomba foto Instagram, dengan objek sama yaitu acara Madura Eksotik Carnival di depan Pendopo Budaya Jalan Jokotole Pamekasan, berupa penampilan model mengenakan batik dipadukan dengan penampilan Sape Sono’.

Juara foto Instagram pemilik akun @muafi_id, @lalud_mahally dan @auliya_ds

Acara lomba foto tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Baddrut Tamam dan diharapkan kembali digelar dengan konsep berbeda.

“Sangat menarik karena foto akan banyak bercerita kepada khalayak akan terus abadi, saya berharap bisa diselenggarakan lebih baik dan saya siap mendukung MPC, sehingga saya bergairah lagi dengan fotografi,” Katanya sambil tersenyum saat menilai hasil foto peserta. (PAMEKASAN HEBAT)

Perpaduan Batik dan Sape Sono’ Sukses Hipnotis “Madura Eksotik Carnival 2018”

Perpaduan batik dan Sape Sono’ pada acara “Madura Eksotik Carnival 2018” yang digelar Pemkab Pamekasan dalam rangka mempromosikan batik tulis dan seni budaya tradisional guna menarik minat wisatawan berkunjung ke Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Event unik bertajuk “Madura Eksotik Carnival” sukses menghipnotis warga Kabupaten Pamekasan. Yang paling menyedot perhatian dari event yang dibuka langsung oleh Bupati Pamekasan, Baddrut Taman, adalah fashion show batik khas Pamekasan dengan Sape Sono’.

Bertempat di depan Pendopo Budaya Wabup Pamekasan, Jumat malam (19/10/2018), antusias tinggi ditunjukan warga Pamekasan untuk menyaksikan langsung pergelaran unik yang untuk kali pertama berlangsung tersebut.

Bupati Pamekasan Baddrut berharap ajang Madura Eksotik Carnival ini bisa menjadi event terbaik di Jawa Timur.

Bahkan, Badrut yakin jika “Madura Eksotik Carnival” nantinya bisa sejajar dengan “Jember Fashion Carnaval (JFC)” yang memang sudah dikenal seanterno nusantara bahkan dunia. Misi itulah yang ingin diwujudkan Badrut dengan adanya event Madura Eksotik Carnival kali ini.

“Kami ingin mengeksploitasi semua potensi yang dimiliki oleh Pamekasan. Ada Sape Sono, ada batik khas Pamekasan, ada saronin, dan beberapa hal lain yang kami miliki. Setelah kami kaji, kami analisa, kami yakin bahwa sesuatu yang dimiliki Pamekasan akan lebih hebat dari kabupaten-kabupaten lain di Jawa Timur. Acara ini kami rangkai agar menjadi bagian dari cara kami mempromosikan Pamekasan,” lanjutnya bupati muda itu.

Putri-putri batik Pamekasan saat memperagakan batik Pamekasan pada acara “Madura Eksotik Carnival 2018” di depan Pendopo Budaya Wabup Pamekasan, Jumat (19/10/2018).

Dalam “Madura Eksotik Carnival” tahun ini, yang paling ditonjolkan memang perpaduan antara fashion show batik khas Pamekasan dengan Sape Sono’. Yang unik dari Sape Sono, sapi yang disiapkan untuk carnival ini bisa berjalan dengan sangat anggun seperti tak mau kalah dengan para model yang memperagakan batik khas Pamekasan.

Badrut berharap, dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dalam memajukan pariwisata di Pamekasan. Apalagi dirinya menilai, banyak sekali seni dan budaya khas Pamekasan yang bisa dijadikan destinasi wisata baru di Jawa Timur khususnya Pamekasan.

“Kami ingin presentasi tentang beberapa potensi yang kami miliki. Bersyukur kalau bisa bekerjasama dengen Kemenpar untuk mendorong Pamekasan yang kami cintai ini bisa menjadi kabupaten yang menyenangkan untuk semuanya,” papar Baddrut.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam didampingi Wakil Bupati Pamekasan Raja’e saat memperkenal batik tulis hasil kerajinan warga Pamekasan pada tamu perwakilan negara-negara sabatan pada rangkaian acara “Kemilau Madura” di Pendopo Ronggosukowati Pamekasan.

Apresiasi pergelaran “Madura Eksotik Carnival” ini juga disampaikan Kordinator Top 100 Calender of Event (CoE), I Gusti Ngurah Putra, yang juga ikut membuka ajang tersebut.

Ngurah Putra menilai, Madura Eksotik Carnival bisa dibilang sebagai ikon utama dari pergelaran Kemilau Madura 2018.

