Arsip Kategori: Seni Budaya

Lirik Lagu “Pamekasan Hebat”

Ngèrèng taretan a rèng sarèng
Teguh saling menjalin asa
Rukun dan sayangi sesama
Pamekasan damai aman sentosa

Ngèrèng taretan a rèng sarèng
Bersatu jalin silaturahmi
Perkuat saudara antar umat
Berbaur pamekasan hebat

Reff
Eee… Yaa… Eee…
Dhàddhià kembhàng saghàrà
Eee… Yaa… Eee…
Berbaur satu tekad
Pamekasan hebat
Rajjhà bhàjjhrà tor parjhughà

Ngèrèng taretan a rèng sarèng
Bersama bangun desa mandiri
Istiqomah berdoa berusaha
Pamekasan makmur sejahtera

Ngèrèng taretan a rèng sarèng
Mengabdi demi bumi pertiwi
Padukan tekad dan semangat
Menuju pamekasan hebat
Back to Reff

RAP
Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan dan pengorbanan

Ngèrèng dhà’ sadhàja amojhi mandhàr salameddhà

Tetaplah istiqomah berdoa berusaha

Rukun Sayangi tetangga seperti saudara

Bersama berjabat tangan satu dalam tekat

Kita berbaur menuju pamekasan hebat…

Back to Reff 2X

Seniman Pamekasan Terima Undangan Pentas di Jerman

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menerima buku hasil karya seniman Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Seniman Pamekasan pada tahun 2019 ini menerima undangan untuk pentas di Jerman dan beberapa negara ASEAN, kata Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menyampaikan sambutan dalam acara Koloman Budaya di Pendopo Ronggosukowati, Jumat (11/1/2019) malam.

“Undangan ke Jerman ini sudah kami terima beberapa hari lalu, dan ada beberapa jenis kegiatan yang rencananya akan menampilkan kesenian kita ini,” kata Baddrut Tamam.

Undangan dari Jerman itu disampaikan melalui Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Intinya seniman Pamekasan diminta untuk mementaskan seni budaya tradisional Madura di negara itu.

Selain Jerman, undangan pentas seni budaya tradisional Madura juga disampaikan sejumlah negara ASEAN. Salah satunya Vietnam. [Baca Juga: Baddrut Tamam Nyatakan Kesenian Tak Bertentangan dengan Islam]

Bupati menjelaskan, dirinya telah menyampaikan kepada komunitas seni dan budaya di Kabupaten Pamekasan tentang undangan pentas seni dan budaya tradisonal Madura di luar negeri itu pada acara Kolom Budaya yang digelar di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, Jumat (11/1) malam.

“Kami juga telah meminta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Dewan Kesenian untuk mempersiapkan pementasan di luar negeri itu,” ujar Baddrut.

Ia menjelaskan Jerman dan sejumlah negara ASEAN tertarik mengundang seniman dan budayawan Pamekasan karena seni dan budaya tradisional Pamekasan memang telah dikenal lama.

Apalagi, Pamekasan memang menjadi sasaran Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI), yakni program pertukaran pelajar untuk mempelajari seni dan budaya tradisional.

“Jadi, kesenian dan kebudayaan tradisonal kita sebenarnya sangat dikagumi oleh negara luar sehingga mereka mau mengundang kita untuk pentas di sana,” kata bupati. [Baca Juga: Demonstrasi Tanpa Spasi]

Sejumlah kesenian tradisional yang mulai dikenal masyarakat internasional antara lain musik tradisional daul, tari topeng getha’, tari rondhing, karapan sapi dan kontes kecantikan sapi (sapi sono).

Musik tradisional daul adalah musik jalanan yang awalnya dimainkan oleh warga Madura untuk melakukan patroli dan menjaga keamanan lingkungan. Jenis musik ini mulai populer saat Madura mengalami pemadaman aliran listrik dalam waktu yang cukup lama pada sekitar tahun 1990-an. [Baca Juga: Penghargaan Sebagai Penerima HAM Harus Jadi Pemacu Lebih Baik]

Tari Topeng Getha’ adalah jenis seni tari dengan iringan musik saronen dan penarinya menggunakan topeng. Tari Rondhing adalah jenis seni tari yang mengisahkan perjuangan rakyat Madura dalam mengusir penjajah dari Bumi Madura.

Sedangkan karapan sapi merupakan kontes pacuan, atau adu cepat lari pasangan sapi. Karapan Sapi biasa digelar rakyat Madura, pascamusim panen tembakau.