“Bisa dibilang ikonnya malam ini. Karena ini keunikannya. Kalau dibandingkan carnival-carnival lain di berbagai tempat, ini mungkin tidak ada yang menyaingi. Karena ada kombinasi antara Sape Sono dengan batik. Apalagi batiknya juga lebih banyak ditonjolkan disini,” papar Ngurah. (PAMEKASAN HEBAT)

Ketika Yang Muda Membangun Kepemimpinan Tak Berjarak

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakil Bupati Pamekasan Raja’e saat makan di warung nasi jagung Sederhana di Jalan Pintu Gerbang, Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Menjadi pejabat publik, terkadang jadi pembatas bagi sebagian orang untuk bergaul dengan orang kebanyakan, apalagi pemimpin di sebuah daerah. Tapi tidak demikian dengan pasangan bupati dan wakil bupati muda Pamekasan ini, Baddrut Tamam dan Raja’e.

Prinsip bahwa jabatan merupakan amanah, alat perjuangan dan pengabdian, dengan jargon “sataretanan ben tak notop parembheken” sebagaimana sering dilontarkan selama ini, nampaknya memang menjadi komitmen pasangan pemimpin muda Pamekasan ini. Bahkan empat hari setelah dilantik sebagai Bupati Pamekasan dan Wakil Bupati Pamekasan untuk periode 2018-2023, yakni pada 28 September 2018, keduanya langsung “berbaur“, menyempatkan diri makan di warung nasi jagung sederhana di Jalan Pintu Gerbang, Pamekasan.

Bagi bupati, mungkin baru pertama kali, tapi Wakil Bupati Raja’e, warung nasi jagung Sederhana “Bu Ummi” demikian panggilan akrab perempuan paruh baya ini, sudah biasa sejak ia menjadi aktivis di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan.

Suasanya riang, dan penuh canda tawa mewarnai suasana warung “Bu Ummi” siang itu. Bangga dan haru serasa bercampur aduk. Betapa tidak? Raja’e yang dulu sering makan diwarungnya sebagai mahasiswa dan Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan, kini datang dengan status berbeda, yakni sebagai Wakil Bupati Pamekasan, bahkan ia datang bersama sang Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang juga merupakan mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur.

Sejak purna tugas sebagai Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan, Raja’e memang jarang ke warung “nasi jagung perjuangan” itu. Maklum, ia menetap di Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, dan menjadi kepala desa. Hanya saat berkunjung ke rumah keluarganya di Pamekasan, Raja’e mampir ke warung itu. “Mun entar ka kota, pakkun nyepper nikah pak bupati,” ucap Bu Ummi kepada Baddrut Tamam.

Dalam pandangan Bu Ummi, Wabup Raja’e memang dinilai berjasa ikut mempromosikan dagangan nasi jagungnya. Saat menjadi Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan, teman-temannya banyak dibawa ke warung itu, dan hingga saat ini tetap menjadi pelanggan setianya. Nama Ali Masykur yang saat ini menjabat sekretaris PPP Pamekasan, Matnin yang kini menjadi dosen IAI Al-Khairat, dan reporter Radio Karimata FM Rafiqi Tanziel, serta Fauzi yang saat ini mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Pamekasan, merupakan sebagian teman-temannya semasa kuliah dan di HMI Pamekasan yang diperkenalkan Raja’e ke warung Bu Ummi.

Bupati Pamekasan memperbaiki posisi mic saat Ketua PWRI Pamekasan menyampaikan sambutan

Kunjungan Wabup Raja’e yang mengajak Bupati Baddrut Tamam ke warung nasi jagung Bu Ummi kala itu, bisa jadi, untuk mengenang masa-masa silam saat ia menjadi mahasiswa. Tapi, sejatinya, kunjungan itu, sebagai bentuk komitmen dari keduanya, yang menjadikan jabatan sebagai wasilah perjuangan.

Baddrut dan Raja’e berupaya mengubah cara pandang, bahwa pejabat adalah penguasa, menjadi pelayan. Pola kepemimpinan merakyat dan tak berjarak, menghormati yang tua, serta menyayangi yang muda, dengan tetap membangun membuka ruang kritik yang konstruktif terus dilakukan.

“Sebab, cita ideal ‘Pamekasan Hebat’ ini akan terwujud, apabila semuanya terlibat dalam pembangunan di Pamekasan ini, dan punya rasa memiliki terhadap kabupaten yang kita cintai ini,” ujar Baddrut Tamam.

Salam, senyum dan sapa, menurut dia, harus menjadi tradisi di semua sektor pelayanan publik di lingkungan Pemkab Pamekasan, karena sopan santun merupakan ruh dan spirit akan terwujudnya pelayanan yang prima, disamping memang menjadi nilai moral agama. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Pamekasan: HSN Bisa Jadi Momentum Mendewasan Diri Berpolitik

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Kabupaten Pamekasan Baddrut Tamam mengatakan, Hari Santri Nasional (HSN) bisa dijadikan momentum untuk mendewasakan diri dalam berpolitik.

“HSN ini mengingatkan kita pada perjuangan Nabi Muhammad SAW yang jejaknya diikuti oleh para santri. Salah satunya adalah kedewasaan dalam berpolitik dan kesalehan dalam karakter kepemimpinan Rasulullah,” terang Ra Baddrut.

Hal tersebut disampaikan Bupati Pamekasan yang juga A’wan PWNU Jawa Timur pada acara pembukaan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Lantai II Aula PCNU Pamekasan, Senin (15/10/2018).

Menurutnya, perjuangan Rasulullah SAW, di samping menguatkan keyakinan spiritual, juga menunjukkan akhlak mulia dalam menciptakan kedamaian di muka bumi. Setidaknya itu diwujudkan saat membangun Madinah yang damai dan sejahtera.

“Dengan meneladani sikap dan kepribadian Rasulullah dalam menciptakan masyarakat Madinah tersebut, wajib kita wujudkan juga di Kabupaten Pamekasan yang kita cintai ini,” ujar mantan Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim tersebut.

Dikatakan, perbedaan pilihan berpolitik misalnya, harus diwujudkan dengan kedewasaan berpolitik yang penuh cinta dan damai. Apapun pilihan politiknya, mesti selalu dijalani dengan proses politik penuh persaudaraan dan kedamaian. Sehingga, tatanan kehidupan masyarakat Pamekasan yang damai ini tetap kondusif dan menyejahterakan.

“Untuk itu, sebagai masyarakat santri, marilah siapkan diri kita baik dalam kesehatan mental-spiritual, fisik, dan sosial. Karena dalam membangun bangsa ini tidak dapat dihindarkan dari prinsip spiritual dan kondisi sosial,” urainya.

Dalam pandangan Ra Baddrut, tugas ke depan adalah meneruskan jejak perjuangan santri untuk menciptakan kehidupan berbangsa yang adil, makmur, dan bermartabat. Khususnya dalam pengelolaan mental-spiritual bangsa di masa yang akan datang.

“Karena itu, saya menyambut baik pembukaan dan pelaksanaan Hari Santri Nasional (HSN). Peringatan HSN merupakan sebuah upaya penguatan spiritual umat Islam dengan meneguhkan karakter keislaman sebagaimana diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, semoga kita bisa meneladaninya,” tegasnya.

Ditambahkan, Rasulullah di samping sebagai pemimpin spiritual, juga pemimpin negara yang mampu bersikap adil kepada semua rakyatnya, baik yang memiliki keyakinan yang sama maupun yang beda keyakinan dengannya. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam Buka Muskab PWRI

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan, Madura Jawa Timur, Baddrut Tamam membuka Musyawarah Kabupaten (Muskab) Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Pamekasan di Balai Rejo Resto Jl. Niaga, Selasa (16/10/2018).

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam. “Ra Baddrut” sapaan akrab bupati muda ini menjelaskan, PWRI adalah organisasi yang menghimpun, membina memperdayakan pensiunan-pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), pusat dan daerah, karyawan BUMN dan BUMD, pejabat negara dan mantan perangkat pemerintahan.

“Pemerintah Kabupaten Pamekasan telah berkomitmen untuk senantiasa memperhatikan dan memperdayakan berbagai organisasi tersebut, termasuk PWRI dalam rangka mewujudkan masyarakat Pamekasan yang sehat, sejahtera, Rajjha, Bhajjhra, tor Parjugha,” katanya.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam

Bupati muda ini menyatakan, komitmen tersebut telah mengantarkan PWRI berhasil mendapatkan penghargaan Ksatria Bhakti Husada. Karena perhatian pemerintah terhadap kesehatan dan para lansia yang sebagian besar tergabung dalam PWRI.

“Keberhasilan yang pernah kita raih ini dibidang kesehatan dan perhatian terhadap lansia akan terus kita pertahankan. Tentu saja upaya-upaya kearah pencapaian cita ideal ini perlu dukungan dan partisipasi dukungan seluruh masyarakat, komponen Pemerintahan dan stakholder pembangunan sebagai mitra strategis diantaranya PWRI,” kata Bupati Baddrut Tamam.

Musyawarah PWRI (MUSKAB) PWRI Kabupaten Pamekasan itu bertema “Dengan Semangat Muskab PWRI 2018 PWRI tetap Exis dan Mantap Melalui Berbagai Program Prioritas demi Mewujudkan Peningkatan Kualitas Pengabdian Anggota PWRI kepada masyarakat di Kabupaten Pamekasan”.

Bupati yang baru dilantik 24 September 2018 lalu tersebut berharap bimbingan dan arahan dari para pensiunan yang tergabung di PWRI.

“Saya ini masih muda, ajunan semua adalah orang tua kami, mohon dukungan, arahan, doa dan ide pemikirannya untuk menjadikan Pamekasan lima tahun kedepan Rajjha, Bhajjra tor Parjhuga,” ujar bupati.

“Saya atas nama Bupati Pamekasan, hari ini secara resmi membuka Musyawarah PWRI Pamekasan,” katanya, sekaligus membuka acara itu. (PAMEKASAN HEBAT)