Kontes kecantikan sapi adalah festival adu cantik pasangan sapi, dan seni tradisonal jenis ini, berasal dari Kabupaten Pamekasan.

“Jadi, kita ini sebenarnya kaya akan seni dan budaya tradisional dan kesenian yang kita miliki justru dikagumi oleh masyarakat luar negeri. Makanya, kita harus bangga dengan warisan seni budaya peninggalan para leluhur kita dengan cara melestarikannya,” ujar Bupati Pamekasan Baddrut Tamam. (PAMEKASAN HEBAT)

Bupati Baddrut Tamam Nyatakan Kesenian Tak Bertentangan dengan Islam

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menerima lukisan dari seniman Pamekasan di acara Koloman Budaya yang digelar Sivitas Koteka Pamekasan di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, Jumat (11/1/2019) malam.

PAMEKASAN HEBAT – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyatakan, agama Islam di Indonesia tersiar ke berbagai daerah melalui seni budaya, sehingga kesenian dan kebudayaan sejatinya tidak bertentangan dengan ajaran agama. Malah, kesenian bikin hidup menjadi lebih hidup.

“Karena ada rasa, karsa dan cipta dalam seni dan budaya,” kata Baddrut Tamam saat menyampaikan sambutan dalam acara koloman budaya bertema “Tor-Catoran Masa Depan Kebudayaan dan Kesenian di Pamekasan” yang digelar civitas Koteka di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, Jumat (11/1/2019) malam.

Oleh karenanya, sambung “RBT” sapaan karib Baddrut Tamam itu, dirinya mengajak kalangan seniman dan budayawan di Pamekasan bisa menghidupkan kembali kesenian di Kabupaten Pamekasan itu.

Ia menjelaskan, Pemkab Pamekasan berencana akan memberikan wadah khusus kepada kalangan seniman dan budayawan di Pamekasan untuk berekspresi, menyalurkan bakat seninya melalui gedung kesenian.

“Rencananya, akan kita bangun di Taman Kowel, Pamekasan. Jadi disana nanti, kalangan seniman dan budayakan Pamekasan bisa menyalurkan bakat seni mereka,” ujar Baddrut.

Foto bersama Bupati Baddrut Tamam dengan pagiat seni budaya di Kabupaten Pamekasan.

Mantan anggota DPRD Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini lebih lanjut menjelaskan, sementara ini memang ada yang menganggap bahwa kesenian bertentangan dengan agama.

Padahal, jika merujuk kepada sejarah pemkembangan Islam di Nusantara yang dibawa oleh para wali, agama Islam justru menyebar melalui kesenian.

“Tentunya seni yang dipraktikkan oleh para dai terdahulu adalah seni yang memperhatikan kearifan lokal, memperhatikan kepantasan dan kesopanan,” katanya.

“E atoreh ajunan berkesenian disini. Ayo kita bangga dengan kesenian yang kita miliki,” katanya, menambahkan.

Acara koloman budaya yang digelar komunitas seniman dan budayawan Pamekasan oleh Civitas Koteka bertema “Tor-Catoran Masa Depan Kebudayaan dan Kesenian di Pamekasan” itu menghadirkan beberapa orang narasumber sebagai pembicara.

Masing-masing Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Pamekasan RKH Wazirul Jihad, Ketua Dewan Kesenian Pamekasan KH Makmun Tamim, Halifaturrahman dan Soni Budiarto dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparibud) Pamekasan, Kosala Mahinda dari Vihara Avalokitesvara, serta Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menerima buku hasil karya seniman Pamekasan.

Sebelum diskusi berlangsung, terlebih dahulu ditampilkan pembacaan puisi oleh perwakilan seniman dan budayawan dari sejumlah komunitas seni dan teater se-Kabupaten Pamekasan.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam juga turut membacakan puisi berjudul “Madura, Akulah Darahmu” karya budayawan Madura asal Kabupaten Sumenep, D Zawawi Imron.

Bersama para musisi, Bupati Baddrut Tamam juga menyanyikan bebera lagu Iwan Fals, antara lain lagu berjudul “Ibu” dan penampilan bupati muda mampu mempesona hadirin yang datang ke kolom budaya di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan itu. (PAMEKASAN HEBAT)

Pamekasan Masuk Daftar 100 Calender of Event Wisata Budaya

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat membuka acara “Music Daul Karinal” di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Minggu (21/10/2018) malam.

PAMEKASAN HEBAT – “Music Daul Carnival” menutup rangkaian kegiatan tahunan pertunjukan seni budaya lokal Madura bertajuk “Kemilau Madura 2018” di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (21/10/2018) malam.

Sebanyak 20 kelompok musik tradisional daul dari empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur, yakni Pamekasan, Sumenep, Sampang dan Kabupaten Bangkalan, ambil bagian dalam kegiatan itu.

Menurut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, selain untuk melestarikan seni dan budaya lokal Madura, “Music Daul Carnival” itu merupakan rangkaian dari kegiatan Hari Jadi Ke-488 Kabupaten Pamekasan.

“Melalui kegiatan ini, kami juga ingin menunjukkan kepada masyarakat di luar Madura, bahwa di Pulau Madura ini sebenarnya kaya akan seni budaya,” ujar Baddrut.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam bersama kelompok musik daul

Kegiatan tahunan “Kemilau Madura” ini digelar mulai 19 Oktober 2018 diawali dengan “fasion show” batik Madura, lalu kontes kecantikan sapi, pertunjukan seni budaya Madura bertajuk “Semalam di Madura”, karapan sapi dan ditutup dengan “Music Daul Carnival”.

Karnaval musik tradisional Madura ini, memukau para wisatawan manca negara yang hadir menyaksikan kegiatan itu.

Para pejabat dan tamu undangan dari berbagai kabupaten di Madura yang hadir mengenakan pakaian adat Madura, yakni pesak.

Menurut Baddrut Tamam, upaya melestarikan musik tradisional sebagai bagian dari kearifan lokal tanpa harus menghilangkan ruh-ruh ke-Islaman sebagai identitas Madura.

Ia juga berharap, karnaval musik daul itu tidak hanya menjadi tontonan menarik bagi masyarakat Madura secara umum dan Pamekasan secara khusus, akan tetapi juga bisa menjadi tuntunan.

“Sebagaimana alat musik tradisional walaupun berbeda-beda alat dan nadanya, akan tetapi ketika dikolaborasikan menjadi alunan irama yang sangat indah,” ujar Baddrut.

Begitu juga, sambung dia, dengan membangun Pamekasan dan Madura, harus saling padu, dan menyatu serta seirama, agar cita ideal Pamekasan Hebat segera terwujud.

“Music Daul Carnival” itu dimulai dari Monumen Arek Lancor, Pamekasan dan finis di perempatan Jalan Asem Manis yang berjarak sekitar 2 kilometer.

Akibat kegiatan itu, arus lalu lintas yang melalui kota Pamekasan terpaksa ditutup, sehingga kendaraan yang dari arah Sumenep dan hendak menuju Surabaya atau sebaliknya harus melalui ring road di Jalan Raya Pademawu, Pamekasan.

Kegiatan “Kemilau Madura” itu, sudah masuk dalam 100 kegiatan rutin tahunan yang menjadi destinasi wisata budaya di Indonesia. (PAMEKASAN HEBAT)

Perpaduan Batik dan Sape Sono’ Sukses Hipnotis “Madura Eksotik Carnival 2018”

Perpaduan batik dan Sape Sono’ pada acara “Madura Eksotik Carnival 2018” yang digelar Pemkab Pamekasan dalam rangka mempromosikan batik tulis dan seni budaya tradisional guna menarik minat wisatawan berkunjung ke Pamekasan.

PAMEKASAN HEBAT – Event unik bertajuk “Madura Eksotik Carnival” sukses menghipnotis warga Kabupaten Pamekasan. Yang paling menyedot perhatian dari event yang dibuka langsung oleh Bupati Pamekasan, Baddrut Taman, adalah fashion show batik khas Pamekasan dengan Sape Sono’.

Bertempat di depan Pendopo Budaya Wabup Pamekasan, Jumat malam (19/10/2018), antusias tinggi ditunjukan warga Pamekasan untuk menyaksikan langsung pergelaran unik yang untuk kali pertama berlangsung tersebut.

Bupati Pamekasan Baddrut berharap ajang Madura Eksotik Carnival ini bisa menjadi event terbaik di Jawa Timur.

Bahkan, Badrut yakin jika “Madura Eksotik Carnival” nantinya bisa sejajar dengan “Jember Fashion Carnaval (JFC)” yang memang sudah dikenal seanterno nusantara bahkan dunia. Misi itulah yang ingin diwujudkan Badrut dengan adanya event Madura Eksotik Carnival kali ini.

“Kami ingin mengeksploitasi semua potensi yang dimiliki oleh Pamekasan. Ada Sape Sono, ada batik khas Pamekasan, ada saronin, dan beberapa hal lain yang kami miliki. Setelah kami kaji, kami analisa, kami yakin bahwa sesuatu yang dimiliki Pamekasan akan lebih hebat dari kabupaten-kabupaten lain di Jawa Timur. Acara ini kami rangkai agar menjadi bagian dari cara kami mempromosikan Pamekasan,” lanjutnya bupati muda itu.

Putri-putri batik Pamekasan saat memperagakan batik Pamekasan pada acara “Madura Eksotik Carnival 2018” di depan Pendopo Budaya Wabup Pamekasan, Jumat (19/10/2018).

Dalam “Madura Eksotik Carnival” tahun ini, yang paling ditonjolkan memang perpaduan antara fashion show batik khas Pamekasan dengan Sape Sono’. Yang unik dari Sape Sono, sapi yang disiapkan untuk carnival ini bisa berjalan dengan sangat anggun seperti tak mau kalah dengan para model yang memperagakan batik khas Pamekasan.

Badrut berharap, dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dalam memajukan pariwisata di Pamekasan. Apalagi dirinya menilai, banyak sekali seni dan budaya khas Pamekasan yang bisa dijadikan destinasi wisata baru di Jawa Timur khususnya Pamekasan.

“Kami ingin presentasi tentang beberapa potensi yang kami miliki. Bersyukur kalau bisa bekerjasama dengen Kemenpar untuk mendorong Pamekasan yang kami cintai ini bisa menjadi kabupaten yang menyenangkan untuk semuanya,” papar Baddrut.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam didampingi Wakil Bupati Pamekasan Raja’e saat memperkenal batik tulis hasil kerajinan warga Pamekasan pada tamu perwakilan negara-negara sabatan pada rangkaian acara “Kemilau Madura” di Pendopo Ronggosukowati Pamekasan.

Apresiasi pergelaran “Madura Eksotik Carnival” ini juga disampaikan Kordinator Top 100 Calender of Event (CoE), I Gusti Ngurah Putra, yang juga ikut membuka ajang tersebut.

Ngurah Putra menilai, Madura Eksotik Carnival bisa dibilang sebagai ikon utama dari pergelaran Kemilau Madura 2018.

“Bisa dibilang ikonnya malam ini. Karena ini keunikannya. Kalau dibandingkan carnival-carnival lain di berbagai tempat, ini mungkin tidak ada yang menyaingi. Karena ada kombinasi antara Sape Sono dengan batik. Apalagi batiknya juga lebih banyak ditonjolkan disini,” papar Ngurah. (PAMEKASAN HEBAT)

Pamekasan Kampanyekan Cinta Budaya Melalui Pekan Budaya Madura

PAMEKASAN HEBAT – Pemkab Pamekasan mengkampanyekan cinta budaya Madura kepada masyarakat di Kabupaten Pamekasan melalui kegiatan “Pekan Budaya Madura” yang akan berlangsung mulai tanggal tanggal 20 Oktober hingga 3 November 2018.

Selain untuk menanamkan rasa cinta pada budaya Madura, “Pekan Budaya Madura” yang digelar Pemkab Pamekasan itu juga dimaksudkan untuk merayakan Hari Jadi Ke-488 Kabupaten Pamekasan.

Pada “Pekan Budaya Madura” ini, Bupati Pamekasan menginstruksikan kepada masing-masing aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Pamekasan untuk menggunakan pakaian tradisional Madura.

Sesuai dengan Surat Edaran Bupati Nomor: 003/347/432.012/2018 tertanggal 5 Oktober 2018 yang ditujukan kepada kepala dinas, kepala badan, camat, lurah, kepala desa, pimpinan BUMN dan BUMD, serta para kepala sekolah se-Kabupaten Pamekasan dijelaskan, tentang tiga hal.

Pada 29 hingga 30 Oktober diinstruksikan agar memakai baju bangsawan Madura, dan pada 31 Oktober hingga 1 November agar memakai baju tradisional Madura, yakni baju pesa’ dan pada tanggal 2 hingga 3 November 2018 memakai baju batik Madura.

Pekan Budaya Madura ini juga sebagai ajang promosi dan pengenalan budaya Madura kepada generasi muda di Madura secara umum, dan Pamekasan secara khusus. (PAMEKASAN HEBAT)